Berbicara masa SMA maka akan teringat akan masa-masa yang paling indah, penuh suka-cita, penuh imajinasi, dan pastinya penuh tantangan. Setiap orang yang melaluinya, akan tersenyum atau mungkin merenung ketika membuka kembali lembaran-lembaran kisah semasa putih abu-abu dulu. Yah begitulah masa SMA. Masa di mana emosi seseorang labil, masa mencari jati diri, masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa.
Aku yang kini telah menanggalkan seragam putih abu-abu tak bosannya mengenang kembali kisah yang sangat bersejarah dalam hidupku, yang tentunya sulit aku temukan kembali selain saat SMA dulu. Yah bagaimana tidak, saat itulah pertama kalinya aku merasakan getar-getar cinta, perasaan yang membuatku selalu rindu dengan sekolah, perasaan yang selalu menahanku untuk tinggal setelah bel pulang berdering.
Perasaan ini sebenarnya telah dirasakan terlebih dahulu oleh kakakku, saat itu aku masih duduk di SMP. Tampak jelas perubahan pada diri kakakku, perubahan yang tidak menunjukkan dirinya yang dulu, sering pulang telat, pakaian yang tampak lebih rapi, dan terpenting ibadahnya semakin meningkat. Kanapa yah???
Akhirnya ku temukan jawaban saat aku mengalaminya sendiri. Awalnya saat pertama kalinya aku masuk dalam salah satu organisasi di sekolahku. Meskipun anggotanya sedikit, yah wajarlah organisasi ini peminatnya memang tiap tahun sedikit jika dibandingkan dengan organisasi yang lain, apalagi sekolahku yang latar belakang siswanya (hmm… gimana yah???) tapi aku sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari yang sedikit tersebut.
Saat masih kelas X (kelas 1 –red) aku kurang begitu meminati organisasi, apalagi peringkatku yang lumayan sehingga terkadang menyita banyak waktu untuk belajar dan mengerjakan tugas. Tapi singkat cerita ssat naik kelas XI aku di amanahkan sebagai ketua dari organisasi tersebut, dan dari sinilah awal perasaan ini muncul. Banyak teman dengan penuh karakter, pengalaman kegiatan hingga bekerja sama dengan siswa SMA lain yang terjun dalam organisasi yang sama, bahkan tidak menurunkan nilai akademikku malahan prestasiku semakin meningkat. Di sinilah aku mulai menemukan banyak perubahan.
ROHIS (kerohanian Islam) adalah organisasi yang menjadi satu-satunya yang ku masuki sampai aku menamatkan studiku di SMA. Di tempat inilah pertama kalinya aku merasakan manisnya hidayah Allah. Bukan Cuma aku, tapi juga teman-teman yang lainnya. Setiap istirahat, saat teman-temanku yang lain sibuk dengan makanan dan canda tawanya, kami (anak rohis –red) menghabiskan waktu luang itu berkumpul di masjid, ada saja yang kami lakukan dan Insya Allah bermanfaaat, aku masih ingat prinsip jama’ah saat itu “isi waktu dhuha kalian dengan kegiatan bermanfaat” itulah yang kemudian mendorong kami merasa terpanggil untuk duduk di rumah Allah di sekolah kami setiap istirahatnya. Waktu istirahat belum cukup, pulang sekolahpun jadi waktu yang tepat untuk kami berkumpul kembali mangambil manfaat satu sama lainnya, mungkin inilah dulu mengapa kakakku sering telat pulang.
ROHIS… di sinilah pertama kali perasaan ini muncul, perasaan yang selalu menarik semangatku sekolah, perasaan yang selalu menahanku untuk cepat pulang, perasaan yang akhirnya ku mengerti lebih dari sekedar cinta semu alias pacaran ala siswa SMA. Di sinilah aku dipertemukan dengan saudara-saudaraku fillah untuk bersama bermusyawarah, bermulazamah, saling mengambil manfaat akhirnya menimbulkan perasaan cinta. Di sinilah kami dibawa untuk bekerja menyampaikan agama Allah –setidaknya- di sekolah kami. Sungguh kenangan yang begitu manis. Semoga perasaan ini yang dimaksudkan oleh Rasulullah dalam sabdanya bahwa salah satu dari tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah di bawah naungan-Nya, yaitu dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah…
Akan ada sambutan hangat yang diiringi jabatan tangan saat perjumpaanku dengan mereka saudaraku. Akan ada senyuman yang menyertainya, saling menasihati dalam setiap kesempatan, terkadang canda tawa juga ikut meramaikan, dan kesusahan dirasakan bersama. Meskipun ku akui terkadang ada kesalahpahaman antara kami, namun kata maaf akan senantiasa ikut bersama. Sungguh ku merasakan persaudaraan yang hangat.
Saat yang paling mengasyikkan adalah saat kami berkumpul bermajelis bersama. Masya Allah… bahagianya… waktu itu aku masih ingat, aku dan beberapa temanku belum mempunyai kendaraan pribadi sementara yang lainnya sudah punya, tapi untuk berangkat ke tempat tarbiyah yang lain rela bahkan dengan senang hati berjalan kaki bersama kami yang tidak memiliki kendaraan.
Kini aku telah melanjutkan studi dan kami semua terpisah berbeda universitas, jaraknya memang cukup jauh, dank u akui komunikasi sangat jarang, jarang sekali disebabkan kesibukan masing-masing yang berbeda. Aku tidak tahu bagaimana kondisi mereka sekarang, namun ku tetap berdoa semoga kami tetap istiqomah meskipun berbeda tempat belajar. Saudaraku… ana uhibbukumfillah…


Senin, Juni 21, 2010
Abu 'Abdillah
Posted in: 
3 komentar:
mantap tawwa kakak...
:-)
curhat ni yee... :D :D :D
mengingat kembali kenangan indah irmadam
:)
Posting Komentar