Ketika Dunia Menjadi Tujuan

Hidup ibarat roda yang terus berputar. Suatu saat kita di atas namun di saat yang lain kita terjatuh. Seiring dengan berhembusnya angin akan menyisahkan kader-kader pilihan yang tangguh dan mengeliminasi siapa saja yang tak mampu bertahan. Sudah menjadi sunnatullah, hidup ini akan menyisahkan dua pilihan, keselamatan atau kesengsaraan. Kemenangan atau kekalahan, dan kesuksesan dan kegagalan, karena hidup tercipta berpasang-pasangan.

Begitupun dengan keimanan dan ketaqwaan setiap insan, keislamannya akan dipertaruhkan di panggung sandiwara. Sekali lagi hanya akan menyisahkan orang-orang yang berpegang teguh di jalan Allah –merekalah orang-orang yang berntung- namun sebagiannya jatuh dalam lembah kenistaan.

“Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhan-Nya, dan mereka itulah orang-orang yang berntung.” (QS. Al-Baqarah [2]: 5)

Tanpa terkecuali dengan negeri ini, panggung politiknya dilakoni oleh orang-orang yang penuh karakter dan latar belakang yang berbeda. Patut disyukuri –meskipun tidak dibenarkan dalam Islam- mulai muncul partai-partai politik berlatar belakang Islam. Cukup untuk menyampaikan aspirasi masyarakat untuk mewujudkan lingkungan yang islami dan mengimbangi perkembangan kaum kuffar yang juga terjun dalam bidang yang sama. Meskipun hati ini bimbang, tapi yah Negara kita bukanlah Negara Islam –hanya berpenduduk muslim terbanyak- sehingga kita mengambil mudharat yang lebih kecil.

Perkembangan kemudian memberikan simpati yang sangat besar di kalangan masyarakat khususnya kaum muslimin kepada partai yang menjadikan dirinya bertujuan untuk menciptakan keadilan dan kesejahteraan ini, tentunya dalam koridor keislaman (katanya… -red). Selanjutnya hari berganti hari mengantarkan partai “islami” ini pada salah satu dari lima partai besar di negeri ini. Sungguh membanggakan, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai derajat –yang bagi politikus- patut diperhitungkan.

Banyak pertanyaan yang timbul kemudian hari? Entah dari lawan atau pun dari intern sendiri mengenai perkembangan ini. Tapi sekali lagi semua itu muncul karena kebanggaan yang amat sangat dari partai padi berbulan sabit ini. Kegiatan-kegiatan dan orientasinya seakan menjawab semua pertanyaan akan kesuksesan tersebut. Selain dengan kualitas kadernya tidak diragukan lagi, orientasi keislaman mereka memikat banyak hati kaum muslimin, mulai dari peduli lingkungan dan sesama, semangat da’wah untuk menghasilkan kader yang berkualitas, sampai pada aspirasi kepada penderitaan saudara kita di Palestina sana.

Sungguh sangat disayangkan ketika nilai-nilai itu sedikit demi sedikit terkikis oleh pribadi mereka sendiri. Saat pemilihan umum silam, ketika pilihan yang banyak disayangkan oleh simpatisannya malah ditangkas dengan santai oleh kalangan pimpinan mereka sendiri, “Apa artinya selembar kain untuk memajukan negeri ini?” kurang-lebih (afwan…) beginilah kalimat ketika dilontarkan pertanyaan mengenai jilbab salah orang penting dikalangan mereka. Tidakkah mereka tahu kalau jilbab itu WAJIB??? Miris memang… tapi yah… hati ini sudah terlanjur kecewa…

Belum cukup sampai di sini, saat baru saja kader-kader mereka menyampaikan aspirasinya di jalan-jalan demi kemerdakaan Palestina, lagi-lagi hati kembali dikecewakan oleh putusan kalangan pemimpin mereka yang ingin menjadikan partainya menjadi PARTAI TERBUKA… sungguh Partai Kacau Sekali… bahkan salah satu kader terbaik mereka mengatakan, “Sebenarnya partai ini sudah lama membuka peluang besar kepada selain muslim untuk bergabung di dalam. Misalnya pada pemilihan kemarin, ada caleg non-muslim di Papua dari partai mereka. Dan memang partai ini tidak sepenuhnya partai Islam” (dengan redaksi sendiri tanpa mengubah maksud dan tujuan pembicara asli) What??? Bukan partai Islam??? Non-muslim dapat bergabung bahkan jadi caleg??? Astaghfirullah… di mana ilmu-ilmu syar’I mereka saat di ma’had dulu???

Peringatan Allah dalam Al-Qur’an
Waw… waw… waw… tidakkah mereka membaca Firman Allah,
“dan orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan senang kepadamu (Muhammad) hingga kamu mengikuti agama mereka.” (QS. Al-Baqarah [2] : 120)

Lantas bagaimana mungkin mereka menaruh amanah kepemimpinan ummat dan perwakilan kepada kaum kuffar, kaum yang jelas-jelas Allah telah menggambarkan kemunafikan dan permusuhan mereka kepada kita kaum muslimin?

Bukankah Allah telah melarang hamba-Nya untuk menjadikan mereka pemimpin dan teman setia?
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa diantara kamu menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sesunggunya Allah tidak memerikan petujunk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maa’idah [5] : 51)

Apa yang diharapkan?
Lantas apa lagi yang kita harapkan dari mereka? Bagaimana mungkin persoalan ummat kita serahkan kepada kaum yang tidak beriman kepada Allah? Bagaimana bisa kita berbagi dengan mereka yang mereka sendiri enggan berbagi bahkan mebenci kita? Bukankah kita memang seharusnya mebenci mereka? Bagaimana dengan al Wala’ wa al Bara kita? Astaghfirullah…

Biarkan mereka menjawab! Biarkan mereka yang berdasi, alumnus ma’had terkemuka serta berwawasan luas menjawab pertanyaan itu semua! Tapi sungguh malang nasib negeri ini. Ketahuilah wahai saudaraku… beginilah jika dunia telah menjadi tujuan, dunia menjadi obsesi, visi dan misi, telah membutakan hati-hati pelakon panggung sandiwara, menjauhkan dari nilai-nilai keislaman, dan yang pasti ada tujuan dibalik ini semua. Tapi ketahuilah… Islam akan tetap jaya namun bukan dengan obsesi mereka tersebut! Sungguh hati ini kecewa…

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons