HANYA KARENA ALLAH

Wanita itu bukanlah wanita yang baik-baik, dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan bahwa yang dimaksud adalah seorang pezina. Kisahnya bermulai ketika ia mendapati seekor anjing kala melewati lorong setapak sunyi dalam perjalanannya,. Tampak jelas dari anjing tersebut akan kehausan yang teramat menyiksa di tengah terik mentari yang membakar, sembari menjulurkan lidah memutari sumur yang tiada kuasa baginya itu meminum air tersebab dalamnya sumur.


Maka iba timbul menguasai hati wanita ini, dengan bermodal sepatu yang diikat dengan penutup kepala dijadikannya timba untuk menciduk air lalu diberikan kepada anjing tersebut. Rasulullah terkasih mengabarkan, dengan perbuatannya ini, wanita itu diampuni oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Subhanallah, betapa pemurah Allah pemilik alam sejagat. Wanita yang memberi minum ini bukanlah seorang yang suci, bahkan kedudukannya di tengah masyarakat dan di hadapan Rabb jalla wa’ala adalah hina karena pekerjaannya yang seorang pezina. Begitupun yang diberi minum juga bukanlah dari binatang yang istimewa, seekor anjing yang dalam Islam memeliharanya pun diharamkan bila tidak memiliki kepentingan syar’i. Namun, kebaikan yang kelihatannya kecil itu, telah membuka pintu rahmat Allah baginya. Yah, hanya dengan sekadar memberi minum anjing yang hampir mati karena kehausan itu, ia terampuni.

Menarik bila mencoba mendulang hikmah di balik kisah ini. Sebagian ahli ilmu menyimpulkan bahwa kunci tercurahnya rahmat juga berkah dari kebaikan sederhana wanita ini adalah karena keikhlasannya. Betapa tidak, yang diberinya minum adalah makhluk yang tidak mampu membalasnya, tidak pula bisa mengucapkan terima kasih apalagi memuji atau menceritakan perkara ini kepada banyak orang. Di saat itu pula tidak ada seorangpun yang menyaksikan ketulusan hatinya, sehingga ia selamat dari soal riya’ dan sum’ah, begitupun ‘ujub juga takabbur.

Maka perhatikanlah, keajaiban ikhlas itu. Semua yang dipersembahkan hanya karena-Nya tentu tidak akan ada yang sia-sia. Teramat beruntunglah mereka yang senantiasa menjaga kelurusan niat dalam setiap ibadahnya. Sebab Allah mengetahui apa-apa yang terbesit hingga dalam relung hati yang terdalam, dan ikhlas adalah puncak kebahagiaan di dunia dengan segala pernak-perniknya, begitupun di akhirat berhujan nikmat yang tiada putus-putusnya.

Hanya saja, ikhlas itu memang tidak mudah. Ia adalah perkara yang besar lagi menyusahkan. Membutuhkan pengorbanan yang berat, di tambah badai fitnah di zaman ini yang tiada pernah letih menghampiri dan menyerang hati, hingga menjaga keikhlasan seolah jihad seumur hidup. Perjuangan yang tiada pernah berhenti.

Karenanya tidak mengherankan bila Imam Besar seperti Sufyan Ats-Tasuri rahimahullah sampai berkata,

“Tidak pernah sekalipun aku memperbaiki sesuatu yang lebih berat bagiku daripada niatku sendiri. Sebab niat itu selalu berubah-ubah.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam)

Maka sangat wajarlah jika Allah ‘azza wa jalla menyediakan ganjaran yang sangat besar bagi orang-orang yang ikhlas itu. Kembali kepada wanita pezina tadi, bahwa tercurahnya Rahmat dan Maghfirah untuknya karena keikhlasannya. Tersebab ketulusannya itulah ia dibersamai hidayah hingga ajal menjemputnya. Karena itu, sekali lagi mari menata serpihan-serpihan hati, meluruskan kembali niat, memperbaharuinya agar senantiasa teruntuk Allah pemilik ‘arsy yang agung. Ingatlah, bahwa niat itu seperti surat, salah menulis alamat, akan sampai pula pada salah tempat. Wallahu a’lam.

MAAFKAN DIA YANG DULU


Lelaki itupun akhirnya mengembara, membawa setumpuk dosa yang kini membuatnya berduka nestapa. Teramat dalam kesedihan terasa, betapa kuat keinginan untuk mengakhirinya dengan taubat. Ia lalu bertanya kepada orang-orang perihal ‘alim yang dapat menuntunnya kembali kepada jalan yang benar. Lalu oleh mereka, ditunjukkanlah kepadanya seorang ‘abid (ahli ibadah) di ujung kota.

“Masihkah ada peluang untukku” tanya lelaki itu penuh harap, “tercurah rahmat Allah kendati telah 99 jiwa terenggut oleh tanganku?”. Sayang, sang ‘abid tergesa-gesa menjawab tanpa dasar fahaman yang benar. “Tidak.” tangkis ‘abid. Mendengar jawaban yang tak sesuai harapnya, seketika lelaki itu mumbunuhnya. Genaplah sudah 100 nyawa yang telah ia bunuh.

Namun hatinya terus mendesak, ada luapan di dada yang tak mampu ditahannya. Asa untuk tetap meraih kasih Allah terus menuntunnya hingga bertemu dengan seorang ‘alim (ahli ilmu). Sekali lagi ia bertanya dengan soalan yang sama. Iyakah mungkin dirinya yang telah membersamai sebukit dosa itu bisa mendapat rahmat Allah.

“Ya. Siapa yang mampu menghalangimu dari taubatNya?” jawaban ‘alim melegakan sesak jiwanya. “Pergilah ke daerah ini dan ini. Karena sesungguhnya di sana ada orang-orang yang senantiasa beribadah kepada Allah, maka beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka. Dan jangan kamu kembali ke negerimu, karena negerimu itu adalah negeri yang jahat.”

Sesegera mungkin ia beranjak melaksanakan pesan ‘alim. Sebakda pamit memohon doa, ia melangkahkan kaki dan terus bergegas menuju negeri harapan. Namun takdir Allah mendahuluinya, belum jua kaki menapaki tujuan, maut telah menjemputnya di tengah perjalanan. Turun dua malaikat berselisih atasnya. Malaikat rahmat mengatakan: “Dia sudah datang dalam keadaan bertaubat, menghadap kepada Allah dengan sepenuh hatinya.” Sementara malaikat azab berkata: “Sesungguhnya dia belum pernah mengerjakan satu amalan kebaikan sama sekali.” Demikian perdebatan keduanya hingga Allah memutuskan rahmat untuknya, tersebab jarak yang ditempuh lebih dekat kepada negeri tujuan.

Kisah yang bersama diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim ini mengajarkan sederet ilmu kepada kita. Bahwa lelaki pembunuh itu, sebagaimana kata Rasulullah terkasih, shallallahu ‘alaihi wasallam, meski berbukit dosa dan belum jua mengamal kebajikan, Allah memberkahinya. Allah mencintainya. Kendati ia hidup dengan teramat gelapnya masa lalu. Ah, sungguh luas rahmat Allah bagi hamba-hambaNya yang bertaubat.

Namun, saat ini betapa seringnya kita tidak adil pada orang lain. Menilainya buruk serta merendahkannya hanya karena masa lalunya yang kelam. Tidak jarang bahkan kebaikannya yang kini dia lakukan terpandang sebelah mata oleh kita, hanya dan oleh hanya karena dirinya dahulu bukanlah orang baik. Hijrah yang telah ia tempuh belum cukup membuat kita berhenti untuk mencibir, mencaci, dan menjauhinya.

Tidakkah cukup bagi kita memetik hikmah dari selembar kehidupan lelaki pembunuh itu, bahwa tidaklah pantas bagi kita untuk menilai orang lain dari masa lalunya. Sebab siapapun orangnya, ia kaya atau yang berkecukupan, terdidik tinggi ataupun tidak, dari lingkungan yang sholeh apalagi yang jauh dari kebenaran, pasti pernah melakukan kesalahan di masa silam.

Betapapun besar aib yang pernah diperbuatnya, tidaklah menjadi alasan untuk kita menolak uluran tangannya sebakda hijrahnya. Berilah kesempatan dan jangan mengingatkannya kembali seperti apa kelamnya ia dahulu. Cukupkanlah diri kita dengan kerasnya usaha yang ditempuhnya kini untuk keluar dari gelap jahiliyahnya, menjadi tanda bahwa ia adalah “orang pilihan”. Ingatlah, hidayah tidaklah Allah berikan kecuali kepada hamba yang dicintaiNya.

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhoan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-Ankabut: 69)

Karena itu, berhentilah menilai seseorang dari episode lalu dari kehidupannya. Bukankah dahulu, sebagian para sahabat adalah Ahli Maksiat? Peminum khamr hingga pelaku kesyirikan? Namun kini mereka adalah generasi terbaik yang pernah ada sepanjang sejarah peradaban manusia, bahkan dalam sejarah perjalanan Islam. Rasul terkasih memuji mereka dalam sabdanya, “Sebaik-baik umatku adalah pada masaku (para sahabat –pen).” (HR. Bukhari)

Bukankah, Khalid bin Walid yang dahulu memerangi Allah dan Rasul-Nya, lalu dengan strategi cerdiknya memukul mundur tentara kaum Muslimin di perang uhud, akhirnya pun terpilih menjadi “Pedang Allah yang terhunus.” Begitu pula dengan Umar bin Khatthab, sahabat yang sebelum hidayah menyapanya pernah sekali hendak membunuh Rasulullah. Kini ia berbaring setia mendampingi Rasulullah di alam kubur.

Itulah mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, ”Sungguh setiap amalan itu tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari). Sebab yang menjadi patokan ialah kesudahan seseorang di akhir hayatnya, bukan bagaimana ia dahulu.

Karenanya kawan, sekiranya kita mengenal seseorang setelah hijrahnya, maka teruslah membersamainya, menjadi sahabat baru untuknya. Dan bila ada seseorang yang kita kenal sebelum hijrahnya, maka maafkanlah dia dengan masa lalunya, bantu dia untuk menutup aib-aibnya.

MELAWAN KEMUSTAHILAN



Keajaiban itu;
Ketika rambut Zakariya telah beruban
Pundaknya pun kini teramat payah ditegakkan
Dan istri yang tak mampu hamil serta melahirkan
Tetiba kabar gembira datang dan lahirlah yahya; di usianya yg senja

Keajaiban itu;
Kala tubuh Yunus tersungkur lemah
Dihimpit dahsyat dalam perut ikan
Membawanya menembus tiap lapis samudera; di puncak kegelapan
Tetiba ia dimuntahkan segera
Tanpa berkurang sedikit pun dari raganya
Dan kala ia kembali, sekampung ramai telah beriman kepadanya

Keajaiban itu;
Tatkala jilatan api berkobar memenuhi satu lembah
Menanti raga Ibrahim yg segera dilemparkan padanya
Atas titah Penguasa seluruh isi semesta
Tetiba api kehilangan panas baranya
Dan tak sehelaipun dari khalilullah itu; kecuali selamat

Keajaiban itu;
Ketika Musa terdesak di ujung jalan
Di hadapannya terhampar luas laut membentang
Berbalik, Firaun durjana mengejar dengan tentara banyaknya
Dengan sekali sentuhan tongkat, disertai kepasrahan sepenuh diri
Tetiba laut itu membelah
Keselamatan bagi Musa dan yg beriman
Kebinasaan bagi yg angkuh menolak kebenaran

Maka keajaiban itu;
Adalah keniscayaan
Adalah kepastian

Karenanya kawan,
Munajatkan pinta hingga tinggi melangit

Bila semangat redup; sebab menatap panjang jalan dan ujungnya belum ketemu
Mata kabur; sebab tersapu debu yang menempah asa dan mimpi
Sedih senduh; sebab payah lemah telah berpeluh tapi belum jua berjumpa sinar harapan
Cobalah bersungkur pada sujud panjang
Berbisik merayu pada bumi yg menghampar
Dan biarlah angin yg membawanya tinggi menembus lapis lapis langit

Larutlah dalam munajatmu;
Selembut Zakariya dalam meminta
Seberserah Yunus kala tak berdaya
Setegar Ibrahim meski dinanti bahaya
Sekuat Musa dalam perjuangannya

Jemputlah keajaiban dengan doa;
dan jangan berputus asa
Yang terbaik untukmu telah disiapkan oleh Yang Maha Baik

Berdoalah;
Sebab doa adalah melawan kemustahilan.


Serambi Madinah, 05/05/2017
Aku yg percaya dengan kekuatan doa, Muhtadin Akbar

DIAM TIDAK SELAMANYA EMAS



Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Sebagian ulama berkata, “Seandainya kalian yang membelikan kertas untuk para malaikat yang mencatat amal kalian, niscaya kalian akan lebih banyak diam daripada berbicara.”

Bagian dari kebaikan seseorang adalah selalu memikirkan perkataannya sebelum ia mengucapkannya. Jika baik maka dia keluarkan, jika tidak maka akan ditahannya kemudian diam.

Namun, diam tidak selamanya baik. Diam tidak selamanya emas. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah:

"Diam TANPA membaca, TANPA berdzikir dan TANPA pula berdoa maka itu bukanlah ibadah, bahkan perbuatan tersebut akan membuka pintu was-was sedangkan menyibukkan diri dengan mengingat Allah maka itu lebih afdhal daripada berdiam diri."

Jadikanlah diam kita benar-benar emas.


Serambi Madinah, 20/1/2016
Memaknai episode demi episode kehidupan dengan diam, memetik hikmah dan akhirnya tersadar betapa hina dina diri di hadapan sang Khalik. Muhtadin Akbar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons