Maka iba timbul menguasai hati wanita ini, dengan bermodal sepatu yang diikat dengan penutup kepala dijadikannya timba untuk menciduk air lalu diberikan kepada anjing tersebut. Rasulullah terkasih mengabarkan, dengan perbuatannya ini, wanita itu diampuni oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
Subhanallah, betapa pemurah Allah pemilik alam sejagat. Wanita yang memberi minum ini bukanlah seorang yang suci, bahkan kedudukannya di tengah masyarakat dan di hadapan Rabb jalla wa’ala adalah hina karena pekerjaannya yang seorang pezina. Begitupun yang diberi minum juga bukanlah dari binatang yang istimewa, seekor anjing yang dalam Islam memeliharanya pun diharamkan bila tidak memiliki kepentingan syar’i. Namun, kebaikan yang kelihatannya kecil itu, telah membuka pintu rahmat Allah baginya. Yah, hanya dengan sekadar memberi minum anjing yang hampir mati karena kehausan itu, ia terampuni.
Menarik bila mencoba mendulang hikmah di balik kisah ini. Sebagian ahli ilmu menyimpulkan bahwa kunci tercurahnya rahmat juga berkah dari kebaikan sederhana wanita ini adalah karena keikhlasannya. Betapa tidak, yang diberinya minum adalah makhluk yang tidak mampu membalasnya, tidak pula bisa mengucapkan terima kasih apalagi memuji atau menceritakan perkara ini kepada banyak orang. Di saat itu pula tidak ada seorangpun yang menyaksikan ketulusan hatinya, sehingga ia selamat dari soal riya’ dan sum’ah, begitupun ‘ujub juga takabbur.
Maka perhatikanlah, keajaiban ikhlas itu. Semua yang dipersembahkan hanya karena-Nya tentu tidak akan ada yang sia-sia. Teramat beruntunglah mereka yang senantiasa menjaga kelurusan niat dalam setiap ibadahnya. Sebab Allah mengetahui apa-apa yang terbesit hingga dalam relung hati yang terdalam, dan ikhlas adalah puncak kebahagiaan di dunia dengan segala pernak-perniknya, begitupun di akhirat berhujan nikmat yang tiada putus-putusnya.
Hanya saja, ikhlas itu memang tidak mudah. Ia adalah perkara yang besar lagi menyusahkan. Membutuhkan pengorbanan yang berat, di tambah badai fitnah di zaman ini yang tiada pernah letih menghampiri dan menyerang hati, hingga menjaga keikhlasan seolah jihad seumur hidup. Perjuangan yang tiada pernah berhenti.
Karenanya tidak mengherankan bila Imam Besar seperti Sufyan Ats-Tasuri rahimahullah sampai berkata,
“Tidak pernah sekalipun aku memperbaiki sesuatu yang lebih berat bagiku daripada niatku sendiri. Sebab niat itu selalu berubah-ubah.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam)
Maka sangat wajarlah jika Allah ‘azza wa jalla menyediakan ganjaran yang sangat besar bagi orang-orang yang ikhlas itu. Kembali kepada wanita pezina tadi, bahwa tercurahnya Rahmat dan Maghfirah untuknya karena keikhlasannya. Tersebab ketulusannya itulah ia dibersamai hidayah hingga ajal menjemputnya. Karena itu, sekali lagi mari menata serpihan-serpihan hati, meluruskan kembali niat, memperbaharuinya agar senantiasa teruntuk Allah pemilik ‘arsy yang agung. Ingatlah, bahwa niat itu seperti surat, salah menulis alamat, akan sampai pula pada salah tempat. Wallahu a’lam.


Selasa, Februari 13, 2018
Abu 'Abdillah

Posted in: 


