Etalase kaca

Orang-orang menyebutnya aktivis. Ya… seorang aktivis. Bagi sebagian orang dirinya mungkin hadir dengan segala bentuk keasingan. Pakaian, perilaku, cara berjalan, tutur katanya berbeda dengan kebanyakan lainnya. Setiap pertanyaan yang menghampiri mereka, “Loh, kok pakaiannya seperti ini?” atau “Dek, ngga usah terlalu ekstrim. Hidup dibawa santai saja.” Kerap mereka jawab dengan santai sambil tersenyum dan penuh hikmah, “Ini sunnah dan aku cinta akan hal ini.” Beginilah gambaran singkat kehidupan aktivis.

Mereka telah meng-azzam-kan diri mereka dengan dakwah. Sebuah kebaikan yang Allah pun memuji akan pekerjaannya. Allah telah mengabadikan salah satu nasihat Luqman kepada anaknya untuk senatiasa menyebarkan kebaikan, “Wahai anakku! Laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.” (QS. Luqman [31] : 17). Demikianlah pentingnya perkara ini hingga Allah pun mewasiatkan kepada kita untuk menyampaikan kepada setiap jiwa yang haus di luar sana.

Mereka pun (baca: aktivis) sadar akan pentingnya estafet dakwah ini. Dari generasi ke generasi berikutnya. Melahirkan bibit unggul yang siap berkorban demi tegaknya kalimat tauhid di bumi pertiwi. Ia pun bak anak tangga yang sedikit demi sedikit, tahap demi tahap, sejengkal demi sejengkal dilalui dengan segala suka duka. Setiap fase tersebut melahirkan sejuta luka. Luka yang tidak hanya menguras keringat dan air mata. Tapi juga pahatan hati yang sulit untuk dihilangkan. Dari sinilah lahir setiap karakter yang berbeda dalam melihat setiap peluang dan masalah. Dari sinilah lahir perbedaan sikap yang kadang sulit untuk dipahami.

Ketika sebagian mereka telah mencapai anak tangga tertinggi. Setelah melalui fase demi fase dalam dakwah, maka keluarlah sang pejuang dengan “risalah” yang berbeda bagi setiap pemilik hati. Sungguh, diharapkan lahir seorang pejuang yang gagah berani bak panglima yang berdiri di baris terdepan, tangan kanannya memegang pedang tanpa periasi, tangan kirinya menarik tali kekang kuda membawanya berlaju cepat, melesat tanpa memperdulikan apa akhirnya. Pejuang yang menanggalkan perhiasan dunia. Yang ia tahu hanyalah pemindahan tempat istirahat dari istana ke liang lahat, dari jubah besi ke kain kafan, dan dari kerabat ke kesendirian.

Namun, apa daya aktivis juga manusia biasa. Goresan luka dan pahatan hati kadang muncul dari kalangan sendiri. Sedih rasanya, ketika anak panah itu justru tertancap kepada orang yang selangkah dengannya. Sungguh miris rasanya ketika kalimat “Kami tidak mau menghambat dakwah karena keegoisantris kelompok. Semoga limpahan pahala itu lebih banyak mengalir kepada kita.” harus keluar. Masya Allah… seorang hina ini sulit untuk mengartikan bagaimana dan harus dari sudut mana. Mungkin ini hanyalah ungkapan hati sang aktivis setelah penat dan lelahnya dalam urusan dakwah, atau mungkin yang lain. Apalagi setelah perselisihan itu naik ke permukaan, ditambah sulitnya untuk menegakkan hujjah atas dirinya sendiri. Tapi persoalan hati adalah persoalan ghaib, hanya tuan rumah dan Allah saja tahu, sungguh naif jika kita mengambil kesimpulan lewat kacamata sendiri. Mengartikan setiap aktivitas sesuai ilmu dan cara pandang kita. Sebab niat seseorang tidak kita ketahui, apalagi ketika akar permasalahan belum jelas dan datangnya justru bukan dari orang yang bersangkutan.

Setiap perkataan akan sampai pada muaranya masing-masing. Tanpa sadar terkadang lisan terus bersilat tanpa melihat kondisi. Men-judge seseorang apalagi ketika kita membandingkan dengan apa yang ada pada diri kita. Padahal rangkaian kata tersebut sebagiannya “mungkin” akan melahirkan penyakit. Penyakit yang sulit untuk diobati. Penyakit yang sangat mudah menimpah manusia yang lemah. Bukan lemah fisik namun lemah hati. Penyakit yang menjangkiti orang yang berpunya. Dialah penyakit ‘ujub dan sombong. Terkadang aktivis pun sulit untuk terhindar. Apalagi ketika tahapan demi tahapan telah dilaluinya dan ujungnya bertemu dengan yang selevel dibawahnya.

Padahal Rasulullah telah menyampaikan bahayanya penyakit ini. Sebagaimana sabda Rasulullah,

“Tidak akan masuk Surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat dzarrah.” Kemudian ada seorang laki-laki bertanya : “Bagaimana dengan orang yang suka mengenakan baju bagus dan sandal bagus?” Beliau menjawab : “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sedangkan kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim)

Subhanallah, kita semua meminta perlindungan dari perasaan benar sendiri dan menganggap “salah” orang yang berseberangan dengan kita. Imam Syafi’i pernah mengatakan: “Orang yang paling tinggi nilainya adalah orang yang tidak melihat nilai dirinya. Dan orang yang paling banyak kelebihannya ialah orang yang tidak melihat kelebihan dirinya.” Mungkin mereka punya cara pandang dan niat yang sulit untuk kita terjemahkan. Bukan prasangka yang jadi tuan dalam permainan ini namun kita kembalikan kepada Allah yang Memegang setiap hati manusia. Al Hasan bin Ali pernah berkata: “Tahukah anda apa tawadhu’ itu? Tawadhu’ adalah anda keluar dari rumah anda, setiap kali anda bertemu dengan muslim yang lain, maka setiap itu pula anda merasa ia lebih baik dari anda.” Siapakah kita dibandingkan mereka wahai aktivis?

Lalu untuk apa wahai aktivis air mata dan rasa sakit hati itu, ketika kita mendapat nasihat dan “tausiyah” dari orang yang mungkin lebih muda dan kapasitas ilmunya tepat di bawah kita? Hingga berlarut-larut terpikirkan dan sulit untuk terhapus. Tirai kamar pun menjadi saksi atas ketidakpuasan kita akan kejadian tersebut.

Al-Mubarak bin Fudhalah bercerita: “Umar bin Khatthab pernah terlibat pembicaraan dengan seorang lelaki. Lalu lelaki tersebut berseru kepada Umar: “Takutlah kepada Allah, wahai Amirul Mukminin!” kemudian ada seseorang yang memprotes lelaki tersebut: “Anda jangan berkata begitu kepada Amirul Mukminin.” Kemudian Umar berkata: “Biarkan dia mengatakannya kepadaku, ucapannya sangat bagus. Tidak ada kebaikan bagi kamu jika kamu tidak mengatakannya. Dan tidak ada kebaikan bagi kami jika kami tidak menerimanya.”

Abu Hanifah juga pernah mengalami hal serupa. Ada seseorang yang perneah berseru kepadanya: “Takutlah kepada Allah!” Setelah mendengar ucapan itu Abu Hanifah langsung gemetar, wajahnya pucat pasi dan kepalanya tertunduk. Lalu berujar: “Semoga Allah membalas jasa anda dengan baik. Betapa butuhnya manusia –setiap saat- dengan nasihat yang diucapkannya itu.”

Allahu Akbar… Contoh pertama adalah seorang khalifah dan yang terakhir adalah seorang ulama yang terkemuka di zamannya, tapi begitulah jawaban mereka atas nasihat untuknya. Lalu siapakah diri kita wahai aktivis dibanding mereka? Di manakah kita bisa menempatkan rasa keluh kesah dan sakit itu di lembar-lembar kehidupan mereka?

Ketahuilah wahai saudaraku… Amalan-amalan dalam setiap fase dakwah kita tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan pejuang-pejuang sebelum kita. Lalu apa yang bisa kita pertaruhkan di hadapan Allah? Seringnya kita musyawarah? Atau banyaknya jumlah bawahan kita? Atau mungkin dari indahnya rangkaian kalimat yang keluar dari bibir kita saat orang lain terpesona dengan setiap gagasan kita? Masya Allah… semoga Allah mengaruniakan hati yang ikhlas dan tawadhu’ kepada kita. Sebab kualitas batin suatu amaliah sangat menentukan nilai amalan itu. Gerak hati yang abstrak dan samar perlu mendapatkan perhatian yang besar agar melahirkan lisan dan sikap yang jauh dari kepincangan dakwah. Sebab Ibnul Qayyim mengatakan: “Amal tidak diukur tinggi rendah kualitasnya oleh bentuk dan jumlahnya, tetapi hanya diukur dengan apa yang ada di dalam hati. Bisa jadi bentuk kedua amal sama tapi kualitas di antara keduanya seperti jarak antara langit dan bumi.”

Semoga kita terhindar perasaan benar padahal sejatinya kita terjatuh dalam liang kesalahan. Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuknya agar kita selalu berjalan dengan tawadhu’ dan istiqomah di dalamnya.



-Di kolong langit serambi mandinah saat mentari sembunyi dibalik peraduannya

Abu Abdillah

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons