Satu Cinta


Mengapa merasa sulit, untuk satu hal yang mudah
Mengapa merasa berat, untuk satu hal yang ringan
Mengapa merasa sakit, untuk satu hal yang indah
Mengapa merasa salah, untuk satu hal yang suci
Mengapa merasa kecil, untuk satu hal yang besar
Untuk satu cinta
Yang mudah karena ikhlas
Yang ringan karena ukhuwah
Yang indah karena kasih sayang
Yang suci karena iman
Yang besar dari Allah yang Maha Besar

Tapi…
Kata orang itu hal konyol
Kata orang hanya sebuah dongeng yang tak berarti
Kata orang hanya khayalan yang tak bermakna
Kata orang hanya ilusi yang semu
Kata orang hanya sebuah kedustaan
Kata orang tidak masuk akal
Kata ku mereka semua salah
Sebab cinta karena Allah sudah ku dapatkan
Dari pelangi di sudut kedua matamu


Serambi Madinah, 7 Ramadhan 1434 H
Mengiringi lantunan hapalan ayat-ayat Al Qur'an dari hatinya yang lembut

Hitam Manis

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa di sisi Allah.” (QS al-Hujurat [49]:13)

Kawan, Allah telah memenuhi bumi ini dengan manusia bersuku-suku, bentuk rupa dan warna kulit mereka berbeda antara satu dan yang lainnya. Tentu ada tujuan mulia dari penciptaan ini, yang pasti bukan untuk berbangga-bangga dan saling merendahkan, sebab setiap desah nafas yang keluar dari rongga hidung, Allah peruntukkan hanya pada kebaikan, andai saja semua manusia mau memikirkannya.

So… tidak perlu galau dengan bentuk rupa kita, toh kita tidak pernah memintanya sewaktu di rahim ibu dahulu. Pun tidak perlu gusar mendengar caci dan hinaan dari orang yang “mungkin” secara fisik lebih sempurna dibanding kita, sebab dengan keadaannya yang seperti itu belum menjamin ia lebih baik dari hati kita yang ikhlas dan sabar menanti rahmat Allah. Tersenyumlah, sebab berkas sinar di wajahmu enggan meredup.“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. az-Zumar: 10)


Bergembiralah dengan janji Allah. Lisan hambaNya yang paling mulia telah menyampaikan kabar gembira untukmu, “Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa paras dan harta benda kamu, tetapi Allah hanya memandang kepada niat hati dan amalan-amalan kamu.” (HR. Muslim). Sebab Allah tidak memuliakan hambanya lewat bentuk fisiknya, untuk apa bersedih kawan?

“(Dialah Allah) yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2). Hidup sejatinya adalah ujian. Namun Allah dengan Maha Pengasihnya menegaskan hanya ‘yang terbaik’ amalannya yang mendapatkan kebahagiaan hakiki. Hanya ‘yang terbaik’ amalannya yang mampu melihat keindahan semu dunia dan zuhud padanya. Hanya ‘yang terbaik’ amalannya yang mampu membawa panji kebenaran dalam setiap langkah kakinya. Dan hanya ‘yang terbaik’ amalannya yang mampu melihat potensi di setiap kekurangan dirinya. Kawan, bersyukurlah.

Masih ingatkah dengan bilal bin rabah? Sahabat berkulit hitam yang di mata orang-orang quraisy ia hanya budak hitam yang tidak berharga. Siapa sangka ialah yang pertama kali mengumandangkan adzan di bumi ini. Ialah muadzin Rasulullah bersuara emas. Atau ingatkah dengan betis Abdullah bin Mas’ud yang kecil, kala orang-orang sontak menertawakannya, Rasulullah justru memujinya dengan berita pahala yang lebih berat dari gunung uhud. Hingga usamah bin zaid yang riwayatnya berkulit hitam dan berhidung ‘pesek’ pun lebih utama di mata Rasulullah dari sebagian sahabat. Ialah yang terkenal sahabat “kesayangan, putra kesayangan.”

Kawan, di mana kita bisa menyimpan keluhan dan kesedihan di lembar-lembar kehidupan mereka. Bersyukurlah. Teruslah berkarya sebab Allah mencari amalan yang terbaik bukan rupa yang terbaik. Sebab hingga kini aku belum pernah mendengar panggilan “putih manis” yang ada “hitam manis.”



Serambi Madinah, 21 Sya’ban 1434 H
Untuk Si Hitam Manis, tersenyumlah! Bias-bias cahaya itu masih bersinar, mengapa tidak kau tiupkan air agar terpancar olehnya pelangi yang indah?

Melukis Pelangi

Sesaat setelah makhluk jenius itu lahir, engkau hadir dengan ‘protes’ yang sulit untuk ku mengerti. Padahal mungkin engkau lupa bersama makhluk jenius itulah perjumpaan kita bermula. Bahkan mungkin engkau pun lupa, bahwa dirimu yang begitu istimewa adalah bagian dari makhluk jenius tersebut. Entahlah, yang pasti engkau tetap seperti yang dahulu ku kenal. Si alis tebal dengan kesabaran tak bertepi. “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS. Az-zumar: 10)

Baiklah, aku dari tempat ku kini berdiri, menggenggam tanganmu, mengajakmu sejenak menengok kawan lama yang sudah terlupakan. Olehku mungkin atau olehmu. Kala perjumpaan yang tidak direncanakan, walau akhirnya ku tahu skenario Allah begitu indah untuk dijalani, bibir keluh, tersipu malu, diam melihat rayuan cinta di balik sosok mu yang menyimpan sejuta kebaikan, andai saja ku tahu kepada dermaga mana kan kau labuhkan pelayaranmu, kan ku sampaikan padanya kabar gembira akan kehadiranmu, sahabat.

Sudah lama kaki ini melangkah beriringan. Namun belum cukup mengenal sosokmu yang misterius. Bukan karena diam, namun kebaikan yang terlalu banyak begitu sulit untuk ku ungkapkan satu-satu. Satu hal yang ku tahu, engkau dengan kasih sayangmu yang tulus membawa warna baru di atas biru yang mulai memudar. “Orang-orang yang memiliki sikap kasih sayang akan mendapatkan kasih sayang dari Allah Yang Maha Penyayang, (maka) berbuat kasih sayanglah kalian kepada yang ada di muka bumi (sehingga Allah) yang di langit akan menyayangi kalian.” (HR. Abu Dawud disahihkan oleh al-Albani)

Seorang kawan bercerita, ketika ku memintamu meringkas panggilan untukku, kau menolak. Katamu itu tidak bermakna. Bagiku apalah arti sebuah nama, ternyata engkau benar, doamu di awal merekahkan senyuman untuk lembar persahabatan yang baru saja terisi. Nasihat pertama dari bibirmu yang mungil untukku. Aku baru sadar betapa kerdilnya aku dahulu. “Agama adalah nasihat.” (Muttafaqun ‘alaih)

Cerita itupun berlanjut ketika amanah, yang sejujurnya tidak pernah ku pinta dan belum sanggup untuk ku pikul, engkau hadir, menenangkanku dari ke-galau-an, mengajak untuk menghilangkan duri yang menghalangi. Kala itu, dengan “vega merah” mu setia mengantarku menelusuri setiap jejak kebaikan. "Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah amat keras siksa-Nya." (QS. Al Maa’idah: 2)

Masih ingatkah engkau, ketika pertanyaan tentang diriku mulai merasuk. Akan kelalaianku, kebohonganku, petualanganku di belahan dunia yang lain, semua yang mulai mengusik hatimu. Saat dada mulai sesak, aku tidak meminta apa-apa. Kepercayaanpun mungkin tidak. Air mata di atas sajadah ini biarlah berlalu,mengalir mencari hulunya. Maaf aku hanya anak adam yang tak sempurna. "Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. At Tahrim: 8)

Aku mungkin tidak mampu menghapus debu di sela-sela dedaunan yang mulai merimbun. Aku pun tidak mampu mengalirkan air dari bawah ke atas dengan kedua tanganku. Hanya seberkas sinar dari relung hati yang kian redup karena lemahku kini ku punya. Andai kau mau meneraginya untukku.

Ya… kini mulai lembaran baru, ketika kawan bercerita betapa seringnya engkau dahulu menatap perbedaan. Padahal bukan perbedaan yang membuat kita jauh, karena demikianlah Allah mempertemukan dua hati dalam taman indah dengan sejuta rumpun bunga yang berbeda jenis dan warnanya. “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa di sisi Allah.” (QS al-Hujurat [49]:13).

Ketahuilah, persahabatan ini bukanlah karena wajah atau warna kulit, bukan pula harta atau banyaknya bawahan. Ketahuilah, persahabatan ini karena cintamu pada Allah dan aku pun demikian. Ketahuilah, karena hati yang mulai kau bangun dengan keimananlah persahabatan ini bermula. Semoga janji di kemudian hari kan kita raih bersama. “Bahwasanya Allah berfirman pada hari kiamat “Dimanakah orang-orang yang saling mengasihi dengan keagunganKu, maka pada hari ini aku menaungi mereka di bawah naunganku di mana pada hari ini tidak ada naungan kecuali naunganKu” (HR. Muslim)

Kini telah terlampau jauh kapal berlayar. Saat langit kian mendung menutup biru di ujung surya. Ketika itu engkau mulai bertanya. Mungkinkah semuanya dapat kembali. Mungkinkah benang yang kusut dapat dirajut. Tenanglah, bersamaku mari melukis pelangi. Itu janjiku.


Serambi Madinah, 9 Sya’ban 1434 H
Menanti kabar tentangmu. Untuk sahabatku, semoga muqobalahnya berbuah keberkahan, cita-cita yang tercapai, ilmu yang bermanfaat. Hingga kelak engkau telah sampai pada negeri impian, jangan lupakan aku di setiap lirih doamu.

Makhluk Jenius

Makhluk Jenius. Begitulah gambaran yang terlintas dibenakku ketika ditanya tentang mereka. Bukan karena senyawa baru yang berhasil disintesisnya. Atau perangkat canggih yang baru selesai dirangkai. Bukan pula karena goresan tintanya yang mulai banyak dilirik sejuta pasang mata. Namun, karena satu senyuman seribu kehangatan sejuta kenangan. Dahulu hingga kini.

Sesaat ketika jeda sejenak. Melihat kejeniusan mereka bertingkah. Entah dari mana memulai namun akhirnya mengalir bersama mengejar pelangi di sudut bumi. Episode keindahan itu. Bersama menjemput kenangan sebab kejeniusan yang menghilangkan segala ke-galau-an. Sedikit dari sekian banyak yang mungkin sempat terekam olehku. Andai saja waktu dapat disimpan dalam saku.

Sering pekerjaan menumpuk, agenda antri menunggu, program sudah harus dilaksanakan, padahal waktu ‘enggan’ untuk menunggu membuat mereka pusing tidak karuan. Sering, di antara mereka atau seluruhnya menggaruk kepala ‘mengacak-acak’ rambut yang sudah tersisir rapi sebelumnya. Sering, ketika semuanya sudah memuncak keluhan itupun keluar. Menghilang tanpa jejak dari dirinya yang dahulu ku kenal. Tapi itu tidak lama! Setelahnya mereka kembali dengan tertunduk, tersipu malu, bukan padaku tapi pada Allah tentunya. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 13)

Karena ulahnya aku memahami, “Dunia begitu hina untuk membuat kita mengeluh. Sebab di sini Allah masih memberikan nikmatnya.” Kejeniusan mereka pertama.

Bekerja dalam satu team memang sedikit-banyak menyita perasaan. Kadang kala pemahaman berada di simpang jalan, berbelok dan tidak searah. Kadang kala pandangan tidak saling menatap. Kadang kala mereka berontak dan akhirnya menghilang sekali lagi dari dirinya yang dahulu ku kenal. Tapi lagi-lagi itu tidak lama! Setelahnya mereka kembali dengan tertunduk tersipu malu, bukan padaku, tapi pada Allah semata, “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Kejeniusannya kedua mengajarkanku rumus baku, “Kebersamaan dan ukhuwah adalah yang utama, karenanya perbedaan bukan membuat kita berpecah, justru ia yang membuat kita semakin dekat. Sebab pelangi itu indah justru karena perbedaan warna-warnanya.”

Mengajak pada kebenaran memang tidak mudah. Ratusan orang di luar sana melirik pekerjaan mulia ini dengan tatapan sinis dan tidak menyenangkan. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang mencibir. Bagaimana dengan makhluk jenius ini? Merekapun tidak lolos dari cibiran tersebut. Usahanya yang semakin mendapat tantangan sering menekan hatinya yang kian rapuh. Semakin tertekan hingga pada akhirnya mereka menghilang untuk kesekian kalinya dari diri mereka yang dahulu ku kenal. Tapi kembali itu tidak lama! Setelahnya mereka kembali dengan tertunduk, tersipu malu, bukan karenaku, tapi karena Allah yang Maha Rahman, “Berpegang teguhlah kepadanya dan suruhlah kaummu berpegang kepadanya dengan sebaik-baiknya. Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang fasik.” (QS. Al-A’raaf: 145)

“Mencari kemudahan dalam dakwah ialah sebuah ke-mustahil-an. Semuanya membutuhkan kesabaran, sebab Allah tidak menyuruh hambaNya untuk ikhlas melainkan ikut kesungguhan bersamanya.” Kejeniusannya yang ketiga mengenalkanku pada dunia yang sebenarnya. “Jannah itu mahal, akhi!” tambahnya.

Rehat sejenak dari aktivitas yang kian memadat membuatku mengambil sebuah keputusan. Banyak dari lembaran episode mereka lalui tanpa kehadiranku. Ku kira mereka melemah, namun ternyata mereka justru semakin kuat. Menapak sejarah membangun peradaban. Menggoreskan nama dengan tinta emas dan aku tidak berada di sana. Kini bukan lagi mereka, aku kembali dengan tertunduk, tersipu malu, pada Allah juga pada mereka, “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. An-Nahl: 18)

Kata mereka, “Tidak ada waktu bersantai. Bagi seorang mukmin tempat beristirahat adalah saat ketika kaki telah menapak di syurga.” Sambutannya menampakkan kejeniusannya yang keempat. Sebelum semuanya usai, mereka kembali datang dan berkata, “Kali ini Allah mengistirahtkan kita sejenak, bukan untuk terlambat tapi untuk menyusun kembali hati yang sudah terkoyak. Tenang, kapal belum beranjak dari dermaga.” Telah lengkap lima kejeniusan ini.


Serambi Madinah, 4 Sya’ban 1434 H
Kala mentari sembunyi di balik peraduannya. Untuk ikhwah FK2PI, teruslah berjuang membangun peradaban. Kelak kan terukir dalam sejarah sebuah perjuangan, semangat, dan ukhuwah yang tak lekang oleh waktu.

Embun Bening


Sebab hujan kan berhenti
Melukis pelangi di sudut langit teduh
Berlomba dengan warna buram di atas beningnya kerinduan
Hati bercerita pada rumput yang basah
Atas penantian yang begitu lama
Tapi entah setiakah ia pada lirih satu satu
Menunggu langit biru
Tapi mungkin masih malu pada ombak yang menari
Dulu berlari
Laju
Tanpa henti
Kini terdiam, sudah begitu lama
Ya… sudah begitu lama
Bukan karena lemah
Namun semangat yang kian redup
Hanyut pada istirahat yang panjang
Awalnya sekali
Ia butuh
Belajar untuk memulai
Menulis lembaran yang telah lama kosong
Satu huruf, jadi kata, lalu kalimat
Besok akan kembali
Sebab betul hujan kan berhenti


*Serambi madinah, menanti irama kaki yang melompat

Alis Tebal Itu...



Mengenang kembali serpihan-serpihan episode lalu
Ketika pertama kalinya kedua bibir menyapa
Walau saat itu rasa malu menguasai
Menjawab sekadar mencairkan suasana

Sosok sederhana itu
Entah harus memulai darimana menggambarkan dirinya
Matanya yang bening sebening embun di ujung surya
Darinya terpancar sejuta kebaikan
Bulir-bulir keringat itu jadi saksi betapa lembutnya sang pemilik hati
Sekejap lenyap sejuta gusar saat menatap teduh wajahnya
Entah kepada pelabuhan beruntung manakah kan dilabuhkan pelayarannya

Kini baru ku sadar betapa mudahnya ia dicinta
Andai waktu dapat disimpan dalam saku

Alis tebal itu…
Ia yang ku cinta
Sebab tanpa malu ia memanggilku “Sahabatku”


Dikolong langit serambi madinah, 27/2/13
Menyusuri keheningan malam dengan nada sms darinya

Etalase kaca

Orang-orang menyebutnya aktivis. Ya… seorang aktivis. Bagi sebagian orang dirinya mungkin hadir dengan segala bentuk keasingan. Pakaian, perilaku, cara berjalan, tutur katanya berbeda dengan kebanyakan lainnya. Setiap pertanyaan yang menghampiri mereka, “Loh, kok pakaiannya seperti ini?” atau “Dek, ngga usah terlalu ekstrim. Hidup dibawa santai saja.” Kerap mereka jawab dengan santai sambil tersenyum dan penuh hikmah, “Ini sunnah dan aku cinta akan hal ini.” Beginilah gambaran singkat kehidupan aktivis.

Mereka telah meng-azzam-kan diri mereka dengan dakwah. Sebuah kebaikan yang Allah pun memuji akan pekerjaannya. Allah telah mengabadikan salah satu nasihat Luqman kepada anaknya untuk senatiasa menyebarkan kebaikan, “Wahai anakku! Laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.” (QS. Luqman [31] : 17). Demikianlah pentingnya perkara ini hingga Allah pun mewasiatkan kepada kita untuk menyampaikan kepada setiap jiwa yang haus di luar sana.

Mereka pun (baca: aktivis) sadar akan pentingnya estafet dakwah ini. Dari generasi ke generasi berikutnya. Melahirkan bibit unggul yang siap berkorban demi tegaknya kalimat tauhid di bumi pertiwi. Ia pun bak anak tangga yang sedikit demi sedikit, tahap demi tahap, sejengkal demi sejengkal dilalui dengan segala suka duka. Setiap fase tersebut melahirkan sejuta luka. Luka yang tidak hanya menguras keringat dan air mata. Tapi juga pahatan hati yang sulit untuk dihilangkan. Dari sinilah lahir setiap karakter yang berbeda dalam melihat setiap peluang dan masalah. Dari sinilah lahir perbedaan sikap yang kadang sulit untuk dipahami.

Ketika sebagian mereka telah mencapai anak tangga tertinggi. Setelah melalui fase demi fase dalam dakwah, maka keluarlah sang pejuang dengan “risalah” yang berbeda bagi setiap pemilik hati. Sungguh, diharapkan lahir seorang pejuang yang gagah berani bak panglima yang berdiri di baris terdepan, tangan kanannya memegang pedang tanpa periasi, tangan kirinya menarik tali kekang kuda membawanya berlaju cepat, melesat tanpa memperdulikan apa akhirnya. Pejuang yang menanggalkan perhiasan dunia. Yang ia tahu hanyalah pemindahan tempat istirahat dari istana ke liang lahat, dari jubah besi ke kain kafan, dan dari kerabat ke kesendirian.

Namun, apa daya aktivis juga manusia biasa. Goresan luka dan pahatan hati kadang muncul dari kalangan sendiri. Sedih rasanya, ketika anak panah itu justru tertancap kepada orang yang selangkah dengannya. Sungguh miris rasanya ketika kalimat “Kami tidak mau menghambat dakwah karena keegoisantris kelompok. Semoga limpahan pahala itu lebih banyak mengalir kepada kita.” harus keluar. Masya Allah… seorang hina ini sulit untuk mengartikan bagaimana dan harus dari sudut mana. Mungkin ini hanyalah ungkapan hati sang aktivis setelah penat dan lelahnya dalam urusan dakwah, atau mungkin yang lain. Apalagi setelah perselisihan itu naik ke permukaan, ditambah sulitnya untuk menegakkan hujjah atas dirinya sendiri. Tapi persoalan hati adalah persoalan ghaib, hanya tuan rumah dan Allah saja tahu, sungguh naif jika kita mengambil kesimpulan lewat kacamata sendiri. Mengartikan setiap aktivitas sesuai ilmu dan cara pandang kita. Sebab niat seseorang tidak kita ketahui, apalagi ketika akar permasalahan belum jelas dan datangnya justru bukan dari orang yang bersangkutan.

Setiap perkataan akan sampai pada muaranya masing-masing. Tanpa sadar terkadang lisan terus bersilat tanpa melihat kondisi. Men-judge seseorang apalagi ketika kita membandingkan dengan apa yang ada pada diri kita. Padahal rangkaian kata tersebut sebagiannya “mungkin” akan melahirkan penyakit. Penyakit yang sulit untuk diobati. Penyakit yang sangat mudah menimpah manusia yang lemah. Bukan lemah fisik namun lemah hati. Penyakit yang menjangkiti orang yang berpunya. Dialah penyakit ‘ujub dan sombong. Terkadang aktivis pun sulit untuk terhindar. Apalagi ketika tahapan demi tahapan telah dilaluinya dan ujungnya bertemu dengan yang selevel dibawahnya.

Padahal Rasulullah telah menyampaikan bahayanya penyakit ini. Sebagaimana sabda Rasulullah,

“Tidak akan masuk Surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat dzarrah.” Kemudian ada seorang laki-laki bertanya : “Bagaimana dengan orang yang suka mengenakan baju bagus dan sandal bagus?” Beliau menjawab : “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sedangkan kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim)

Subhanallah, kita semua meminta perlindungan dari perasaan benar sendiri dan menganggap “salah” orang yang berseberangan dengan kita. Imam Syafi’i pernah mengatakan: “Orang yang paling tinggi nilainya adalah orang yang tidak melihat nilai dirinya. Dan orang yang paling banyak kelebihannya ialah orang yang tidak melihat kelebihan dirinya.” Mungkin mereka punya cara pandang dan niat yang sulit untuk kita terjemahkan. Bukan prasangka yang jadi tuan dalam permainan ini namun kita kembalikan kepada Allah yang Memegang setiap hati manusia. Al Hasan bin Ali pernah berkata: “Tahukah anda apa tawadhu’ itu? Tawadhu’ adalah anda keluar dari rumah anda, setiap kali anda bertemu dengan muslim yang lain, maka setiap itu pula anda merasa ia lebih baik dari anda.” Siapakah kita dibandingkan mereka wahai aktivis?

Lalu untuk apa wahai aktivis air mata dan rasa sakit hati itu, ketika kita mendapat nasihat dan “tausiyah” dari orang yang mungkin lebih muda dan kapasitas ilmunya tepat di bawah kita? Hingga berlarut-larut terpikirkan dan sulit untuk terhapus. Tirai kamar pun menjadi saksi atas ketidakpuasan kita akan kejadian tersebut.

Al-Mubarak bin Fudhalah bercerita: “Umar bin Khatthab pernah terlibat pembicaraan dengan seorang lelaki. Lalu lelaki tersebut berseru kepada Umar: “Takutlah kepada Allah, wahai Amirul Mukminin!” kemudian ada seseorang yang memprotes lelaki tersebut: “Anda jangan berkata begitu kepada Amirul Mukminin.” Kemudian Umar berkata: “Biarkan dia mengatakannya kepadaku, ucapannya sangat bagus. Tidak ada kebaikan bagi kamu jika kamu tidak mengatakannya. Dan tidak ada kebaikan bagi kami jika kami tidak menerimanya.”

Abu Hanifah juga pernah mengalami hal serupa. Ada seseorang yang perneah berseru kepadanya: “Takutlah kepada Allah!” Setelah mendengar ucapan itu Abu Hanifah langsung gemetar, wajahnya pucat pasi dan kepalanya tertunduk. Lalu berujar: “Semoga Allah membalas jasa anda dengan baik. Betapa butuhnya manusia –setiap saat- dengan nasihat yang diucapkannya itu.”

Allahu Akbar… Contoh pertama adalah seorang khalifah dan yang terakhir adalah seorang ulama yang terkemuka di zamannya, tapi begitulah jawaban mereka atas nasihat untuknya. Lalu siapakah diri kita wahai aktivis dibanding mereka? Di manakah kita bisa menempatkan rasa keluh kesah dan sakit itu di lembar-lembar kehidupan mereka?

Ketahuilah wahai saudaraku… Amalan-amalan dalam setiap fase dakwah kita tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan pejuang-pejuang sebelum kita. Lalu apa yang bisa kita pertaruhkan di hadapan Allah? Seringnya kita musyawarah? Atau banyaknya jumlah bawahan kita? Atau mungkin dari indahnya rangkaian kalimat yang keluar dari bibir kita saat orang lain terpesona dengan setiap gagasan kita? Masya Allah… semoga Allah mengaruniakan hati yang ikhlas dan tawadhu’ kepada kita. Sebab kualitas batin suatu amaliah sangat menentukan nilai amalan itu. Gerak hati yang abstrak dan samar perlu mendapatkan perhatian yang besar agar melahirkan lisan dan sikap yang jauh dari kepincangan dakwah. Sebab Ibnul Qayyim mengatakan: “Amal tidak diukur tinggi rendah kualitasnya oleh bentuk dan jumlahnya, tetapi hanya diukur dengan apa yang ada di dalam hati. Bisa jadi bentuk kedua amal sama tapi kualitas di antara keduanya seperti jarak antara langit dan bumi.”

Semoga kita terhindar perasaan benar padahal sejatinya kita terjatuh dalam liang kesalahan. Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuknya agar kita selalu berjalan dengan tawadhu’ dan istiqomah di dalamnya.



-Di kolong langit serambi mandinah saat mentari sembunyi dibalik peraduannya

Abu Abdillah

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons