Dinar, Mata Uang Tanpa Inflasi


Sebagian besar dari Anda yang tahu ekonomi,
mungkin akan menganggap gila kalau ada yang mengatakan bahwa ada mata uang yang tidak mengenal inflasi.

Di manapun kita belajar ekonomi, pasti diajarkan apa yang namanya inflasi.
Tapi ternyata, ada mata uang yang sejak 1400 tahun lalu sampai sekarang nilainya sama.
Apa itu? “Dinar”
Apa benar? Tentu saja.
Dalam sejarah (sebagaimana diungkap dalam hadis) dinyatakan satu dinar di masa Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wasallam, cukup untuk membeli 1 ekor kambing.
Ternyata saat ini (tahun 2011) satu keping dinar juga tetap cukup untuk membeli 1 ekor kambing.


Waktu selama 1400 tahun nampaknya cukup untuk membuktikan bahwa konsep mata uang tanpa inflasi
bukan omong kosong.
Malah jika dibandingkan dengan seluruh mata uang yang beredar di seluruh dunia,
mata uang “Dinar” justru mengalami peningkatan nilai nominal bukan inflasi.
Misalnya untuk pergi haji, di tahun 1997 orang butuh 97 dinar untuk pergi haji, tapi tahun 2003 hanya butuh 50 dinar untuk pergi haji, dan tahun 2010 cukup dengan 22 dinar kita bisa pergi haji.

Tapi mari luruskan dahulu apa yang dimaksud dengan dinar ini.
Yang dimaksud dengan mata uang “Dinar” di sini adalah koin dinar berbahan dasar emas 22 karat dengan berat 4,25 gr yang standarisasinya ditetapkan oleh Umar Bin Khattab. Jangan terkecoh dengan mata uang Dinar Iraq, Dinar Kuwait, Dinar Libya, dsb, karena dinar tersebut cuma dinar nama atau dinar pelabelan, bukan dinar emas.

Saya sendiri tidak pernah terpikir tentang mata uang “Dinar” seperti ini sampai saya membaca buku “Think Dinar” yang ditulis oleh Endy J Kurniawan.
Buku ini membuka mata saya betapa mata uang dinar bisa menyelamatkan dunia.
Dengan Dinar, mungkin tidak ada lagi spekulan mata uang, tidak ada lagi krisis moneter,
karena semua takarannya adalah emas, perak (dirham).
Tapi tentu saja sulit mengubah tatanan ekonomi yang sudah begitu mengakar.

Karena itu Negara manapun yang berani lebih dulu mengadopsi system dinar,
maka akan menjadi negara yang paling kebal krisis dan inflasi.
Misalnya saja Indonesia punya Dinar Indonesia.
Tiba tiba mata uang Indonesia dianggap jatuh seperti krisis moneter dulu.

Tidak usah khawatir, jual saja saja emasnya.
Jadi tidak akan pernah jatuh.

Selama ini terbukti harga emas tidak pernah jatuh.
(turun fluktuatif, iya, tapi setiap tahun pada akhirnya meningkat).

Lalu bagaimana mungkin kita berbelanja kalau harus menenteng emas kemana-mana?
Ya tetap saja uang kertas ada, tapi uang kertas dengan konsep dinar adalah sertifikat emas.

Uang kertas zaman dahulu konsepnya sama dengan dinar.
Uang kertas zaman dahulu adalah sertifikat emas.
Setiap uang kertas dicetak, maka ada cadangan emas dengan nilai tertentu yang disimpan.
Tapi itu dulu, sekarang emas dan mata uang tidak ada hubungannya.
Ketika Amerika kehabisan sumber daya akibat perang di Vietnam dan butuh banyak uang,
maka Amerika mencetak uang sebanyak-banyaknya dengan tidak lagi memperhitungkan cadangan emas.
Amerika bahkan membatalkan perjanjian Internasional yang menentukan hitungan mata uang dan cadangan emas.
Sejak saat itu mencetak uang dan emas tidak ada kaitannya lagi.

Saat ini dunia masih tetap berhadapan dengan resiko krisis .

Negara maju dan kaya walaupun kelihatannya mendukung system moneter yang sedang dipakai saat ini,
diam diam mempersiapkan diri kalau kalau terjadi resesi.
Apa yang mereka siapakan. Emas.
Kini hampir semua Negara besar menambah stok emas sebagai cadangan mereka.
Sayangnya Indonesia yang justru menurut Wikipedia mempunyai tambang emas terbesar di dunia,
tersedot emasnya keluar negeri.

Seandainya saja kita berpikir “Dinar”…
http://www.isaalamsyah.com/

High Quality Jomblo, Why Not?


Salam ukhuwah sobat muslim, kali ini kita akan menceritakan satu kisah nyata tentang seorang pemudi yang sedang dilanda konflik batin. Yah semoga saja sobat muda muslim bisa mendulang pelajaran darinya. Kisah ini tentang seorang remaja putri yang lahir di tengah keluarga sederhana. Keluarga yang amat protektif, terutama bundanya yang membuat dia tumbuh menjadi gadis pendiam dan tidak pandai bersosialisasi dengan lingkungannya. Termasuk di sekolahan.

Aku (pemudi tersebut-red) berbeda dengan kebanyakan remaja lainnya yang pandai bergaul, pandai berdandan, dan berpakaian menarik. Aku tidak terlalu memerhatikan penampilan, bahkan ayahku sendiri bilang kalau aku ini kuper. Meskipun begitu aku tidak ingin ketinggalan dalam hal pelajaran. Selama ini nilai-nilaiku baik dan orang tuaku selalu memotivasiku untuk menjadi anak yang pandai, dan menurutku aku telah melakukan yang terbaik untukku juga untuk mereka. Semua peraturan yang ditetapkan oleh mereka aku coba untuk melaksanakannya dengan baik. Namun satu peraturan yang aku tidak setujui dari sekian banyak peraturan.


“Nak, kamu tidak boleh pacaran, kalau bunda dan ayah mendapati kamu pacaran, lebih baik kamu tidak usah sekolah sekalian.” Yah beginilah orang tuaku selalu menasihatiku. Awalnya aku tidak begitu mempermasalahkan ini, akan tetapi lama-kelamaan muncul keinginan dalam hatiku untuk tampil lebih dari teman-temanku. Ingin rasanya aku memberontak dan berteriak, ”Aku tidak setuju!” mungkin karena aku sudah remaja dan rasanya aku ingin katakan ini kepada mereka. Dalam pikiranku, bagaimana pun, aku juga seorang remaja normal yang membutuhkan cinta dari lawan jenis. Akhirnya ada penolakan keras dalam diriku!

Pengawasan dari orangtuaku sangat ketat, tapi biar bagaimana pun mereka juga manusia biasa. Tanpa sepengetahuan mereka aku jadiandengan salah seorang ikhwan (laki-laki-red) yang masih satu sekolahan denganku. Waktu itu aku masih duduk di SMP kelas III. Aku seperti anak pingitan yang ketika ada kesempatan langsung lari kabur untuk pacaran. Yah ini kali pertama aku mengenal namanya pacaran. Setelah jadian, aku dan ikhwan itu jadi sering bertemu, saling menyapa dan melempar senyum. Kadang-kadang aku meliriknya dan mencari-carinya ketika ia luput dari pandanganku. Meski kami pacaran, aku tidak mau mencontoh gaya pacaran teman-temanku pada saat itu. Aku lebih senang seperti ini, biasa-biasa saja.

Meskipun begitu, tetap saja ada rasa rindu di hatiku bila tidak bertemu dengannya. Aku ingin dia selalu berada di sampingku, menyimak cerita-ceritaku, mendengar keluhan dan curhatanku, dan yang paling penting aku bisa bersamanya selalu. Tapi itu tidak mungkin karena kendalaku yang harus menyembunyikan pacaranku dari orang tuaku. Aku takut mereka akan marah bila mengetahui hal ini, atau bahkan mereka akan mengeluarkanku dari sekolahan. Jadi aku harus sembunyi-sembunyi bahkan berbohong kepada mereka bila ingin bertemu dengan dia. Tapi, aku tidak pernah pergi berdua-duaan dengan ikhwan itu, aku selalu mengajak temanku. Tapi tetap saja ini tidak dibenarkan.

Meski waktu bertemu terbatas hanya di sekolah saja, namun hampir setiap waktu aku teringat dengannya, wajahnya terus muncul dalam pikiranku. Dia benar-benar menyita waktuku dari pelajaran, bahkan pada saat pelajaran pun aku terkadang senyum-senyum sendiri mengingatnya.Astaghfirullah!!! Namun begitu aku tidak ingin keseringan bertemu dengannya, entar ketahuan sama bunda dan ayah kalau aku sudah melanggar peraturan. Aku sering ngeri membayangkan hal itu. Sudah dapat kuterka, pasti kemarahan akan meledak dari mereka dan satu hal yang paling aku takutkan jika rahasiaku ketahuan, mereka tidak akan menyekolahkanku lagi.

Konsentrasi belajarku jadi berkurang bahkan hilang, moodku hanya selalu ingin bertemu dengan dia. Nilai-nilaiku di sekolah jadi jeblok, sikapku bahkan berubah drastis, begitu kata teman-temanku. Aku mendapat teguran keras dari orang tuaku. Mereka menuntutku untuk belajar lebih giat lagi, agar nilai-nilaiku kembali baik seperti dulu. Aku sadar, kalau aku sudah mengecewakan mereka. Aku ingin memperbaiki nilai-nilaiku yang anjlok. Aku pikir untuk sementara waktu aku harus memfokuskan diri pada pelajaran. Aku memintanya agar dia mau mengerti dengan keadaanku saat ini meski aku selalu merasa jenuh dengan kekangan dari orang tuaku. Tapi mau bagaimana lagi, waktu luangku sangat dibatasi oleh mereka.

Namun Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar segalanya. Dia tidak membiarkanku terlalu jauh dalam melangkah dan terseret arus ke lembah pacaran yang suram itu. Awal dari perubahan itu melalui temanku, sebut saja Dina, Allah memberikan petunjuk-Nya dan membukakan pintu hatiku.

Hari itu aku diajak Dina untuk mengikuti pengajian yang setiap pekan biasa dia ikuti. Entah mengapa hatiku tergerak dan ada keinginan untuk selalu mengikutinya. Di sana aku merasa ada sesuatu yang berbeda. Ada keteduhan dan kedamaian, dan di sana pula aku mengetahui ada keindahan dan kesempurnaan Islam walau hanya segelintir saja. Aku juga baru tahu kalau pacaran itu tidak ada dalam Islam alias hukumya HARAM dan ganjaran yang paling pantas didapatkan dari Allah bagi yang nekat melakukannya adalah ADZAB. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera mengakhiri hubungan terlarang itu dengannya. Alangkah berdosanya aku selama ini. Aku telah menaruh cintaku di tempat yang salah.

Mengapa pemahamanku tentang cinta begitu sempit dan mempersempit arti cinta itu sendiri? Aku telah menodai sucinya cinta sebab tak berusaha mengetahui apa sebenarnya arti cinta itu. Paling tidak yang aku ketahui saat ini cinta yang abadi hanya untuk Allah semata. Aku pun baru menyadari betapa beruntungnya aku yang memiliki orang tua yang begitu memperhatikan perkembanganku, bahkan pada saat remajaku yang penuh godaan, mereka selalu menekanku untuk tidak terjerumus dalam lembah pacaran yang hanya akan mendapatkan kenikmatan semu, namun derita yang berkepanjangan.

“Maafkan aku Bunda, maafkan aku ayah, karena selama ini aku tidak mendengarkan nasihatmu. Aku benar-benar menyesali segala perbuatanku dan telah kutancapkan dalam hatiku, ini tidak akan terulang lagi untuk kedua kali!!!”

Di pipiku terbentuk anak-anak sungai, gambaran hatiku yang sedang merintih. Sangat sedih. Aku tidak dapat lagi membendung air mataku, kubiarkan saja mengalir membasahi pipiku dengan harapan beban berat di pundakku akan hilang. Aku harus berusaha mengubur dalam-dalam cerita yang kelam itu, dan mungkin ada banyak hikmah yang dapat kupetik agar tidak melakukan kesalahan yang sama dalam menata kehidupan yang lebih baik

Aku ingin menjadi “High Quality Jomblo” dan tetap pede dengan jomblo tentu saja karena Allah. Tidak ada lagi sekarang kata pacaran dalam kamus hidupku. Insyaa Allah
Sumber: Kisah kamu, elfata 01.08 dengan sedikit perubahan

Drama Hijrah Rasulullah

Haekal melukiskan kisah ini sebagai "kisah yang paling cemerlang dan indah yang pernah dikenal manusia dalam sejarah pengejaran yang penuh bahaya, demi kebenaran, keyakinan dan iman".

Yatsrib atau Madinah sudah pasti menjadi masa depan Muhammad dan pengikutnya. Puluhan muslimin telah menyelinap pergi ke sana. Kaum Qurais tak terlalu peduli. Perhatian mereka pada Muhammad yang masih di Mekah yang tak akan mereka biarkan lolos. Padahal Muhammad telah siap untuk pergi. Abu Bakar telah menyiapkan dua unta baginya dan bagi Muhammad. Unta itu dipelihara Abdullah bin Uraiqiz.

Sampai pada harinya, perintah Allah untuk hijrah pun turun. Muhammad memberi tahu Abu Bakar. Para pemuda Qurais juga semakin ketat memata-matai rumah Muhammad. Mereka sesekali mengintip ke dalam rumah, melihat Muhammad berbaring di tempat tidurnya. Namun Muhammad meminta Ali mengenakan mantel hijaunya dari Hadramaut serta tidur di dipannya. Kaum Qurais tenang. Mereka pikir Muhammad masih tidur. Ketika esok harinya mendobrak pintu rumah Rasul, mereka hanya mendapati Ali yang mengaku tak tahu menahu tentang keberadaan Muhammad.

Malam itu, Muhammad telah menyelinap dari jalan belakang. Bersama Abu Bakar, ia berjalan mengendap dalam gelap, menuju sebuah gua di bukit Tsur. Sebuah pilihan cerdik. Kaum Qurais tentu menduga Muhammad menuju Yatsrib di utara Mekah. Muhammad malah melangkah ke selatan. Kejadian ini juga memperlihatkan bahwa Muhammad tetap menggunakan nalar yang wajar sebagai manusia. Jika mau, ia dapat meminta perlindungan Allah berwujud kesaktian seperti yang dikejar-kejar banyak manusia sekarang. Tapi tidak, Muhammad menunjukkan bahwa Islam bukanlah agama untuk kepentingan semacam itu.

Muhammad dan Abu Bakar hanya menjalankan siasat biasa. Dalam persembunyiannya, mereka tetap memasang telinga melalui Abdullah, anak Abu Bakar, yang tetap tinggal di Mekah. Setiap malam, Abdullah menemui mereka di gua melaporkan perkembangan suasana serta mengirim makanan yang disiapkan Aisyah dan saudaranya, Asma. Setiap pagi, pembantu Abu Bakar -Amir bin Fuhaira-menggembala kambing menghapus jejak itu.

Tiga malam mereka bersembunyi di gua itu. Satu riwayat menyebut sejumlah pemuda Qurais telah mencapai bibir gua. Abu Bakar gemetar meringkuk di sisi Muhammad. Saat itu, Muhammad berbisik. "La tahzan, innallaaha ma'ana (Jangan sedih, Allah bersama kita) ". Rasul juga menghibur dengan kata-kata, "Abu Bakar, kalau kau menduga kita hanya berdua, Allah-lah yang ketiga." Orang-orang Qurais itu lalu pergi. Konon mereka melihat sarang laba-laba serta burung merpati mengerami telur di mulut gua. Tak mungkin Muhammad bersembunyi di situ.

Setelah aman, Abdullah bin Uraiqiz membawa keluar mereka. Tiga unta beriringan ke Barat, berbekal makanan yang diikat dengan sobekan sabuk Asma. Abu Bakar disebut membawa seluruh uang simpanannya sebesar 5 ribu dirham. Mereka berjalan berputar menuju arah Tihama, dekat Laut Merah, melalui jalur yang paling jarang dilalui manusia. Baru kemudian mereka berbelok ke utara, ke Yatsrib, menapaki terik gurun. Siang-malam mereka terus berjalan.

Kaum Qurais membuat sayembara dengan hadiah 100 unta bagi yang dapat menangkap Muhammad. Suraqa bin Malik tergiur iming-iming itu. Ketika mendengar info ada tiga orang berunta beriringan, ia mengelabui kawan-kawannya. "O.. itu adalah si anu," begitu kira-kira ucapan Suraqa. Namun ia kemudian memacu kudanya sendirian mengejar Muhammad. Sedemikian menggebu Suraqa, sehingga kudanya tersungkur. Sekali lagi, ia tersungkur setelah dekat dengan Muhammad. Suraqa lalu menyerah karena menganggap dirinya tengah sial.

Dua pekan kemudian, Muhammad tiba di Quba -desa perkebunan kurma di luar kota Yatsrib. Ia tinggal di sana selama empat hari dan membangun masjid sederhana. Di sana pula Muhammad bertemu kembali dengan Ali yang berjalan kaki ke Yatsrib. Mereka kemudian berjalan bersama menuju kota, dan disambut sangat meriah oleh warga Yatsrib dengan bacaan salawat. Orang-orang Arab -baik yang Islam maupun penyembah berhala-serta orang-orang Yahudi tumpah ruah untuk melihat sosok Muhammad yang banyak diperbincangkan.

Orang-orang berebut menawarkan rumahnya sebagai tempat tinggal Rasul. Tapi Muhammad menyebut bahwa ia akan tinggal di mana untanya berhenti sendiri. Sampai ke sebuah tempat penjemuran korma, unta itu berlutut. Muhammad menanyatakn tempat itu milik siapa. Ma'adh bin Afra menjawab, rumah itu milik Sahal dan Suhail -dua orang yatim dari Banu Najjar.

Setelah dibeli, rumah itu pun dibangun menjadi masjid. Hanya sebagian dari ruangan masjid itu yang beratap. Di sanalah orang-orang miskin --dari berbagai tempat yang datang menemui Muhammad untuk memeluk Islam-- kemudian ditampung. Muhammad membangun rumah kecil bagi keluarganya di sisi masjid itu. Semasa pembangunan rumah itu, Rasul tinggal di rumah keluarga Abu Ayyub Khalid bin Zaid. Sekarang masjid yang dibangun Rasulullah itu menjadi masjid Nabawi yang teduh di Madinah. Sedangkan rumah tinggalnya menjadi tempat makam Rasul yang kini berada di dalam masjid Nabawi.

Pada usia 53 tahun -setelah 13 tahun masa kerasulannya serta membangun pondasi keislaman-Muhammad membuat langkah besar itu: hijrah. Langkah berbahaya namun mengantarkannya menjadi pemimpin utuh. Pemimpin keagamaan, kemasyarakatan juga politik. Peristiwa pada tahun 623 Masehi itu sekaligus mengajarkan keharusan umat Islam untuk berani menempuh langkah besar untuk mencari lingkungan atau lahan baru yang memungkinkan benih kebenaran dan kebajikan tumbuh lebih subur.

Penemuan Baru: Sajadah Pengurang Nyeri Otot dan Sendi

Seorang pemilik toko sajadah di kota Karlsruhe, Jerman barat daya menciptakan sajadah penguat tulang, dan menamakannya “Al-mihrab”. Saat pertama dilihat sajadah nampak biasa, tetapi panjangnya yang mencapai satu seperempat meter, yakni lebih panjang sekitar 15 cm dari sajadah biasa demikian juga teksturnya mengingatkan kita kepada “tikar yoga”. Dan sajadah itu diisi dengan campuran bahan busa dengan ketebalan 1,5 cm.

Inearer sang penemu menurut kantor berita Jerman mengatakan bahwa bahannya mirip dengan yang digunakan di rumah sakit secara umum, dan sajadahnya akan mengurangi “rasa nyeri pada lutut, punggung dan kaki” selama sholat.

Inearer terpaksa meminta persetujuan dari kalangan ulama muslimin dan telah membuat 50 prototipe yang bervariasi panjang dan ketebalannya sebelum akhirnya sampai pada versi terbaru. Inearer telah mendapat hak paten untuk sajadahnya ditambah penghargaan dari para ulama.

Perlu dicatat bahwa ide ini muncul ketika ia melihat keluhan dari teman-teman yang lansia dan kerabatnya yang merasakan nyeri pada persendian selama dalam sholat, tentu saja hal ini dapat mengalihkan perhatian dari tujuan sholat yang sebenarnya.

Inearer mengatakan “tidak seharusnya kenyamanan dan ketenangan orang yang sholat terganggu dengan apapun” tetapi jika Anda merasakan rasa sakit maka hal ini akan mencuri perhatian anda dan kemudian tidak akan dapat sholat (sebagaimana mestinya)”.

Inearer telah menjual sekitar 2000 sajadah sejak diumumkan melalui Internet pada Oktober lalu, dan 60 persennya dari jumla tersebut dibeli oleh umat muslim di Jerman, sementara sisanya terjual di Turki, di mana sajadah tersebut diproduksi, yang penciptanya bertujuan memasarkannya di seluruh dunia.

http://voa-islam.com/news/islamic-world/2011/01/22/12904/penemuan-baru-sajadah-pengurang-nyeri-otot-dan-sendi

Wahai Pemuda, Jangan Layu Sebelum Berbuah!

Sering di usia produktif, dorongan kuat untuk beramal saleh berbanding lurus dengan dorongan melanggar.

SEMUA manusia di dunia ini secara fisik tunduk kepada fenomena penciptaan-Nya. Ia akan meniti fase shobi (bayi), thifl (balita), murahiq (pemuda), kuhulah (dewasa), dan syaikh (tua). Makhluk-makhluk-Nya itu selalu bertasbih kepada Allah Swt dengan bahasanya sendiri. Tetapi, usia paling menentukan arah kehidupan seseorang adalah fase murahaqa (puber) dan kuhulah (produktif) antara usia 15-35 tahun.

Ada sebuah ungkapan ahli hikmah: “Siapa yang tumbuh, berkembang pada masa mudanya di atas, akhlak, orientasi (ittijah), kepribadian (syakhshiyyah), karakter, bakat (syakilah) khusus, maka rambutnya akan memutih (al masyiibu) dalam keadaan ia memiliki tradisi (daabu), akhlak seperti itu.”

Ahli sastra Arab dahulu pernah menjelaskan impian orang tua yang ingin kembali pada masa muda. Tetapi, itu suatu kemustahilan.
اَلاَ لَيْتَ الشَّباَب يَعْود يَوماً . سأُخْبِره بِماَ فَعَلَ الْمَشيْب
“Alangkah indahnya jika masa muda kembali lagi hari ini. Aku akan memberitahukan kepada khalayak (ramai) tentang apa yang dilakukan oleh orang yang sudah pikun dan beruban”.

Marilah kita hitung usia produktif dalam logika kehidupan manusia.
Umumnya umat Rasulullah Saw berusia antara 60-70 tahun (HR. Ahmad). Seumpama kita ditakdirkan berumur 63 tahun seperti uswah, qudwah (panutan) kita, 13 tahun pertama tentu tidak masuk perhitungan, berarti tidak bisa kita nilai. Kita belum baligh. Jadi, usia kita yang bisa dihitung 47 tahun.

Jika dalam sehari tidur belasan jam. Yang tersisa setiap hari 2/3. Tinggallah seputar 16 jam. Dalam aktivitas tidur tersebut tidak ada catatan amal. Untuk ukuran ini saja, dari 47 tahun, yang tertinggal 2/3-nya.

Lantas, sebagian besar ke mana? Orang itu produktif pada usia puber atau pada usia tua? Pertanyaan itu perlu kita jawab secara serius. Supaya aktivitas kita bisa dihisab oleh Allah Swt.

Semakin sering kita berhasil menghadapi godaan pada usia muda, seperti itulah ending kita pada masa tua (syaikhukhah). Sebaliknya, semakin sering kita kalah dalam mengantisipasi ujian, seperti itulah akhir kehidupan kita. Pertarungan yang paling berat dan keras adalah pada usia muda. Kalau diibaratkan seperti matahari, maka usia muda adalah ketika sinar matahari berada persis di tengah-tengah kita. Betapa teriknya pada siang bolong itu.

Itulah sebabnya Allah Swt memberikan penghargaan kepada pemuda yang tumbuh dalam keadaan beribadah kepada Allah Swt (syaabun nasya-a fi ‘ibadatillah). Bahkan Allah Swt memberikan perlindungan di padang Mahsyar, ketika tiada naungan kecuali naungan-Nya. Karena pada usia produktif tersebut dorongan kuat untuk beramal saleh berbanding lurus dengan dorongan melanggar. Maka, mengelola masa muda agar tunduk kepada karakter keagamaan merupakan perjuangan yang berliku, licin, dan mendaki. Hanya pemuda yang mendapat rahmat dari-Nya yang berhasil melewati godaan.
أَللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمْرِيْ أَخِرَهُ وَ خَيْرَ عَمَلِيْ خَوَاتِيْمَهُ وَ خَيْرَ أَيَّامِيْ يَوْمَ أَلْقاَكَ فِيْهِ
“Ya Allah, jadikanlah usiaku yang paling baik adalah pada penghujungnya, dan amalku yang terbaik adalah pungkasannya, dan hari-hariku yang terbaik adalah hari-hari saya bertemu dengan-MU.” [al Hadits].

Secara sunnatullah keberhasilan masa tua kita ditentukan oleh perjuangan yang tak kenal menyerah di masa muda. Keberhasilan mustahil diperoleh dengan gratis (majjanan), tanpa melewati proses ujian. Ibarat anak sekolah, untuk naik kelas harus mengikuti ujian. Jika kita kurang terampil mengelola masa muda dengan menggali potensi thalabul ‘ilmi (ijtihad), taqarrub ilallah (mujahadah), jihad fii sabilillah (jihad), secara maksimal kelak akan kita pertanggungjawabkan di Mahkamah Ilahi (‘an syabaabihi fiimaa ablaahu).
Ali bin Abi Thalib mengatakan:
مَنْ ساَءَ خُلُقُهُ عَذَّبَ نَفْسَهُ
“Barangsiapa jelek akhlaknya (ketika pemuda), ia akan tersiksa ketika tua.”

Mengikuti Siklus Ibadah
Mengapa kita perlu shalat lima waktu sehari semalam. Kita ibarat membuat kolam renang di depan rumah, setiap kali azan berkumandang kita segera membersihkan lumpur yang menempel dalam diri kita. Sehingga tidak tersisa sisi gelap dalam pikiran dan hati kita, demikianlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
demikian sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Allah Swt membuat perencanaan ibadah, agar kita selalu terjaga. Ibadah yaumiyyah, harian (shalat lima waktu), usbuiyyah, mingguan (shalat Jum’at, puasa Senin Kamis, puasa tiga hari dalam sebulan), syahriyyah, bulanan (puasa Ramadan), sanawiyyah, tahunan (shalat idul fithr dan idul qurban), marrotan fil umr, sekali seumur hidup (ibadah haji ke Baitullah).

Maka, kita perlu membuat standarisasi dalam beribadah. Ada empat kegiatan ubudiyah yang perlu kita lakukan dengan istiqomah (konsisten) dan mudawamah wal istimror (secara berkesinambungan).
Pertama : Shalat fardhu secara berjamaah di masjid
Kedua : Shalat sunnah rawatib ba’diyah dan qabliyah
Ketiga : Membaca al Quran satu juz sehari
Keempat : Ditambah dengan ibadah bulanan
Muhasabah : Seminggu sekali

Ibadah harian yang perlu dipertahankan untuk menjaga stamina ritme spiritual. Ibadah wajib kita lakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt (taqarrub). Ibadah sunnah kita lakukan, untuk membangun kecintaan secara timbal balik antara kita dengan Allah Swt. Jika kita sudah dicintai, aktifitas kita merupakan jelmaan dari kehendak-kehendak-Nya.

Supaya kita dekat dengan diri kita sendiri, kita perlu muhasabah usbuiyyah (intropeksi mingguan). Hati kita mengalami gerakan yang tidak berhenti. Dan itu harus selalu dikontrol. Jika kita sudah mencapai kenaikan grafik amal, dan kekurangan kita bisa kita hitung. Berarti kita dalam posisi ideal. Terjaga dari dosa, hanya Rasulullah Saw.

Bangkit Dari Keterpurukan
Jika kita terjatuh melakukan dosa, kita segera bangkit. Setiap langkah menuju dosa harus kita persempit ruangnya. Karena, dosa kecil yang kita remehkan, akan mengajak kepada dosa-dosa kecil berikutnya. Dosa itu beranak pinak, berkembang biak.

Langkah-langkah untuk bangkit, sebagai berikut:
Pertama: Istighfar (memohon ampun kepada Allah Swt). Bukan sekedar memperbanyak istighfar, sekalipun itu berpahala. Yang paling penting adalah dengan istighfar kita selalu menyadari seharusnya makin hari kekurangan, bau tidak sedap dalam diri kita semakin tertutupi (hilang).

Kedua, beramal. Setiap kali melakukan kejahatan, susullah dengan amal saleh. (ittaqillah haitsumaa kunta wa atbi’issayyiata al hasanata tamhuhaa). Kebaikan itu bisa menghapus dosa. Jika kita senang melakukan satu kebaikan, akan mengajak kepada kebaikan berikutnya. Misalnya, jika kita suka ke masjid, maka dengan sendirinya kita akan termotivasi untuk melakukan berbagai amal saleh di situ. Sholat fardhu, sholat sunnah, membaca Al-Quran, zikir dll.

Rasulullah Saw bersabda : “Jika engkau melihat seorang laki-laki terbiasa ke masjid, saksikanlah sesungguhnya ia seorang beriman.” [al Hadits].
Demikian pula jika kita senang melangkahkan kaki menuju ke tempat maksiat, maka akan mengerakkan untuk berbuat dosa berikutnya.

Jika kita sedang bersemangat dalam beribadah, lakukanlah sebanyak mungkin yang Anda mampu. Jika grafik ibadah menurun, minimal pertahankan yang wajib. Hati kita elastis, fluktuatif. Kita memiliki saat maju dan saat mundur. Dengan cara di atas kita bisa mengelola naik turunnya hati kita dengan baik.

Terakhir: Berdoa kepada Allah Saw, semoga kita tetap teguh dalam agama-Nya. Ya muqollibal qulub tsabbit qolbii ‘alaa diinik (Wahai Yang Membolak Balikkan hati, tetapkanlah hatiku diatas agama-MU).

Penutup, wahai para pemuda, ingatlah falsafah pohon pisang. “Janganlah mati sebelum berbuah.”

[Abu Hilyatil Auliyah Hadziqoh/www.hidayatullah.com]

Dari Makkah, Sang Nenek Terus Doakan Obama Masuk Islam


Sang nenek Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama, mendoakan cucunya itu masuk Islam. Tahun ini, nenek Obama datang ke Tanah Suci Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Dalam doanya selama di Makkah, dia selalu memohon kepada Allah SWT agar Obama masuk islam.

Nenek yang bernama Sarah Omar itu sekarang tinggal di Kenya. Dalam wawancaranya dengan koran Al Watan Saudi, nenek berusia 88 tahun itu, mengaku pergi ke Makkah bersama salah satu anaknya, yang juga paman Obama, Saeed Hussein Obama.

“Saya doakan Barack cucu saya untuk masuk Islam,” kata Sarah Omar, Kamis. Selain bersama seorang putra, dia juga menunaikan ibadah haji bersama empat cucunya. Kepada harian tersebut, dia menolak untuk memberikan komentar atas sikap politik Obama. Dia hanya bersedia memberikan pernyataan yang terkait dengan haji.

Kepergian Sarah Omar beserta anak dan cucunya ke Tanah Suci itu sepertinya terselenggara atas dukungan Kerajaan Arab Saudi. Sarah mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Raja Abdullah atas keramahannya dalam menerima para jamaah haji dari berbagai penjuru dunia.


http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/10/11/26/148980-dari-makkah-sang-nenek-terus-doakan-obama

Wangi Harum Masyithah

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pada saat malam terjadinya Isra’ saya mencium bau harum, sayapun bertanya, “Ya Jibril, bau harum apakah ini?”

Jibril menjawab, “Ini adalah bau wangi wanita penyisir rambut putri Fir’aun (Masyithah) dan anak-anaknya.”

Saya bertanya, ”Bagaimana bisa demikian?”
Jibril bercerita, “Ketika dia menyisir rambut putri Fir’aun suatu hari, tiba-tiba sisirnya terjatuh.

Dia mengambilnya dengan membaca ”Bismillah (dengan nama Allah).”
Putri Fir’aun berkata, “Hai, dengan nama bapakku?”
Masyithah berkata, “Bukan, Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu begitu juga Tuhan bapakmu.”
Putri Fir’aun bertanya, “Kalau begitu, kamu punya Tuhan selain ayahku?
Wanita tukang sisir itu menjawab, “Ya.”
Anak putri Fir'aun berkata, 'Akan aku laporkan pada ayahku.'
Wanita tukang sisir menjawab, 'Silahkan!'

Putri Fir’aun kemudian melaporkan kepada bapaknya, dan Fir’aunpun kemudian memanggil Masyithah.
Fir’aun bertanya, “Ya Masyithah, apakah kamu mempunyai tuhan selain aku?”
Masyithah menjawab, “Ya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.”
Kemudian Fir'aun memerintahkan untuk mempersiapkan periuk besar dari tembaga untuk dipanaskan. Satu persatu anak wanita tukang sisir itu kemudian dilemparkan ke dalam periuk yang mendidih.

Beberapa saat kemudian, Masyithah berkata kepada Fir’aun, “Saya mempunyai satu permohonan.”
Fir’aun menjawab, “Katakanlah.”
Masyithah berkata, “Saya ingin engkau mengumpulkan tulang-tulangku dan tulang-tulang anakku dalam satu kain/kantong untuk kemudian dikuburkan.”
Fir’aun menjawab, “Akan aku penuhi permintaanmu.”

Lalu satu demi satu anaknya dilemparkan ke dalam periuk mendidih itu di depan matanya, sampai akhirnya tinggal seorang bayi yang masih menyusu. Pada saat itu wanita tukang sisir nampak ragu-ragu.
Si bayi diatas gendongan Masyithah, atas izin Allah tiba-tiba berbicara, “Terjunlah Ibu! Ayo terjunlah, adzab dunia lebih ringan daripada adzab Akhirat.” Mendengar anaknya berbicara si ibupun langsung terjun bersama bayinya.

Demikianlah sebuah kisah yang tercantum dalam Musnad Imam Ahmad, 4/291-295 dan juga tercantum dalam Majma’uz Zawa’id, 1/65. Anisul Jalabi II, Ali Al-Hazza’. Kisah dari seorang wanita bernama Mashithah yang menjadi penerang kegelapan istana Fir’aun. Dia mempertahankan kebenaran, meskipun berat dan pahit terasa. Lalu siapakah pembawa obor bagi kita di kegelapan abad dua puluh satu ini?

Ibroh (Pelajaran yang dapat dipetik):
1. Anjuran untuk tetap sabar dan teguh ketika muncul fitnah.
2. Balasan itu sesuai dengan jenis amal yang dikerjakan.
3. Bagi yang bersabar dalam memegang teguh agama dan tidak takut dicela orang niscaya memperoleh pahala dan ganjaran yang sangat besar, sebagaimana firman Allah dalam QS: Az-Zumar: 10,
" Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas.”
4. Seorang muslim diperbolehkan mengajukan permintaan yang mengandung kebaikan sekalipun kepada thaghut, sebagaimana kisah ini. Wanita tukang sisir anak gadis Fir'aun meminta agar tulang tubuhnya dan anak-anaknya dikubur menjadi satu
5. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberi jalan keluar untuk para waliNya dari musibah atau bencana yang menimpa.
6. Ketetapan karamah Allah yang diberikan bagi orang shalih dan shalihah.
7. Karamah termasuk dalam kategori peristiwa langka dan luar biasa.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons