Rasulullah Bersabda:
"Tidaklah kalian akan masuk Surga sampai kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman sampai kalian saling mencintai. Apakah kalian mau aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian mengerjakannya maka kalian akan saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam di antara kalian." (HR. Muslim)
Rasulullah Bersabda:
"Setiap ummatkupasti akan masuk Surga kecuali orang yang enggan. Kemudian Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah siapakah yang enggan itu?" Beliau menjawab, "Barangsiapa yang taat kepadaku maka ia akan masuk Surga, dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku maka sungguh ia telah enggan." (HR. Bukhari)
Dari Abu Hurairah ia berkata,
"Telah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah lalu ia berkata, "Wahai Rasulullah, siapakah yang lebih utama untuk aku berbuat baik kepadanya? Rasulullah menjawab, "Ibumu" Dia berkata lagi, "Kemudian siapa lagi?" Beliau menjawab, "Ibumu" Dia bertanya lagi, "Kemudian siapa lagi?" Beliau menjawab, "Ibumu" Dia bertanya lagi, "Kemudian siapa lagi?" Beliau menjawab, "Bapakmu." (Muttafaq Alaih).
Rasulullah Bersabda:
"Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk maka dia mendapatkan pahala seperti orang yang mengikutinya dan pahala mereka tidak dikurangi sedikit pun. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan maka dia mendapatkan dosa seperti orang yang mengikutinya. dan dosa mereka tidak dikurangi sedikit pun. (HR. Muslim).
Music??? Is it Haram???

“kita kan masih muda…” setidaknya itulah yang keluar dari kedua bibir pemuda supir taksi ketika ditegur oleh salah seorang ustadz yang menumpangi taksinya untuk mematikan musik yang diputarnya keras-keras. Kemudian seorang ustadz yang juga ada dalam taksi tersebut kemudian memintanya untuk mengurangi volume suaranya, namun juga tidak diindahkannya. Yah begitulah kehidupan pemuda kita sekarang. Terlena akan tipu daya dunia yang semakin menjauhkannya dari koridor keislaman.
Tak diragukan lagi bahwa musik adalah satu dari sekian fatamorgana kesenangan yang ditawarkan musuh-musuh Allah untuk menjauhkan kita dari ad-dien ini, dan matapun jadi saksi bisu akan malangnya kehidupan pemuda islam sekarang ini yang kian larut dalam kemaksiatan musik dan sulit untuk lepas dari belenggunya sekalipun telah dipaparkan kebenaran di depannya.
Dalil pengharaman Musik
Penting untuk kita ketahui semua bahwa tidak hanya satu dari hadits Rasulullah yang melarang alat musik dan nyanyian. Bentuk pengharamannyapun tidak hanya meliputi memainkan dan mendengarkan, juga termasuk dalam memperjual-belikan, merekamnya, mengundang yang lain untuk memainkannya, atau dalam bentuk apapun.
Satu dari sekian hadits Rasulullah yaitu, Dari Abdurrahman bin Ghanm Al-Asy’ari, dia berkata: “Abu ‘Amir atau Abu Malik Al-Asy’ari telah menceritakan kepadaku, demi Allah dia tidak berdusta kepadaku, dia telah mendengar Nabi bersabda, “Benar-benar akan ada beberapa kelompok orang dari umatku akan menghalalkan kemaluan (yakni zina), sutera, khamr, dan alat-alat musik…” (HR. Bukhari)
Dalam hadits yang lain, Rasulullah bersabda: “Dua suara yang dilaknat di dunia dan akhirat. Nyanyian di saat gembira dan jeritan ketika musibah.” (HR. Bukhari)
Maka telah jelas dihadapan kita akan haramnya musik yang tidak terbantahkan lagi.
Musik di mata para sahabat Rasulullah dan ulama setelahnya
Banyak riwayat dari para sahabat, generasi terbaik dalam kehiduoan umat ini, mengenai pengharamn musik. Ibnu mas’ud pernah menjelaskan ketika membaca firman Allah: “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan…” (QS. Luqman [31] : 6) maka beliau berkata: “Itu (perkataan yang tidak berguna) adalah nyanyian, demi Allah Yang tidak ada sesembahan kecuali Dia, (3 kali).” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan lainnya dengan sanad yang shahih) Beliau juga menambahkan “Nyanyian akan menumbuhkan kemunafikan sebagaimana air menumbuhkan tumbuhan.”
Ibnu umar pernah melewati sekelompok orang yang ber-ihram, di antara mereka ada seorang lelaki yang bernyanyi, maka beliau mengatakan: “Ingatlah, semoga Allah tidak mendengarkan kamu.” Ibnu Abbas juga pernah berkata, “Rebana haram, al-ma’azif (alat musik jenis apapun) haram, al-kuubah (beduk, gendang, drum, dan semacamnya) haram, dan seruling haram.” (HR. Al-Baihaqi)
Tidak hanya satu dari ulama-ulama kita yang menjelaskan akan keharaman musik. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: “Sesungguhnya imam empat bersepakat tentang keharaman al-ma’azif, yaitu alat-alat hiburan (musik).” Begitu pula dengan Ibnu Qoyyim dan Sa’id bin Musayyib yang bersaksi akan kebencian mereka pada nyanyian dan alat musik. Termasuk para ulama-ulama lainnya seperti Umar bin Abdul Aziz, Adh-Dhahhak, Fudhail bin ‘Iyadh, Yazid bin Walid, dan lainnya.
Hikmah dibalik pengharamannya
Setiap dari perintah dan larangan Allah tentu mengandung sejuta kebaikan buat hamba-Nya, termasuk di dalamnya musik. Larangan dalam bermusik tentu mempunyai hikmah bagi kita, antaranya:
1. Melalaikan dari Dzikir dan Ketaatan kepada Allah. Salafush Shalih berpendapat bahwa alat-alat musik itu akan melalaikan hamba dari dzikir dan taat kepada Allah, serta kewajiban-kewajiban agama. Allah berfirman, “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan meperoleh adzab yang menghinakan.” (QS. Luqman [31]: 6)
Maksud dari “perkataan yang tidak berguna” dari ayat di atas adalah nyanyian sesuai riwayat dari sahabat yang mulia, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bi Abbas, dll
2. Akan menumbuhkan kemunafikan. Abdullah bin Mas’ud pernah berkata bahwa nyanyian akan menumbuhkan kemunafikan dalam hati.
Lantas apakah yang harus kita lakukan? Maka salah satu sifat dari orang-orang yang beriman adalah tidak berpaling dan menolak seruan menuju Al-Kitab dan As-Sunnah seperti orang munafik, tidak pula membantahnya sebagaimana Iblis menolak perintah Allah untuk sujud kepada Adam, dan tidak menolaknya dengan alasan apapun. Rasulullah adalah sebaik-baik teladan, dan sebaik-sebaik pedoman ialah Al-Qur’an. Serta generasi terbaik sepanjang zaman ialah generasi Sahabat Rasulullah.
Kemudian menjadi sebuah kewajibanlah bagi orang yang berilmu untuk menjelaskan masalah ini, sehingga orang yang beriman yang menginginkan keselamatan akan selamat dengan keterangan yang gamblang dari setiap untaian kata kita dan orang yang celaka akan binasa setelah mendapatkan keterangan yang nyata. Akhi… saat ini bukan lagi saantnya untuk kita sibuk dalam urusan keshalehan pribadi kita. Umat menunggu perubahan antum…
Posted in: ArtikelJalan menuju kebahagiaan

Hidup bahagia adalah impian bagi setiap manusia. Telah menjadi cita-cita setiap insan yang terlahir di dunia ini untuk mencari kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan. Bahkan berapapun harga yang harus dikeluarkan, sebesar apapun pengorbanannya, mereka rela untuk bisa mencapai tangga syurga dunia.
Tidak ada yang salah, sebab bagitulah tabiat manusia. Hidup enak tanpa beban hidup. Namun sayangnya, sebagian dari kita salah dalam menafsirkan kebahagiaan hidup itu. Hal yang penting dan harus untuk kita tanamkan dalam benak kita bahwa hidup bahagia tidak berarti kaya akan materi atau ketenaran yang luar biasa. Sebab bahagia itu letaknya di hati bukan pada materi. Seseorang dikatakan bahagia ketika hati ini telah ridho menerima setiap yang ditakdirkan untuk kita. Bahagia berarti hati telah tenang dan menggantungkan semuanya pada Allah yang Maha Pemberi Rezeki. Bukankah Allah telah memuji hamba-hambanya yang beriman,
”Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surge-Ku.”
Iman dan Amal Shaleh
Syarat pertama yang harus dipenuhi oleh setiap jiwa yang merindukan hidup bahagia ialah keimanan yang sempurna dan amal yang shaleh.
”Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. An-Nahl [16]: 97)
Dari ayat ini Allah telah menegaskan, bahwa siapa saja yang beriman kemudian mengerjakan amal shale, baik ia laki-laki maupun wanita, maka sungguh apa yang telah ia kerjakan tersebut tidak akan disia-siakan oleh Allah. Maka beramallah maka Insya Allah hidup akan bahagia bahkan lebih dari itu.
Berdzikir
Ibadah yang satu ini telah kita bahas pada artikel sebelumnya. Namun hal yang ingin kami tegaskan ialah dzikir tidak hanya letaknya di bibir tapi ia akan menenangkan hati bagi setiap orang yang mengamalkannya. Allah telah berfirman dalam kitabnya yang mulia,
”Orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar Ra’d [13]: 28)
Menundukkan pandangan
Sebuah prinsip hidup yang sangat mudah dan manjur untuk menjadikan hidup kita jadi lebih bahagia adalah melihat segala sesuatunya di bawah dari apa yang telah Allah karuniakan untuk kita. Jika kita merasa kita adalah manusia yang sangat miskin, maka yakinlah di tempat lain masih ada yang jauh lebih miskin dari kita. Lihat dan perhatikanlah. Jika kita merasa gagal dalam sebuah pelajaran, maka ketahuilah bahwa ilmuwan dulu harus menempuh kegagalan hingga ribuan kali hanya untuk menemukan bohlam lampu. Jika kita merasa ini dan itu, maka lihatlah di sekeliling kita, maka pasti kita akan menemukan seseorang yang mungkin lebih kurang beruntung dibanding kita, lalu pantaskah kita untuk kufur (tidak mensyukuri) apa yang telah Allah berikan.
Jangan pernah membandingkan diri kita dengan yang di atas kita dalam hal dunia. Kenapa? Sebab ketahuilah kawanku sekiranya dunia ini lebih berharga dari satu sayap lalat maka pasti Allah tidak akan pernah memberikan minum kepada mereka yang kafir yang tidak beriman kepada Allah. So Take It Easy…
Yang lalu, biarlah berlalu
Ketahuilah wahai kawanku, bahwa tidak ada gunanya lagi kita membuka masa lalu. Hari ini ialah hari milik kita. untuk apa kita hidup dilorong-lorong kelam masa lalu, untuk apa lagi menungkit masa lalu, mengenangnya dan bersedih atas semua musibah yang telah terjadi.
Masa lalu bagi seorang yang telah mengikrarkan keimanannya sudah tidak pantas lagi untuk dibaca kembali. Sudah sepantasnya catatan suram itu digulung, dibungkus rapi, dikubur dalam-dalam hingga tidak ada lagi celah untuk cahaya masuk.
Wahai kawanku, mengenang kembali masa lalu hanya membuang-buang waktu kita, hanya menghancurkan usaha yang telah kita rintis selama ini, hanya meleburkan potensi kita selama ini untuk bangkit. Bukankah Allah telah berfirman,
”Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan…” (QS. Al Baqarah [2]: 141)
Maafkan
Dunia adalah sebuah panggung sandiwara. Akan ada masalah dan kesulitan yang siap menghinggapi para pelakonnya. Namun jika hati telah ridha dalam menerima semua itu, maka kata maaf menjadi kata yang paling pantas diucapkan untuk setiap orang yang berbuat kesalahan kepada kita. Kenapa tidak? Allah telah menyanjung bahkan menyandingkan mereka yang pemaaf dengan hamba-hambanya yang dermawan.
”Orang-orang yang menafkahkan, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
(QS. Ali Imran [3]: 134)
So… apalagi yang menahan kita untuk memaafkan kasalahan-kesalahan saudara-saudara kita kepada kita? Sungguh tidak ada lagi yang dapat menghalangi kita kecuali kesombongan. Padamkan cepat perasaan itu sebelum ia memakan dirimu dan menjauhkanmu dari orang-orang yang seharusnya mencintaimu.
Pikirkan dan Syukuri
”…Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, maka niscaya kalian tidak dapat menghitungnya…”
(QS. Ibrahim [14]: 34)
Kawanku… seharusnya kita malu ketika membaca penggalan ayat di atas. Masih pantaskah kita kufur kepada Allah, berburuk sangka pada takdir Allah, sementara begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan ”GRATIS” kepada kita. Masihkah pantas lidah ini berat untuk mengucapkan syukur sementara udara yang kita hirup setiap detiknya, makanan yang masuk, air yang menghilangkan dahaga, kekuatan fisik, air susu sejak kita bayi, dan begitu banyak nikmat lainnya yang tak seorangpun di dunia, sekalipun ia ilmuwan yang sangat pintar, tak mampu menghitung berapa jumlah nikmat-nikmat itu. Dan semunya Allah berikan tanpa dibayar sepeserpun…
So… jika kita menginginkan hidup bahagia, gampang… ikut saja tips di atas, dijamin hidup bahagia Insya Allah…
Ketika Shalat Terasa Berat

Urgensi dan pentingnya shalat telah sedemikian jelas bagi setiap Muslim. Meski begitu, kita belum juga merasakan makna-makna mendalam ini, dan kita pun tetap menganggap shalat sebagai sesuatu yang berat. Kita memang layak mengalami hal tersebut, dan alasan tersebut bisa diterima. Sebab Allah Subhaanahu wa Ta'ala telah berfirman, artinya:
"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk." (QS. Al Baqarah: 45).
Yah, kita belum melaksanakan shalat secara khusyuk, sehingga shalat pun terasa berat, sulit, dan menjadi beban. Karenanya, kekhusyukan menjadi tema utama dalam permasalahan shalat. Tanpa kekhusyukan, Anda akan merasakan shalat sebagai beban berat yang tidak berpengaruh, dan hanya merupakan gerakan-gerakan mekanistik saja.
Sebab dan Akibat Shalat Tak Khusyuk
Salah satu hal yang merintangi seseorang menuju kekhusyukan dalam shalat adalah banyaknya tolehan dan gerakan badan, begitu pun sikap lalai dalam shalat. Anda bisa melihat, ada orang yang melakukan hal-hal aneh dalam shalat. Satu contoh, orang yang mengerjakan shalat dengan sedemikian cepat seolah sebuah senam aerobik, atau shalat di samping televisi yang tengah menyala, atau shalat namun matanya berputar mengamati ornamen-ornamen masjid dan orang-orang yang ada di dalamnya. Ada juga yang ketika shalat sengaja mengangkat suara agar anaknya diam. Bahkan ada juga yang gerakannya lebih cepat dari patukan ayam jantan, di mana ia melakukan sujud namun ujung kepalanya hampir tidak menyentuh lantai.
Ini merupakan contoh-contoh yang tidak bisa diteladani. Apakah Anda mengira Allah Subhaanahu wa Ta'ala akan mengabulkan shalat-shalat semacam ini?
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhârî, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada seorang laki-laki yang mengerjakan shalat dengan cepat dan tanpa thuma'ninah,
"Pergilah untuk mengerjakan shalat sebab engkau belum mengerjakannya."
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang perbuatan menoleh-noleh ketika shalat, maka beliau pun bersabda,
"Itu merupakan curian yang dilakukan setan terhadap shalat seorang hamba." (HR. Al Bukhârî).
Sungguh, sejelek-jelek manusia adalah orang yang berusaha mencuri bagian shalatnya. Ditanyakan, "Bagaimanakah hal itu bisa terjadi, ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Ia tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya." (HR. Ahmad).
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah akan menyambut saorang hamba dalam shalatnya sepanjang ia tidak berpaling. Maka jika hamba itu memalingkan muka, Allah pun berpaling darinya." (HR. Abû Dâwûd dan An-Nasâ'î).
Demi Allah, tidakkah kita merasa malu? Apakah Allah Subhaanahu wa Ta'ala melihat Anda, tetapi Anda justru melihat ke arah yang lain?
Jadikan Shalat Sebagai Istirahat Anda
Inilah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersama shalat. Perhatikanlah tatkala beliau mengatakan,
"Wahai Bilâl, dirikanlah shalat (qomatlah)! Istirahatkanlah kami dengannya." (HR. Abû Dâwûd, dishahihkan oleh Al Albânî).
Bandingkan dengan kondisi kita saat ini. Bisa jadi kita justru mengatakan, "Istirahatkanlah kami dari shalat, wahai Bilâl."
Demi Allah, yang mampu mengecap rasa ini hanyalah orang-orang yang khusyuk. Adapun orang-orang yang selain mereka justru akan merasa letih. Perhatikan bagaimana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengatakan, "Dan pucuk kebahagiaanku dijadikan terletak dalam shalat." (HR. Ahmad).
Shalat adalah kebahagiaan beliau dan keinginannya. Pandangan beliau tidak terpenuhi apa-apa selain shalat, sementara pandangan kita telah terjejali banyak hal; isteri, rumah tangga, pekerjaan, harta benda, televisi, dan sebagainya. Pernahkah barang sekali kita merasakan pucuk kebahagiaan kita terlatak pada dua rakaat yang kita kerjakan di tengah gelapnya malam, di mana kita menegakkan kaki di hadapan Allah Subhaanahu wa Ta'ala dengan penuh khusyuk dan menghibah?
Para sahabat mengatakan, "Apabila Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ditimpa suatu persoalan atau mengharapkan sesuatu hal, beliau bergegas melaksanakan shalat." (HR. Ahmad).
Itulah, sungguh aneh keadaan kita! Jika kita ditimpa persoalan, kita segera berlari mencari orang lain. Bukan shalat!
Antara Mabuk dan Lalai dalam Shalat
Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman, artinya:
”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan." (QS. An-Nisâ': 43).
Subhânallâh! Ada banyak orang yang tidak sedang mabuk namun keadaan mereka ketika shalat tidak berbeda dengan orang-orang mabuk. Mereka sama sekali tidak mengerti apa yang mereka ucapkan ketika shalat. Tanyakan pada diri kita masing-masing, berapakah shalat yang kita lakukan dalam kondisi lebih jelek dari orang-orang yang tengah mabuk? Sukakah Anda menjadi orang yang lalai, sementara Anda berdiri di hadapan Allah ??
Teladan dari Salaf
Abû Thalhah pernah shalat di kebunnya. Kemudian di tengah-tengah shalat beliau melihat seekor burung terbang keluar dari kebun. Kedua mata beliau pun terpaku melihat burung itu, sampai-sampai lupa, berapa rakaat telah beliau jalani. Akhirnya, karena kelalaian ini, beliau pergi menghadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sembari menangis dan berkata, "Wahai Rasulullah, saya telah tersibukkan oleh seekor burung ketika shalat di kebun, sehingga saya lupa telah berapa rakaat melakukan shalat..." Beliau pun melanjutkan, "Sekarang, birlah kebun itu menjadi sedekah di jalan Allah. Gunakanlah kebun itu untuk apa saja seperti yang Anda inginkan, barangkali dengan ini, Allah akan mengampuni saya."
Sungguh, seorang mukmin sejati akan melihat dosanya sebagai sebuah gunung yang besar yang siap menimpanya. Seharusnya kita menangis sejadi-jadinya atas keadaan kita selama ini. Ratusan hari, bahkan bertahun-tahun, kita shalat dalam keadaan lalai, namun kita selalu menghibur diri dengan berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pun pernah lupa jumlah rakaat shalatnya."
Suatu kali Hâtim ibn al 'Ishâm—rahimahullâh—pernah ditanya tentang shalatnya. Ia pun menjawab, "Jika waktu shalat telah tiba, aku berwudhu dengan sempurna, dan menghampiri tempat di mana aku akan mengerjakan shalat. Aku pun lantas duduk di sana sampai seluruh tubuhku terkonsentrasi. Kemudian aku pun memulai shalat dengan menjadikan Ka'bah seolah berada di hadapanku. Jembatan Ash-Shirath terlatak di bawah kakiku. Surga di samping kananku, dan neraka di sebelah kiriku, serta Malaikat Maut berada tepat di belakangku. Aku pun menganggap shalat ini sebagai shalatku yang terakhir.
Kemudian aku mulai mengerjakannya dalam nuansa antara raja' (harap) dan khauf (cemas). Aku bertakbir sepenuh mungkin, dan membaca lantunan ayat Al Qur'an dengan tartil, kemudian aku rukuk dengan tawadhu dan bersujud dengan penuh khusyuk.
Selanjutnya aku duduk di atas kaki kiri dengan menjulurkan telapaknya dan menegakkan kaki kanan di atas patokan ibu jari. Aku pun mengakhiri shalat tersebut dengan rasa ikhlas. Tetapi aku tidak tahu, apakah shalat itu dikabulkan ataukah tidak."
Perhatikan pula 'Alî bin Abî Thâlib Radhiyallahu Anhu. Selepas wudhu, beliau biasanya gemetar. Ketika ditanya sebabnya, beliau mengatakan, "Sekarang aku sedang memikul amanah yang pernah disodorkan kepada langit dan bumi serta gunung, tapi mereka semua menolaknya. Namun aku kemudian maju dan bersedia menerima amanah tersebut."
Carilah Hati Anda!
Imam Abû Hâmid Al Ghazâlî—rahimahullâh—berkata, "Carilah hatimu di tiga tempat: Pertama, ketika membaca Al Qur'an. Kedua, ketika shalat. Ketiga, ketika mengingat kematian. Jika di tiga tempat tersebut engkau belum menemukan hatimu, maka mohonlah kepada Allah untuk memberimu hati, sebab engkau sedang tidak memilikinya."Wallâhul Hâdî ilâ Aqwamith Thorîq.
Sumber: (Al Fikrah No.12 Th. VIIIi/08 Jumadal Ula 1428H)
Posted in: ArtikelPria Penuh Pesona, Dambaan Surga

Muslim Muda…Inginku mengajak Anda memperkenalkan seorang laki-laki yang didamba surga. Dialah laki-laki yang ditinggalkan orang tuanya semenjak balita. Dialah lelaki padang pasir yang memiliki keistimewaan dan kesempurnaan yang sulit kutorehkan dengan kata-kata. Namun begitu, kuusahakan untaian kata-kataku ini mewakili ucapan-ucapan mereka yang pernah melihatnya, bersamanya dalam suka dan duka, mendengar tutur katanya sekaligus menyaksikan sosoknya yang begitu berbekas dalam jiwa.
Duh, tak sabar lagi pena ini menari untuk kawan dan memang untuk kawanlah kupersembahkan tentangnya..
Lebar dan hitam kedua matanya nan berkelopak panjang. Bulu matanya amat letik menawan. Alisnya melengkung rapi bak bulan sabit dan bersambung.
Tampan Wajahnya nan Rupawan
Sekiranya lelaki ini hidup saat ini maka para wanita akan tergila-gila dengan elok rupanya. Mereka akan terpesona. Bagaimana tidak, kawan? Wajahnya begitu tampan, cerah nian seolah-olah di mukanya lah lintasan peredaran mentari. Manis pula dipandang. Ketika ia bergembira maka bercahayalah rona wajahnya nan mempesona. Rekan-rekannya mengibaratkan wajah lelaki itu dengan potongan rembulan saat purnama menjelang yang mengikis gelapnya malam.
Subhanallah, sungguh elok rupanya bak terbitnya mentari di ufuk timur. Ketika lelaki itu marah, mukanya akan memerah seakan-akan ada biji buah delima.
Duhai kawanku, kerabatku, saudaraku, saudariku …
aku tidaklah mengada-ada bertutur karena begitulah rekan-rekannya berucap.
Salah satu rekannya berkata,”Jika aku melihatnya seakan-akan aku melihat matahari yang sedang terbit.”
Kawannya yang lain bertutur,”Apabila dia bergembira, wajahnya bercahaya sehingga terlihat seperti potongan rembulan.”
Wanita muda yang menjadi salah satu belahan jiwanya pernah berkata, ”Jika aku melihat keringat yang ada (menetes) di wajahnya, ia (begitu) bersinar bagai kilat yang melintas.”
Pernah suatu ketika ada orang yang melihatnya di suatu malam yang cerah kemudian orang tersebut berkata sambil tertegun, ”Aku memandangnya, kemudian kupandang rembulan, dia memakai baju merah, ternyata dia lebih indah dari rembulan.”
Subhanallah kawan ... tidakkah engkau jatuh hati?
Keringatnya pun Harum Semerbak
Memang demikian adanya. Keringatnya yang membasahi tubuhnya begitu wangi mengalahkan harumnya wewangian. Orang-orang akan mengetahui bahwa dia melewati suatu jalan karena harum tubuhnya yang tersiar.
Seorang temannya berkata, ”(Butiran-butiran) keringatnya merupakan minyak wangi yang paling harum"
Rekan wanitanya berucap pula, ”Keringatnya lebih harum dari minyak wangi"
Rekan yang lain bertutur, ”Aku pernah menggapai tangannya kemudian kuletakkan diwajahku, ternyata tangannya lebih sejuk dari embun dan aromanya lebih wangi dari misik.”
Mereka Begitu Cinta dengan Sosoknya
Kawanku yang kucinta.
Orang-orang yang bergaul dengannya begitu mencintainya sampai pada batas hayam (tergila-gila). Mereka mencintainya karena kesempurnaannya yang menjadi idaman dan sosoknya yang menenteramkan jiwa bagi yang memandang. Mereka mati-matian untuk mengerumuninya dan mengagungkannya.
Lihatlah kawan, mereka mampu menceritakan secara detail tentang lelaki itu. Tentang putih kulitnya, renggang gigi depannya, wajahnya yang seputih pedang yang tajam, tulang persendiannya yang besar, indah nan serasi betisnya, lembut nan halus bulu dadanya dan hal-hal lainnya yang menggambarkan secara utuh sosok lelaki itu. Itulah salah satu tanda cinta mereka yaitu mengetahui segalanya tentang figur yang dicinta.
Nyawapun Mereka Pertaruhkan untuk Lelaki Itu
Tidakkah engkau tahu bahwa nyawa pun mereka taruhkan demi lelaki itu? Marilah sejenak bersamaku melihat buktinya.
Ada dua anak kecil yang sangat mencintai lelaki itu. Ketika keduanya mendengar kabar kepastian bahwa lelaki itu dicela maka keduanya bertekad membunuh si pencela. Iya kawan, membunuh si pencela.
Anak kecil pertama berkata dengan penuh ketegasan dan jiwa kesatria, ”. . . Demi Allah jika aku bertemu dengannya (si pencela), niscaya aku dan dia (si pencela) tidak akan berpisah sampai salah satu di antara kami terbunuh.”
Anak kedua pun berkata demikian. Kemudian ketika keduanya bertemu dengan si pencela lelaki itu, segera pedang-pedang terhunus dan larut dalam pertarungan, mereka pun berhasil membunuh si pencela.
Subhanallah, alangkah besarnya kekuatan cinta yang tertancap dalam sanubari kedua anak itu. Cinta mampu menghunus tajamnya pedang hingga mengalirkan darah di kancah peperangan.
Tahukah Kawan Siapakah Lelaki Itu?
Dialah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang begitu sempurna perawakannya, yang begitu cinta kepada kita sebagai umatnya, yang tak ingin umatnya terjerumus dalam kubangan neraka, yang telah mengajarkan kita agama Tuhannya, yang dinantikan surga, yang menjadi teladan seluruh umat hingga akhir zaman, yang, yang, yang, yang, ….
Duhai kawan di manakah cinta kita teruntuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dibanding pesona cinta beliau kepada kita?
Di manakah cinta kita teruntuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dibanding gelora cinta para sahabat teruntuk beliau?
Cobalah kita tengok gelora cinta dua anak kecil dari kaum anshar yang kututurkan di atas. Keduanya bertaruh nyawa untuk membunuh Abu Jahl yang telah mencaci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kekuatan cintanya mampu mengeluarkan pedang dari sarungnya hingga berhenti setelah darah tertumpah.
Bagaimana dengan kita????
Jangan biarkan cinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertepuk sebelah tangan, kawan.
Cintanya itu dibuktikan dengan selalu mengikuti petunjuknya. Buktikanlah ...
********
Catatan penulis:
Para sahabat yang kukutip ucapannya di atas yang menceritakan gambaran fisik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Ali bin Abi Thalib, Jabir bin Samurah, ar-Rabi binti Mu’adz, Ummul Mukminin ‘Aisyah, Ka’ab bin Malik, sahabat Anas, dll.
Penulis: Fachrian Almer Akira dari remajaislam.com
Sumber: http://www.rumahrohis.com/2011/03/pria-penuh-pesonadambaan-surga.html
Biodata Iblis
Gelar : La’natullah ‘alaihi (semoga Allah melaknatnya)
Lahir : Sebelum diciptakan manusia.
Tempat tinggal : Toilet dan rumah yang tidak disebut nama Allah ketika memasukinya.
Singgasana : Di atas air.
Rumah masa depan : Neraka Jahanam, seburuk-buruk tempat tinggal.
Agama : Kafir.
Jabatan : Pimpinan umum orang-orang yang dimurkai Allah dan sesat.
Masa Jabatan : Hingga hari Kiamat.
Karyawan : Setan jin dan setan manusia.
Partner dalam bekerja : Orang yang diam dari kebenaran.
Agen : Dukun dan paranormal.
Musuh : Kaum muslimin.
Kekasih di dunia : Wanita yang hobi telanjang dan pamer aurat.
Keluarga : Para thaghut.
Cita-cita : Ingin membuat semua manusia kafir.
Motto : Kemunafikan adalah akhlak yang paling utama.
Hobi : Menyesatkan manusia & menjerumuskan ke dalam dosa.
Lukisan kesayangan : Tato.
Mata pencaharian : Mencari harta yang haram.
Makanan favorit : Bangkai manusia (ghibah).
Tempat favorit : Tempat-tempat najis, pasar, dan tempat maksiat.
Tempat yang dbenci : Majlis ilmu dan temat-tempat ketaatan.
Alat komunikasi : Ghibah (menggunjing), namimah (adu domba) , dan dusta.
Jurus Andalan :
1. Memoles kebathilan.
2. Menamakan maksiat dengan nama yang indah.
3. Menamakan ketaatan dengan nama yang tidak disukai.
4. Masuk melalui pintu yang disukai manusia.
5. Menyesatkan manusia secara bertahap.
6. Menghalang-halangi manusia dari kebenaran.
7. Berlagak sebagai penasihat.
Kelemahan :
1. Tidak berkutik di hadapan orang yang ikhlas.
2. Kewalahan menghadapi orang yang berilmu.
3. Lari dari suara adzan.
4. Lari dari rumah yang dibacakan Surah al-Baqarah.
5. Menyingkir dari orang yang berdzikir kepada Allah.
6. Menangis ketika melihat orang bersujud kepada Allah.
Posted in: ArtikelDalam 7 Hari yang Telah lalu

Dalam 7 Hari yang Telah Lalu dan Mungkin Akan Terulang
Hari ke-1, tahajjudku tertinggal
Dan aku begitu sibuk dengan duniaku
Hingga zuhurku, kuselesaikan saat ashar mulai memanggil
Dan sorenya, kulewati saja masjid yang mengumandangkan adzan maghrib
Dengan niat kulakukan bersama isya, itupun terlaksana setelah acara tv selesai
Hari ke-2, tahajjudku tertinggal lagi
Dan hal yang sama aku lakukan sebagaimana hari pertama
Hari ke-3, aku lalai lagi akan tahajjudku
Temanku memberi hadiah novel best seller yang lebih dari 200 halaman
Dalam waktu kurang 1 hari aku telah selesai membacanya
Tapi… enggan sekali aku membaca al-Qur’an walau Cuma 1 Juz
Al-Qur’an yang Cuma 114 surat, hanya 1 atau 2 surat yang kuhapal
Itupun dengan terbata-bata
Tapi… ketika temanku bertanya tentang novel tadi, betapa mudah dan lancarnya aku menceritakan
Hari ke-4 kembali aku lalai lagi akan tahajjudku
Sorenya aku datang ke selatan kota dengan niat mengaji
Tapi kubiarkan ustadzku yang sedang mengajarkan kebaikan
Kubiarkan ustadzku yang sedang mengajarkan lebih luas tentang agamaku
Aku lebih suka mencari bahan obrolan dengan teman yang ada di samping kiri dan kananku
Padahal ba’da magrib tadi betapa sulitnya aku merangkai kata-kata
Untuk kupanjatkan saat berdoa
Hari ke-5, kembali aku lupa akan tahajjudku
Kupilih shaf paling belakang dan aku mengeluh saat imam shalat jum’at kelamaan bacaannya
Padahal betapa dekatnya jarak aku dengan televisi
Dan betapa nikmat dan serunya saat perpanjangan waktu sepak bola favoritku tadi malam
Hari ke-6, aku semaki lupa akan tahajjudku
Ku habiskan waktu di mall dan bioskop bersama teman-temanku
Demi memuaskan nafsu mata dan perutku sampai puluhan ribu tak terasa keluar
Aku lupa… waktu diperempatan lampu merah tadi
Saat wanita tua mengetuk kaca mobilku
Hanya uang 200 rupiah yang kuberikan itupun tanpa menoleh
Hari ke-7, bukan hanya tahajjudku tapi shubuhkupun tertinggal
Aku bermalas-malasan di tempat tidurku menghabiskan waktu
Selang beberapa saat di hari ke-7 itu juga
Aku tersentak kaget mendengar kabar temanku kin telah terbungkus kain kafan
Padahal tadi malam aku bersamanya dan ¾ malam tadi dia dengan miscallnya
Mengingatkanku akan tahajjud
Kematian??? Kenapa aku baru gemetar mendengarnya?
Padahal dari dulu sayap-sayapnya selalu mengelilingiku
Dan dia bisa hinggap kapanpun dia mau
¼ abad lebih aku lalai…
Dari hari ke hari, bulan dan tahun
Yang wajib jarang aku lakukan apalagi yang sunnah
Kurang mensyukuri walaupun Engkau tidak pernah meminta
Berkata kuno akan nasihat-nasihat kedua orang tuaku
Padahal keringat dan air matanya telah terlajur menetes demi aku
Tuhan andai ini merupakan satu titik hidayah
Walaupun imanku belum seujung kuku hitam
Aku hanya ingin detik ini hingga nafasku yang saat nanti tersisa
Tahajjud dan shalatku meninggalkan bekas
Saat aku melipatkan sajadahku….
Amiin….
Posted in: RenunganMenanam Padi yang Unik














Posted in: FunnyDinar, Mata Uang Tanpa Inflasi

Sebagian besar dari Anda yang tahu ekonomi,
mungkin akan menganggap gila kalau ada yang mengatakan bahwa ada mata uang yang tidak mengenal inflasi.
Di manapun kita belajar ekonomi, pasti diajarkan apa yang namanya inflasi.
Tapi ternyata, ada mata uang yang sejak 1400 tahun lalu sampai sekarang nilainya sama.
Apa itu? “Dinar”
Apa benar? Tentu saja.
Dalam sejarah (sebagaimana diungkap dalam hadis) dinyatakan satu dinar di masa Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wasallam, cukup untuk membeli 1 ekor kambing.
Ternyata saat ini (tahun 2011) satu keping dinar juga tetap cukup untuk membeli 1 ekor kambing.
Waktu selama 1400 tahun nampaknya cukup untuk membuktikan bahwa konsep mata uang tanpa inflasi
bukan omong kosong.
Malah jika dibandingkan dengan seluruh mata uang yang beredar di seluruh dunia,
mata uang “Dinar” justru mengalami peningkatan nilai nominal bukan inflasi.
Misalnya untuk pergi haji, di tahun 1997 orang butuh 97 dinar untuk pergi haji, tapi tahun 2003 hanya butuh 50 dinar untuk pergi haji, dan tahun 2010 cukup dengan 22 dinar kita bisa pergi haji.
Tapi mari luruskan dahulu apa yang dimaksud dengan dinar ini.
Yang dimaksud dengan mata uang “Dinar” di sini adalah koin dinar berbahan dasar emas 22 karat dengan berat 4,25 gr yang standarisasinya ditetapkan oleh Umar Bin Khattab. Jangan terkecoh dengan mata uang Dinar Iraq, Dinar Kuwait, Dinar Libya, dsb, karena dinar tersebut cuma dinar nama atau dinar pelabelan, bukan dinar emas.
Saya sendiri tidak pernah terpikir tentang mata uang “Dinar” seperti ini sampai saya membaca buku “Think Dinar” yang ditulis oleh Endy J Kurniawan.
Buku ini membuka mata saya betapa mata uang dinar bisa menyelamatkan dunia.
Dengan Dinar, mungkin tidak ada lagi spekulan mata uang, tidak ada lagi krisis moneter,
karena semua takarannya adalah emas, perak (dirham).
Tapi tentu saja sulit mengubah tatanan ekonomi yang sudah begitu mengakar.
Karena itu Negara manapun yang berani lebih dulu mengadopsi system dinar,
maka akan menjadi negara yang paling kebal krisis dan inflasi.
Misalnya saja Indonesia punya Dinar Indonesia.
Tiba tiba mata uang Indonesia dianggap jatuh seperti krisis moneter dulu.
Tidak usah khawatir, jual saja saja emasnya.
Jadi tidak akan pernah jatuh.
Selama ini terbukti harga emas tidak pernah jatuh.
(turun fluktuatif, iya, tapi setiap tahun pada akhirnya meningkat).
Lalu bagaimana mungkin kita berbelanja kalau harus menenteng emas kemana-mana?
Ya tetap saja uang kertas ada, tapi uang kertas dengan konsep dinar adalah sertifikat emas.
Uang kertas zaman dahulu konsepnya sama dengan dinar.
Uang kertas zaman dahulu adalah sertifikat emas.
Setiap uang kertas dicetak, maka ada cadangan emas dengan nilai tertentu yang disimpan.
Tapi itu dulu, sekarang emas dan mata uang tidak ada hubungannya.
Ketika Amerika kehabisan sumber daya akibat perang di Vietnam dan butuh banyak uang,
maka Amerika mencetak uang sebanyak-banyaknya dengan tidak lagi memperhitungkan cadangan emas.
Amerika bahkan membatalkan perjanjian Internasional yang menentukan hitungan mata uang dan cadangan emas.
Sejak saat itu mencetak uang dan emas tidak ada kaitannya lagi.
Saat ini dunia masih tetap berhadapan dengan resiko krisis .
Negara maju dan kaya walaupun kelihatannya mendukung system moneter yang sedang dipakai saat ini,
diam diam mempersiapkan diri kalau kalau terjadi resesi.
Apa yang mereka siapakan. Emas.
Kini hampir semua Negara besar menambah stok emas sebagai cadangan mereka.
Sayangnya Indonesia yang justru menurut Wikipedia mempunyai tambang emas terbesar di dunia,
tersedot emasnya keluar negeri.
Seandainya saja kita berpikir “Dinar”…
http://www.isaalamsyah.com/
Posted in: ArtikelHigh Quality Jomblo, Why Not?

Salam ukhuwah sobat muslim, kali ini kita akan menceritakan satu kisah nyata tentang seorang pemudi yang sedang dilanda konflik batin. Yah semoga saja sobat muda muslim bisa mendulang pelajaran darinya. Kisah ini tentang seorang remaja putri yang lahir di tengah keluarga sederhana. Keluarga yang amat protektif, terutama bundanya yang membuat dia tumbuh menjadi gadis pendiam dan tidak pandai bersosialisasi dengan lingkungannya. Termasuk di sekolahan.
Aku (pemudi tersebut-red) berbeda dengan kebanyakan remaja lainnya yang pandai bergaul, pandai berdandan, dan berpakaian menarik. Aku tidak terlalu memerhatikan penampilan, bahkan ayahku sendiri bilang kalau aku ini kuper. Meskipun begitu aku tidak ingin ketinggalan dalam hal pelajaran. Selama ini nilai-nilaiku baik dan orang tuaku selalu memotivasiku untuk menjadi anak yang pandai, dan menurutku aku telah melakukan yang terbaik untukku juga untuk mereka. Semua peraturan yang ditetapkan oleh mereka aku coba untuk melaksanakannya dengan baik. Namun satu peraturan yang aku tidak setujui dari sekian banyak peraturan.
“Nak, kamu tidak boleh pacaran, kalau bunda dan ayah mendapati kamu pacaran, lebih baik kamu tidak usah sekolah sekalian.” Yah beginilah orang tuaku selalu menasihatiku. Awalnya aku tidak begitu mempermasalahkan ini, akan tetapi lama-kelamaan muncul keinginan dalam hatiku untuk tampil lebih dari teman-temanku. Ingin rasanya aku memberontak dan berteriak, ”Aku tidak setuju!” mungkin karena aku sudah remaja dan rasanya aku ingin katakan ini kepada mereka. Dalam pikiranku, bagaimana pun, aku juga seorang remaja normal yang membutuhkan cinta dari lawan jenis. Akhirnya ada penolakan keras dalam diriku!
Pengawasan dari orangtuaku sangat ketat, tapi biar bagaimana pun mereka juga manusia biasa. Tanpa sepengetahuan mereka aku jadiandengan salah seorang ikhwan (laki-laki-red) yang masih satu sekolahan denganku. Waktu itu aku masih duduk di SMP kelas III. Aku seperti anak pingitan yang ketika ada kesempatan langsung lari kabur untuk pacaran. Yah ini kali pertama aku mengenal namanya pacaran. Setelah jadian, aku dan ikhwan itu jadi sering bertemu, saling menyapa dan melempar senyum. Kadang-kadang aku meliriknya dan mencari-carinya ketika ia luput dari pandanganku. Meski kami pacaran, aku tidak mau mencontoh gaya pacaran teman-temanku pada saat itu. Aku lebih senang seperti ini, biasa-biasa saja.
Meskipun begitu, tetap saja ada rasa rindu di hatiku bila tidak bertemu dengannya. Aku ingin dia selalu berada di sampingku, menyimak cerita-ceritaku, mendengar keluhan dan curhatanku, dan yang paling penting aku bisa bersamanya selalu. Tapi itu tidak mungkin karena kendalaku yang harus menyembunyikan pacaranku dari orang tuaku. Aku takut mereka akan marah bila mengetahui hal ini, atau bahkan mereka akan mengeluarkanku dari sekolahan. Jadi aku harus sembunyi-sembunyi bahkan berbohong kepada mereka bila ingin bertemu dengan dia. Tapi, aku tidak pernah pergi berdua-duaan dengan ikhwan itu, aku selalu mengajak temanku. Tapi tetap saja ini tidak dibenarkan.
Meski waktu bertemu terbatas hanya di sekolah saja, namun hampir setiap waktu aku teringat dengannya, wajahnya terus muncul dalam pikiranku. Dia benar-benar menyita waktuku dari pelajaran, bahkan pada saat pelajaran pun aku terkadang senyum-senyum sendiri mengingatnya.Astaghfirullah!!! Namun begitu aku tidak ingin keseringan bertemu dengannya, entar ketahuan sama bunda dan ayah kalau aku sudah melanggar peraturan. Aku sering ngeri membayangkan hal itu. Sudah dapat kuterka, pasti kemarahan akan meledak dari mereka dan satu hal yang paling aku takutkan jika rahasiaku ketahuan, mereka tidak akan menyekolahkanku lagi.
Konsentrasi belajarku jadi berkurang bahkan hilang, moodku hanya selalu ingin bertemu dengan dia. Nilai-nilaiku di sekolah jadi jeblok, sikapku bahkan berubah drastis, begitu kata teman-temanku. Aku mendapat teguran keras dari orang tuaku. Mereka menuntutku untuk belajar lebih giat lagi, agar nilai-nilaiku kembali baik seperti dulu. Aku sadar, kalau aku sudah mengecewakan mereka. Aku ingin memperbaiki nilai-nilaiku yang anjlok. Aku pikir untuk sementara waktu aku harus memfokuskan diri pada pelajaran. Aku memintanya agar dia mau mengerti dengan keadaanku saat ini meski aku selalu merasa jenuh dengan kekangan dari orang tuaku. Tapi mau bagaimana lagi, waktu luangku sangat dibatasi oleh mereka.
Namun Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar segalanya. Dia tidak membiarkanku terlalu jauh dalam melangkah dan terseret arus ke lembah pacaran yang suram itu. Awal dari perubahan itu melalui temanku, sebut saja Dina, Allah memberikan petunjuk-Nya dan membukakan pintu hatiku.
Hari itu aku diajak Dina untuk mengikuti pengajian yang setiap pekan biasa dia ikuti. Entah mengapa hatiku tergerak dan ada keinginan untuk selalu mengikutinya. Di sana aku merasa ada sesuatu yang berbeda. Ada keteduhan dan kedamaian, dan di sana pula aku mengetahui ada keindahan dan kesempurnaan Islam walau hanya segelintir saja. Aku juga baru tahu kalau pacaran itu tidak ada dalam Islam alias hukumya HARAM dan ganjaran yang paling pantas didapatkan dari Allah bagi yang nekat melakukannya adalah ADZAB. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera mengakhiri hubungan terlarang itu dengannya. Alangkah berdosanya aku selama ini. Aku telah menaruh cintaku di tempat yang salah.
Mengapa pemahamanku tentang cinta begitu sempit dan mempersempit arti cinta itu sendiri? Aku telah menodai sucinya cinta sebab tak berusaha mengetahui apa sebenarnya arti cinta itu. Paling tidak yang aku ketahui saat ini cinta yang abadi hanya untuk Allah semata. Aku pun baru menyadari betapa beruntungnya aku yang memiliki orang tua yang begitu memperhatikan perkembanganku, bahkan pada saat remajaku yang penuh godaan, mereka selalu menekanku untuk tidak terjerumus dalam lembah pacaran yang hanya akan mendapatkan kenikmatan semu, namun derita yang berkepanjangan.
“Maafkan aku Bunda, maafkan aku ayah, karena selama ini aku tidak mendengarkan nasihatmu. Aku benar-benar menyesali segala perbuatanku dan telah kutancapkan dalam hatiku, ini tidak akan terulang lagi untuk kedua kali!!!”
Di pipiku terbentuk anak-anak sungai, gambaran hatiku yang sedang merintih. Sangat sedih. Aku tidak dapat lagi membendung air mataku, kubiarkan saja mengalir membasahi pipiku dengan harapan beban berat di pundakku akan hilang. Aku harus berusaha mengubur dalam-dalam cerita yang kelam itu, dan mungkin ada banyak hikmah yang dapat kupetik agar tidak melakukan kesalahan yang sama dalam menata kehidupan yang lebih baik
Aku ingin menjadi “High Quality Jomblo” dan tetap pede dengan jomblo tentu saja karena Allah. Tidak ada lagi sekarang kata pacaran dalam kamus hidupku. Insyaa Allah
Sumber: Kisah kamu, elfata 01.08 dengan sedikit perubahan
Posted in: KisahDrama Hijrah Rasulullah
Yatsrib atau Madinah sudah pasti menjadi masa depan Muhammad dan pengikutnya. Puluhan muslimin telah menyelinap pergi ke sana. Kaum Qurais tak terlalu peduli. Perhatian mereka pada Muhammad yang masih di Mekah yang tak akan mereka biarkan lolos. Padahal Muhammad telah siap untuk pergi. Abu Bakar telah menyiapkan dua unta baginya dan bagi Muhammad. Unta itu dipelihara Abdullah bin Uraiqiz.
Sampai pada harinya, perintah Allah untuk hijrah pun turun. Muhammad memberi tahu Abu Bakar. Para pemuda Qurais juga semakin ketat memata-matai rumah Muhammad. Mereka sesekali mengintip ke dalam rumah, melihat Muhammad berbaring di tempat tidurnya. Namun Muhammad meminta Ali mengenakan mantel hijaunya dari Hadramaut serta tidur di dipannya. Kaum Qurais tenang. Mereka pikir Muhammad masih tidur. Ketika esok harinya mendobrak pintu rumah Rasul, mereka hanya mendapati Ali yang mengaku tak tahu menahu tentang keberadaan Muhammad.
Malam itu, Muhammad telah menyelinap dari jalan belakang. Bersama Abu Bakar, ia berjalan mengendap dalam gelap, menuju sebuah gua di bukit Tsur. Sebuah pilihan cerdik. Kaum Qurais tentu menduga Muhammad menuju Yatsrib di utara Mekah. Muhammad malah melangkah ke selatan. Kejadian ini juga memperlihatkan bahwa Muhammad tetap menggunakan nalar yang wajar sebagai manusia. Jika mau, ia dapat meminta perlindungan Allah berwujud kesaktian seperti yang dikejar-kejar banyak manusia sekarang. Tapi tidak, Muhammad menunjukkan bahwa Islam bukanlah agama untuk kepentingan semacam itu.
Muhammad dan Abu Bakar hanya menjalankan siasat biasa. Dalam persembunyiannya, mereka tetap memasang telinga melalui Abdullah, anak Abu Bakar, yang tetap tinggal di Mekah. Setiap malam, Abdullah menemui mereka di gua melaporkan perkembangan suasana serta mengirim makanan yang disiapkan Aisyah dan saudaranya, Asma. Setiap pagi, pembantu Abu Bakar -Amir bin Fuhaira-menggembala kambing menghapus jejak itu.
Tiga malam mereka bersembunyi di gua itu. Satu riwayat menyebut sejumlah pemuda Qurais telah mencapai bibir gua. Abu Bakar gemetar meringkuk di sisi Muhammad. Saat itu, Muhammad berbisik. "La tahzan, innallaaha ma'ana (Jangan sedih, Allah bersama kita) ". Rasul juga menghibur dengan kata-kata, "Abu Bakar, kalau kau menduga kita hanya berdua, Allah-lah yang ketiga." Orang-orang Qurais itu lalu pergi. Konon mereka melihat sarang laba-laba serta burung merpati mengerami telur di mulut gua. Tak mungkin Muhammad bersembunyi di situ.
Setelah aman, Abdullah bin Uraiqiz membawa keluar mereka. Tiga unta beriringan ke Barat, berbekal makanan yang diikat dengan sobekan sabuk Asma. Abu Bakar disebut membawa seluruh uang simpanannya sebesar 5 ribu dirham. Mereka berjalan berputar menuju arah Tihama, dekat Laut Merah, melalui jalur yang paling jarang dilalui manusia. Baru kemudian mereka berbelok ke utara, ke Yatsrib, menapaki terik gurun. Siang-malam mereka terus berjalan.
Kaum Qurais membuat sayembara dengan hadiah 100 unta bagi yang dapat menangkap Muhammad. Suraqa bin Malik tergiur iming-iming itu. Ketika mendengar info ada tiga orang berunta beriringan, ia mengelabui kawan-kawannya. "O.. itu adalah si anu," begitu kira-kira ucapan Suraqa. Namun ia kemudian memacu kudanya sendirian mengejar Muhammad. Sedemikian menggebu Suraqa, sehingga kudanya tersungkur. Sekali lagi, ia tersungkur setelah dekat dengan Muhammad. Suraqa lalu menyerah karena menganggap dirinya tengah sial.
Dua pekan kemudian, Muhammad tiba di Quba -desa perkebunan kurma di luar kota Yatsrib. Ia tinggal di sana selama empat hari dan membangun masjid sederhana. Di sana pula Muhammad bertemu kembali dengan Ali yang berjalan kaki ke Yatsrib. Mereka kemudian berjalan bersama menuju kota, dan disambut sangat meriah oleh warga Yatsrib dengan bacaan salawat. Orang-orang Arab -baik yang Islam maupun penyembah berhala-serta orang-orang Yahudi tumpah ruah untuk melihat sosok Muhammad yang banyak diperbincangkan.
Orang-orang berebut menawarkan rumahnya sebagai tempat tinggal Rasul. Tapi Muhammad menyebut bahwa ia akan tinggal di mana untanya berhenti sendiri. Sampai ke sebuah tempat penjemuran korma, unta itu berlutut. Muhammad menanyatakn tempat itu milik siapa. Ma'adh bin Afra menjawab, rumah itu milik Sahal dan Suhail -dua orang yatim dari Banu Najjar.
Setelah dibeli, rumah itu pun dibangun menjadi masjid. Hanya sebagian dari ruangan masjid itu yang beratap. Di sanalah orang-orang miskin --dari berbagai tempat yang datang menemui Muhammad untuk memeluk Islam-- kemudian ditampung. Muhammad membangun rumah kecil bagi keluarganya di sisi masjid itu. Semasa pembangunan rumah itu, Rasul tinggal di rumah keluarga Abu Ayyub Khalid bin Zaid. Sekarang masjid yang dibangun Rasulullah itu menjadi masjid Nabawi yang teduh di Madinah. Sedangkan rumah tinggalnya menjadi tempat makam Rasul yang kini berada di dalam masjid Nabawi.
Pada usia 53 tahun -setelah 13 tahun masa kerasulannya serta membangun pondasi keislaman-Muhammad membuat langkah besar itu: hijrah. Langkah berbahaya namun mengantarkannya menjadi pemimpin utuh. Pemimpin keagamaan, kemasyarakatan juga politik. Peristiwa pada tahun 623 Masehi itu sekaligus mengajarkan keharusan umat Islam untuk berani menempuh langkah besar untuk mencari lingkungan atau lahan baru yang memungkinkan benih kebenaran dan kebajikan tumbuh lebih subur.
Penemuan Baru: Sajadah Pengurang Nyeri Otot dan Sendi
Inearer sang penemu menurut kantor berita Jerman mengatakan bahwa bahannya mirip dengan yang digunakan di rumah sakit secara umum, dan sajadahnya akan mengurangi “rasa nyeri pada lutut, punggung dan kaki” selama sholat.
Inearer terpaksa meminta persetujuan dari kalangan ulama muslimin dan telah membuat 50 prototipe yang bervariasi panjang dan ketebalannya sebelum akhirnya sampai pada versi terbaru. Inearer telah mendapat hak paten untuk sajadahnya ditambah penghargaan dari para ulama.
Perlu dicatat bahwa ide ini muncul ketika ia melihat keluhan dari teman-teman yang lansia dan kerabatnya yang merasakan nyeri pada persendian selama dalam sholat, tentu saja hal ini dapat mengalihkan perhatian dari tujuan sholat yang sebenarnya.
Inearer mengatakan “tidak seharusnya kenyamanan dan ketenangan orang yang sholat terganggu dengan apapun” tetapi jika Anda merasakan rasa sakit maka hal ini akan mencuri perhatian anda dan kemudian tidak akan dapat sholat (sebagaimana mestinya)”.
Inearer telah menjual sekitar 2000 sajadah sejak diumumkan melalui Internet pada Oktober lalu, dan 60 persennya dari jumla tersebut dibeli oleh umat muslim di Jerman, sementara sisanya terjual di Turki, di mana sajadah tersebut diproduksi, yang penciptanya bertujuan memasarkannya di seluruh dunia.
http://voa-islam.com/news/islamic-world/2011/01/22/12904/penemuan-baru-sajadah-pengurang-nyeri-otot-dan-sendi
Posted in: ArtikelWahai Pemuda, Jangan Layu Sebelum Berbuah!
SEMUA manusia di dunia ini secara fisik tunduk kepada fenomena penciptaan-Nya. Ia akan meniti fase shobi (bayi), thifl (balita), murahiq (pemuda), kuhulah (dewasa), dan syaikh (tua). Makhluk-makhluk-Nya itu selalu bertasbih kepada Allah Swt dengan bahasanya sendiri. Tetapi, usia paling menentukan arah kehidupan seseorang adalah fase murahaqa (puber) dan kuhulah (produktif) antara usia 15-35 tahun.
Ada sebuah ungkapan ahli hikmah: “Siapa yang tumbuh, berkembang pada masa mudanya di atas, akhlak, orientasi (ittijah), kepribadian (syakhshiyyah), karakter, bakat (syakilah) khusus, maka rambutnya akan memutih (al masyiibu) dalam keadaan ia memiliki tradisi (daabu), akhlak seperti itu.”
Ahli sastra Arab dahulu pernah menjelaskan impian orang tua yang ingin kembali pada masa muda. Tetapi, itu suatu kemustahilan.
اَلاَ لَيْتَ الشَّباَب يَعْود يَوماً . سأُخْبِره بِماَ فَعَلَ الْمَشيْب
“Alangkah indahnya jika masa muda kembali lagi hari ini. Aku akan memberitahukan kepada khalayak (ramai) tentang apa yang dilakukan oleh orang yang sudah pikun dan beruban”.
Marilah kita hitung usia produktif dalam logika kehidupan manusia.
Umumnya umat Rasulullah Saw berusia antara 60-70 tahun (HR. Ahmad). Seumpama kita ditakdirkan berumur 63 tahun seperti uswah, qudwah (panutan) kita, 13 tahun pertama tentu tidak masuk perhitungan, berarti tidak bisa kita nilai. Kita belum baligh. Jadi, usia kita yang bisa dihitung 47 tahun.
Jika dalam sehari tidur belasan jam. Yang tersisa setiap hari 2/3. Tinggallah seputar 16 jam. Dalam aktivitas tidur tersebut tidak ada catatan amal. Untuk ukuran ini saja, dari 47 tahun, yang tertinggal 2/3-nya.
Lantas, sebagian besar ke mana? Orang itu produktif pada usia puber atau pada usia tua? Pertanyaan itu perlu kita jawab secara serius. Supaya aktivitas kita bisa dihisab oleh Allah Swt.
Semakin sering kita berhasil menghadapi godaan pada usia muda, seperti itulah ending kita pada masa tua (syaikhukhah). Sebaliknya, semakin sering kita kalah dalam mengantisipasi ujian, seperti itulah akhir kehidupan kita. Pertarungan yang paling berat dan keras adalah pada usia muda. Kalau diibaratkan seperti matahari, maka usia muda adalah ketika sinar matahari berada persis di tengah-tengah kita. Betapa teriknya pada siang bolong itu.
Itulah sebabnya Allah Swt memberikan penghargaan kepada pemuda yang tumbuh dalam keadaan beribadah kepada Allah Swt (syaabun nasya-a fi ‘ibadatillah). Bahkan Allah Swt memberikan perlindungan di padang Mahsyar, ketika tiada naungan kecuali naungan-Nya. Karena pada usia produktif tersebut dorongan kuat untuk beramal saleh berbanding lurus dengan dorongan melanggar. Maka, mengelola masa muda agar tunduk kepada karakter keagamaan merupakan perjuangan yang berliku, licin, dan mendaki. Hanya pemuda yang mendapat rahmat dari-Nya yang berhasil melewati godaan.
أَللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمْرِيْ أَخِرَهُ وَ خَيْرَ عَمَلِيْ خَوَاتِيْمَهُ وَ خَيْرَ أَيَّامِيْ يَوْمَ أَلْقاَكَ فِيْهِ
“Ya Allah, jadikanlah usiaku yang paling baik adalah pada penghujungnya, dan amalku yang terbaik adalah pungkasannya, dan hari-hariku yang terbaik adalah hari-hari saya bertemu dengan-MU.” [al Hadits].
Secara sunnatullah keberhasilan masa tua kita ditentukan oleh perjuangan yang tak kenal menyerah di masa muda. Keberhasilan mustahil diperoleh dengan gratis (majjanan), tanpa melewati proses ujian. Ibarat anak sekolah, untuk naik kelas harus mengikuti ujian. Jika kita kurang terampil mengelola masa muda dengan menggali potensi thalabul ‘ilmi (ijtihad), taqarrub ilallah (mujahadah), jihad fii sabilillah (jihad), secara maksimal kelak akan kita pertanggungjawabkan di Mahkamah Ilahi (‘an syabaabihi fiimaa ablaahu).
Ali bin Abi Thalib mengatakan:
مَنْ ساَءَ خُلُقُهُ عَذَّبَ نَفْسَهُ
“Barangsiapa jelek akhlaknya (ketika pemuda), ia akan tersiksa ketika tua.”
Mengikuti Siklus Ibadah
Mengapa kita perlu shalat lima waktu sehari semalam. Kita ibarat membuat kolam renang di depan rumah, setiap kali azan berkumandang kita segera membersihkan lumpur yang menempel dalam diri kita. Sehingga tidak tersisa sisi gelap dalam pikiran dan hati kita, demikianlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
demikian sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Allah Swt membuat perencanaan ibadah, agar kita selalu terjaga. Ibadah yaumiyyah, harian (shalat lima waktu), usbuiyyah, mingguan (shalat Jum’at, puasa Senin Kamis, puasa tiga hari dalam sebulan), syahriyyah, bulanan (puasa Ramadan), sanawiyyah, tahunan (shalat idul fithr dan idul qurban), marrotan fil umr, sekali seumur hidup (ibadah haji ke Baitullah).
Maka, kita perlu membuat standarisasi dalam beribadah. Ada empat kegiatan ubudiyah yang perlu kita lakukan dengan istiqomah (konsisten) dan mudawamah wal istimror (secara berkesinambungan).
Pertama : Shalat fardhu secara berjamaah di masjid
Kedua : Shalat sunnah rawatib ba’diyah dan qabliyah
Ketiga : Membaca al Quran satu juz sehari
Keempat : Ditambah dengan ibadah bulanan
Muhasabah : Seminggu sekali
Ibadah harian yang perlu dipertahankan untuk menjaga stamina ritme spiritual. Ibadah wajib kita lakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt (taqarrub). Ibadah sunnah kita lakukan, untuk membangun kecintaan secara timbal balik antara kita dengan Allah Swt. Jika kita sudah dicintai, aktifitas kita merupakan jelmaan dari kehendak-kehendak-Nya.
Supaya kita dekat dengan diri kita sendiri, kita perlu muhasabah usbuiyyah (intropeksi mingguan). Hati kita mengalami gerakan yang tidak berhenti. Dan itu harus selalu dikontrol. Jika kita sudah mencapai kenaikan grafik amal, dan kekurangan kita bisa kita hitung. Berarti kita dalam posisi ideal. Terjaga dari dosa, hanya Rasulullah Saw.
Bangkit Dari Keterpurukan
Jika kita terjatuh melakukan dosa, kita segera bangkit. Setiap langkah menuju dosa harus kita persempit ruangnya. Karena, dosa kecil yang kita remehkan, akan mengajak kepada dosa-dosa kecil berikutnya. Dosa itu beranak pinak, berkembang biak.
Langkah-langkah untuk bangkit, sebagai berikut:
Pertama: Istighfar (memohon ampun kepada Allah Swt). Bukan sekedar memperbanyak istighfar, sekalipun itu berpahala. Yang paling penting adalah dengan istighfar kita selalu menyadari seharusnya makin hari kekurangan, bau tidak sedap dalam diri kita semakin tertutupi (hilang).
Kedua, beramal. Setiap kali melakukan kejahatan, susullah dengan amal saleh. (ittaqillah haitsumaa kunta wa atbi’issayyiata al hasanata tamhuhaa). Kebaikan itu bisa menghapus dosa. Jika kita senang melakukan satu kebaikan, akan mengajak kepada kebaikan berikutnya. Misalnya, jika kita suka ke masjid, maka dengan sendirinya kita akan termotivasi untuk melakukan berbagai amal saleh di situ. Sholat fardhu, sholat sunnah, membaca Al-Quran, zikir dll.
Rasulullah Saw bersabda : “Jika engkau melihat seorang laki-laki terbiasa ke masjid, saksikanlah sesungguhnya ia seorang beriman.” [al Hadits].
Demikian pula jika kita senang melangkahkan kaki menuju ke tempat maksiat, maka akan mengerakkan untuk berbuat dosa berikutnya.
Jika kita sedang bersemangat dalam beribadah, lakukanlah sebanyak mungkin yang Anda mampu. Jika grafik ibadah menurun, minimal pertahankan yang wajib. Hati kita elastis, fluktuatif. Kita memiliki saat maju dan saat mundur. Dengan cara di atas kita bisa mengelola naik turunnya hati kita dengan baik.
Terakhir: Berdoa kepada Allah Saw, semoga kita tetap teguh dalam agama-Nya. Ya muqollibal qulub tsabbit qolbii ‘alaa diinik (Wahai Yang Membolak Balikkan hati, tetapkanlah hatiku diatas agama-MU).
Penutup, wahai para pemuda, ingatlah falsafah pohon pisang. “Janganlah mati sebelum berbuah.”
[Abu Hilyatil Auliyah Hadziqoh/www.hidayatullah.com]
Posted in: ArtikelDari Makkah, Sang Nenek Terus Doakan Obama Masuk Islam

Sang nenek Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama, mendoakan cucunya itu masuk Islam. Tahun ini, nenek Obama datang ke Tanah Suci Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Dalam doanya selama di Makkah, dia selalu memohon kepada Allah SWT agar Obama masuk islam.
Nenek yang bernama Sarah Omar itu sekarang tinggal di Kenya. Dalam wawancaranya dengan koran Al Watan Saudi, nenek berusia 88 tahun itu, mengaku pergi ke Makkah bersama salah satu anaknya, yang juga paman Obama, Saeed Hussein Obama.
“Saya doakan Barack cucu saya untuk masuk Islam,” kata Sarah Omar, Kamis. Selain bersama seorang putra, dia juga menunaikan ibadah haji bersama empat cucunya. Kepada harian tersebut, dia menolak untuk memberikan komentar atas sikap politik Obama. Dia hanya bersedia memberikan pernyataan yang terkait dengan haji.
Kepergian Sarah Omar beserta anak dan cucunya ke Tanah Suci itu sepertinya terselenggara atas dukungan Kerajaan Arab Saudi. Sarah mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Raja Abdullah atas keramahannya dalam menerima para jamaah haji dari berbagai penjuru dunia.
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/10/11/26/148980-dari-makkah-sang-nenek-terus-doakan-obama
Posted in: KisahWangi Harum Masyithah
Jibril menjawab, “Ini adalah bau wangi wanita penyisir rambut putri Fir’aun (Masyithah) dan anak-anaknya.”
Saya bertanya, ”Bagaimana bisa demikian?”
Jibril bercerita, “Ketika dia menyisir rambut putri Fir’aun suatu hari, tiba-tiba sisirnya terjatuh.
Dia mengambilnya dengan membaca ”Bismillah (dengan nama Allah).”
Putri Fir’aun berkata, “Hai, dengan nama bapakku?”
Masyithah berkata, “Bukan, Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu begitu juga Tuhan bapakmu.”
Putri Fir’aun bertanya, “Kalau begitu, kamu punya Tuhan selain ayahku?
Wanita tukang sisir itu menjawab, “Ya.”
Anak putri Fir'aun berkata, 'Akan aku laporkan pada ayahku.'
Wanita tukang sisir menjawab, 'Silahkan!'
Putri Fir’aun kemudian melaporkan kepada bapaknya, dan Fir’aunpun kemudian memanggil Masyithah.
Fir’aun bertanya, “Ya Masyithah, apakah kamu mempunyai tuhan selain aku?”
Masyithah menjawab, “Ya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.”
Kemudian Fir'aun memerintahkan untuk mempersiapkan periuk besar dari tembaga untuk dipanaskan. Satu persatu anak wanita tukang sisir itu kemudian dilemparkan ke dalam periuk yang mendidih.
Beberapa saat kemudian, Masyithah berkata kepada Fir’aun, “Saya mempunyai satu permohonan.”
Fir’aun menjawab, “Katakanlah.”
Masyithah berkata, “Saya ingin engkau mengumpulkan tulang-tulangku dan tulang-tulang anakku dalam satu kain/kantong untuk kemudian dikuburkan.”
Fir’aun menjawab, “Akan aku penuhi permintaanmu.”
Lalu satu demi satu anaknya dilemparkan ke dalam periuk mendidih itu di depan matanya, sampai akhirnya tinggal seorang bayi yang masih menyusu. Pada saat itu wanita tukang sisir nampak ragu-ragu.
Si bayi diatas gendongan Masyithah, atas izin Allah tiba-tiba berbicara, “Terjunlah Ibu! Ayo terjunlah, adzab dunia lebih ringan daripada adzab Akhirat.” Mendengar anaknya berbicara si ibupun langsung terjun bersama bayinya.
Demikianlah sebuah kisah yang tercantum dalam Musnad Imam Ahmad, 4/291-295 dan juga tercantum dalam Majma’uz Zawa’id, 1/65. Anisul Jalabi II, Ali Al-Hazza’. Kisah dari seorang wanita bernama Mashithah yang menjadi penerang kegelapan istana Fir’aun. Dia mempertahankan kebenaran, meskipun berat dan pahit terasa. Lalu siapakah pembawa obor bagi kita di kegelapan abad dua puluh satu ini?
Ibroh (Pelajaran yang dapat dipetik):
1. Anjuran untuk tetap sabar dan teguh ketika muncul fitnah.
2. Balasan itu sesuai dengan jenis amal yang dikerjakan.
3. Bagi yang bersabar dalam memegang teguh agama dan tidak takut dicela orang niscaya memperoleh pahala dan ganjaran yang sangat besar, sebagaimana firman Allah dalam QS: Az-Zumar: 10,
" Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas.”
4. Seorang muslim diperbolehkan mengajukan permintaan yang mengandung kebaikan sekalipun kepada thaghut, sebagaimana kisah ini. Wanita tukang sisir anak gadis Fir'aun meminta agar tulang tubuhnya dan anak-anaknya dikubur menjadi satu
5. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberi jalan keluar untuk para waliNya dari musibah atau bencana yang menimpa.
6. Ketetapan karamah Allah yang diberikan bagi orang shalih dan shalihah.
7. Karamah termasuk dalam kategori peristiwa langka dan luar biasa.
Posted in: Kisah

Minggu, Juni 05, 2011
Abu 'Abdillah










