Rasulullah Bersabda:
"Tidaklah kalian akan masuk Surga sampai kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman sampai kalian saling mencintai. Apakah kalian mau aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian mengerjakannya maka kalian akan saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam di antara kalian." (HR. Muslim)
Rasulullah Bersabda:
"Setiap ummatkupasti akan masuk Surga kecuali orang yang enggan. Kemudian Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah siapakah yang enggan itu?" Beliau menjawab, "Barangsiapa yang taat kepadaku maka ia akan masuk Surga, dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku maka sungguh ia telah enggan." (HR. Bukhari)
Dari Abu Hurairah ia berkata,
"Telah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah lalu ia berkata, "Wahai Rasulullah, siapakah yang lebih utama untuk aku berbuat baik kepadanya? Rasulullah menjawab, "Ibumu" Dia berkata lagi, "Kemudian siapa lagi?" Beliau menjawab, "Ibumu" Dia bertanya lagi, "Kemudian siapa lagi?" Beliau menjawab, "Ibumu" Dia bertanya lagi, "Kemudian siapa lagi?" Beliau menjawab, "Bapakmu." (Muttafaq Alaih).
Rasulullah Bersabda:
"Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk maka dia mendapatkan pahala seperti orang yang mengikutinya dan pahala mereka tidak dikurangi sedikit pun. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan maka dia mendapatkan dosa seperti orang yang mengikutinya. dan dosa mereka tidak dikurangi sedikit pun. (HR. Muslim).
Budaya Latah Akhir Tahun
CATATAN UNTUK SANG PEJUANG
Untuk setiap langkah yang berat tertatih
Untuk setiap goresan luka tak sekadar darah
Untuk setiap jiwa yang pasrah
Untuk setiap kata yang terangkai di lidah
Sadarlah… Pilihan ini adalah awal yang terindah
Mungkin berat…
Sakit…
Pahit…
Tapi… Tidakkah kau tahu itu hanya sesaat?
Lalu untuk apa kau berjalan di derasnya cucuran hujan?
Merenungi setiap duri yang menantang
Melihat yang lain tenang berpangku tangan
Tertidur lelap di kelalaian tak berujung
Sementara diri jatuh bangun dalam perjuangan
Lupakah engkau dengan sang pemilik suara merdu
Yang tersiksa di atas deraan padang pasir dan bongkahan batu
Lalu di mana kau simpan lembaran sang dermawan
Yang syahidnya ia temui di atas dipan
Atau pemilik hati lembut berhias iman
Yang melihat istananya saat tombak melukai badan
Siksaan adalah hidupnya
Cacian adalah makanannya
Terasing adalah pekerjaannya
Lelah, letih, luka adalah hal yang biasa
Tidakkah cukup bagimu atas pengorbanan mereka
Lalu untuk apa wahai pejuang?
Kelak cahaya ini kan bersinar
Ia kan menerangi setiap lembah
Karena ia tak butuh badan yang kekar
Tidak pula harta yang melimpah
Ia hanya butuh pejuang sejati
Pejuang yang melihat dengan kebijaksanaan
Pejuang yang berbicara lewat kelembutan
Pejuang yang berpijak dengan kekuatan
Pejuang yang berselimutkan kesahajaan
Pejuang yang berjalan di atas keistiqomahan
Pejuang yang bernafas dengan kesyukuran
Pejuang yang berkalungkan kewibawaan
Pejuang yang bermahkotakan kebaikan
Pejuang yang tidak memperdulikan banyak persangkaan
Pejuang yang bercitakan tegaknya panji kejayaan
Pejuang yang menanggalkan kesombongan
Sebab ia tak butuh nama
Hari ini… mungkin kau belum sadar
Tapi di sudut sana kan kau temukan
Hati yang tunduk pada ketataan
Bukan sekadar raga yang berjalan
*Di sudut mushollah mendengar irama rahmat Allah yang membasahi bumi, 10/12/12
Posted in: SajakSyi'ah Bercerita Tentang Ahlul Bait
Di pihak lain, orang-orang Rafidhah (baca syi’ah –red) selain berlebih-lebihan dalam mengagung-agungkan imam-imam mereka dengan mengatakan bahwasanya mereka itu ma’shum dan lebih utama dari para nabi dan para rasul, mereka juga melekatkan sifat-sifat tuhan di dalam diri para imam, hingga mengeluarkan mereka dari batas-batas kemakhlukan! Tidak diragukan lagi bahwa ini merupakan sikap ghuluw (berlebih-lebihan) yang paling besar, paling jelek, paling rusak dan paling kufur.
Al Kulainy (ulama besar syi’ah –red) dalam kitabnya al-Kaafi (yang mana ini merupakan kitab yang paling shahih menurut Rafidhah), dia telah mengkhususkan di dalamnya bab-bab yang menguatkan sikap ekstrem tersebut. Contohnya: di jilid I, hal 261, dia berkata, “Bab bahwasanya para imam mengetahui apa yang telah lalu dan apa yang akan datang, serta bahwasanya tidak ada sesuatu apapun yang tersembunyi dari pengetahuan mereka.” Dia juga telah meriwayatkan dalam halaman yang sama dari sebagian sahabat-sahabatnya bahwa mereka mendengar Abu Abdillah (yang dia maksud adalah Ja’far ash-Shadiq) berkata, “Sesungguhnya aku mengetahui apa-apa yang ada di langit dan di bumi, aku mengetahui apa-apa yang ada di dalam surya dan aku mengetahui apa yang telah lalu serta yang akan datang.”
Dia juga berkata dalam jilid I, hal 258, “Bab bahwasanya para imam mengetahui kapan mereka akan mati dan mereka tidak akan mati kecuali dengan kemauan mereka sendiri.”
Di antara bukti-bukti sikap ekstrem orang-orang Syi’ah, klaim mereka bahwa para imam memiliki kekuasaan untuk mengatur alam semesta ini semau mereka; mereka bisa menghidupkan orang yang telah mati, juga menyembuhkan orang yang buta, orang yang terkena kusta, kemudian dunia akhirat milik para imam, mereka berikan kepada siapa saja sesuai dengan kehendak mereka. Beginilah aqidah mereka yang sebenarnya. Mereka sesat dan menyesatkan. Semoga kita dilindungi dari kesesatan mereka.
*Disalin dari tulisan Ust. Abdullah Zain, Lc., MA., “Biarkan syi’ah bercerita tentang agamanya.”
Posted in: Syi'ahInilah yang Terbaik...
Sedangkan kaum nashrani akan menjawab, “Kami beriman kepada Nabi Musa dan Nabi Isa, dan kami tidak beriman kepada Muhammad.” Adapun umat Islam maka mereka akan menjawab, “Kami beriman kepada Nabi Musa dan Nabi Isa, dan kami pun beriman kepada Nabi Muhammad.” dan tentu ”Inilah yang terbaik di antara ketiganya.”
Begitu pula jika didatangkan orang Sunni dan Syi’ah, lalu ditujukan kepada mereka satu pertanyaan yang sama, ”Bagaimana pendapat kalian mengenai ahlul bait (keluarga) dan sahabat Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam…???” maka orang syi’ah akan menjawab ”Kami cinta kepada ahlul bait dan kami membenci (baca mengkafirkan –red) sahabat-sahabat Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam.”
Sedangkan orang Sunni akan menjawab, “Kami cinta kepada keluarga Nabi dan kami pun cinta kepada sahabat-sahabat Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam.” Dan di antara keduanya tentu ”Sunnilah yang terbaik.”
*Dikutip dari ceramah Ust. Rahmat Abdul Rahman, Lc., MA., dalam dialog Sunni-Syi’ah.
Karena Ia Bukan Sekedar Kain...
Kisah nyata ini dari kawan saya bekerja. Kisah nyata ini semoga berguna bagi yang membacanya, terutama kaum Hawa, juga bagi yang punya istri, yang punya anak perempuan, adik perempuan, saudara perempuan, kakak perempuan, yang masih punya Ibu, yang punya keponakan perempuan……..
Sahabatku menceritakan: Ini cerita tentang adikku Nur Annisa , gadis yang baru beranjak dewasa namun rada Bengal dan tomboy. Pada saat umur adikku menginjak 17 tahun, perkembangan dari tingkah lakunya rada mengkhawatirkan ibuku , banyak teman cowoknya yang datang ke rumah dan itu tidak mengenakkan ibuku sebagai seorang ‘guru ngaji’.
Untuk mengantisipasi hal itu ibuku menyuruh adikku memakai jilbab, namun selalu ditolaknya hingga timbul pertengkaran-pertengkaran kecil diantara mereka. Pernah satu kali adikku berkata dengan suara yang rada keras: “Mama coba lihat deh , tetangga sebelah anaknya pakai jilbab namun kelakuannya ngga beda-beda amat dengan kita , malah teman-teman Ani yang di sekolah pake jilbab dibawa om-om, sering jalan-jalan, masih mending Ani, walaupun begini-gini ani nggak pernah ma kaya gituan”, bila sudah seperti itu ibuku hanya mengelus dada, kadangkala di akhir malam kulihat ibuku menangis, lirih terdengar doanya: “Ya Allah , kenalkan Ani dengan hukum Engkau ya Allah “.
Pada satu hari di dekat rumahku, ada tetangga baru yang baru pindah. Satu keluarga di mana mempunyai enam anak yang masih kecil-kecil. Suaminya bernama Abu Khoiri, aku kenal dengannya waktu di masjid.
Setelah beberapa lama mereka pindah timbul desas desus mengenai istri dari Abu Khoiri yang tidak pernah keluar rumah, hingga dijuluki si buta, bisu dan tuli. Hal ini terdengar pula oleh Adikku, dan dia bertanya sama aku: “Kak , memang yang baru pindah itu istrinya buta, bisu dan tuli ? “..hus aku jawab sambil berlalu” kalau kamu mau tau datangin aja langsung ke rumahnya”.
Eehhh tuuh, anak benar benar datang ke rumah tetangga baru. Sekembalinya dari rumah tetanggaku, kulihat perubahan yang drastis pada wajahnya, wajahnya yang biasa cerah nggak pernah muram atau lesu mejadi pucat pasi….entah apa yang terjadi.?
Namun tidak kusangka selang dua hari kemudian dia meminta pada ibuku untuk dibuatkan Jilbab yang panjang, lagi rok panjang, lengan panjang. Aku sendiri jadi bingung….aku tambah bingung campur syukur kepada Allah karena ku lihat perubahan yang ajaib. Yah ku bilang ajaib karena dia berubah total. Tidak banyak lagi anak cowok yang datang ke rumah atau teman-teman wanitanya untuk sekedar bicara yang nggak karuan. Ku lihat dia banyak merenung, banyak baca baca majalah islam yang biasanya dia suka beli majalah anak muda kaya “gadis” atau “femina” ganti jadi majalah-majalah islam, dan ku lihat ibadahnya pun melebihi aku. Tak ketinggalan tahajudnya, baca Qur’annya, sholat sunat nya, dan yang lebih menakjubkan lagi, bila teman ku datang dia menundukkan pandangan, Segala puji bagi Engkau ya Allah jerit hatiku…
Tidak berapa lama aku dapat panggilan kerja di kalimantan, kerja di satu perusahaan asing (PMA). Dua bulan aku bekerja di sana aku dapat kabar bahwa adikku sakit keras hingga ibuku memanggil ku untuk pulang ke rumah (rumahku di Madiun). Di pesawat tak henti-hentinya aku berdoa kepada Allah agar Adikku diberi kesembuhan, namun aku hanya berusaha, ketika aku tiba di rumah, di depan pintu sudah banyak orang, tak dapat ku tahan aku lari masuk ke dalam rumah, ku lihat ibuku menangis, aku langsung menghampiri dan memeluk ibuku, sambil tersendat-sendat ibuku bilang sama aku: “Dhi, adikkmu bisa ucapkan dua kalimat Syahadah diakhir hidupnya “. Tak dapat kutahan air mata ini…
Setelah selesai acara penguburan dan lainnya, iseng aku masuk kamar adikku dan kulihat Diary di atas mejanya, diary yang selalu dia tulis, Diary tempat dia menghabiskan waktunya sebelum tidur kala ku lihat sewaktu adikku masih hidup, kemudian kubuka selembar demi selembar, hingga tertuju pada satu halaman yang menguak misteri dan pertanyaan yang selalu timbul di hatiku. Perubahan yang terjadi ketika adikku baru pulang dari rumah Abu Khoiri, disitu kulihat tanya jawab antara adikku dan istri dari tetanggaku, isinya seperti ini :
Tanya jawab (kulihat dilembaran itu banyak bekas tetesan air mata): Annisa : Aku berguman (wajah wanita ini cerah dan bersinar layaknya bidadari), ibu, wajah ibu sangat muda dan cantik. Istri tetanggaku : Alhamdulillah, sesungguhnya kecantikan itu datang dari lubuk hati. Annisa : Tapi ibu kan udah punya anak enam, tapi masih kelihatan cantik. Istri tetanggaku : Subhanallah, sesungguhnya keindahan itu milik Allah dan bila Allah berkehendak, siapakah yang bisa menolaknya. Annisa : Ibu, selama ini aku selalu disuruh memakai jilbab oleh ibuku, namun aku selalu menolak karena aku pikir nggak masalah aku nggak pakai jilbab asal aku tidak macam-macam dan ku lihat banyak wanita memakai jilbab namun kelakuannya melebihi kami yang tidak memakai jilbab, hingga aku nggak pernah mau untuk pakai jilbab, menurut ibu bagaimana? Istri tetanggaku : Duhai Annisa, sesungguhnya Allah menjadikan seluruh tubuh wanita ini perhiasan dari ujung rambut hingga ujung kaki, segala sesuatu dari tubuh kita yang terlihat oleh bukan muhrim kita semuanya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah di akhirat nanti, jilbab adalah hijab untuk wanita. Annisa : Tapi yang kulihat banyak wanita yang memakai jilbab yang kelakuannya nggak enak, nggak karuan. Istri Tetanggaku : Jilbab hanyalah kain, namun hakekat atau arti dari jilbab itu sendiri yang harus kita pahami. Annisa : Apa itu hakekat jilbab? Istri Tetanggaku : Hakekat jilbab adalah hijab lahir batin. Hijab mata kamu dari memandang lelaki yang bukan mahram kamu. Hijab lidah kamu dari berghibah (gosip) dan kesia-siaan, usahakan selalu berdzikir kepada Allah. Hijab telinga kamu dari mendengar perkara yang mengundang mudharat baik untuk dirimu maupun masyarakat. Hijab hidungmu dari mencium cium segala yang berbau busuk. Hijab tangan-tangan kamu dari berbuat yang tidak senonoh. Hijab kaki kamu dari melangkah menuju maksiat. Hijab pikiran kamu dari berpikir yang mengundang syetan untuk memperdayai nafsu kamu. Hijab hati kamu dari sesuatu selain Allah , bila kamu sudah bisa maka jilbab yang kamu pakai akan menyinari hati kamu, itulah hakekat jilbab. Annisa : Ibu aku jadi jelas sekarang dari arti jilbab, mudah-mudahan aku bisa pakai jilbab, namun bagaimana aku bisa melaksanakan semuanya. Istri tetanggaku : Duhai Anisa bila kamu memakai jilbab itulah karunia dan rahmat yang datang dari Allah yang Maha Pemberi Rahmat, yang Maha Penyayang, bila kamu mensyukuri rahmat itu kamu akan diberi kekuatan untuk melaksanakan amalan-amalan jilbab hingga mencapai kesempurnaan yang diinginkan Allah .
Duhai Anisa, ingatlah akan satu hari di mana seluruh manusia akan dibangkitkan dari kuburnya. Ketika ditiup terompet yang kedua kali, pada saat roh-roh manusia seperti anai-anai yang bertebaran dan dikumpulkan dalam satu padang yang tiada batas, yang tanahnya dari logam yang panas, tidak ada rumput maupun tumbuhan.
Ketika tujuh matahari didekatkan di atas kepala kita namun keadaan gelap gulita. Ketika seluruh Nabi ketakutan. Ketika ibu tidak memperdulikan anaknya, anak tidak memperdulikan ibunya, sanak saudara tidak kenal satu sama lain lagi, kadang satu sama lain bisa menjadi musuh, satu kebaikan lebih berharga dari segala sesuatu yang ada di alam ini.
Ketika manusia berbaris dengan barisan yang panjang dan masing masing hanya memperdulikan nasib dirinya, dan pada saat itu ada yang berkeringat karena rasa takut yang luar biasa hingga menenggelamkan dirinya, dan rupa rupa bentuk manusia bermacam macam tergantung dari amalannya, ada yang melihat ketika hidupnya namun buta ketika dibangkitkan, ada yang berbentuk seperti hewan, ada yang berbentuk seperti syetan, semuanya menangis, menangis karena hari itu Allah murka, belum pernah Allah murka sebelum dan sesudah hari itu, hingga ribuan tahun manusia didiamkan Allah dipadang mahsyar yang panas membara hingga Timbangan Mizan digelar itulah hari Yaumul Hisab.
Duhai Annisa, bila kita tidak berusaha untuk beramal di hari ini, entah dengan apa nanti kita menjawab bila kita di sidang oleh Yang Maha Perkasa, Yang Maha Besar, Yang Maha Kuat, Yang Maha Agung, Allah . Di Yaumul Hisab nanti! Di Hari Perhitungan nanti!!
Sampai di sini aku baca diarynya karena kulihat, berhenti dan banyak tetesan air mata yang jatuh dari pelupuk matanya, Subhanallah, ku balik lembar berikutnya dan ku lihat tulisan, kemudian ku lihat tulisan kecil di bawahnya: buta, tuli dan bisu, wanita yang tidak pernah melihat lelaki selain muhrimnya, wanita yang tidak pernah mau mendengar perkara yang dapat mengundang murka Allah, wanita yang tidak pernah berbicara ghibah, gosip dan segala sesuatu yang mengundang dosa dan sia-sia tak tahan air mata ini pun jatuh membasahi diary.
Itulah yang dapat saya baca dari diarynya, semoga Allah menerima Adikku di sisinya, Amin, Subhanallah.
Bapak-Bapak, Ibu-ibu, Saudara-Saudaraku, adik-adikku dan Anak-anakku yang dimuliakan oleh Allah. Khususnya kaum hawa. Saya mengharap kisah nyata ini bisa menjadi iktibar, menjadi pelajaran bagi kita, bagi putri-putri kita semua. Semoga meresap di hati yang membacanya dan semoga Allah senantiasa memberi petunjuk, memberi Rahmat, hidayah bagi yang membaca dan menghayatinya. Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan iman kita untuk menjalankan (memenuhi) segala perintah-Nya dan menjauhi segala apa-apa yang dilarang-Nya, dan mendapat derajat takwa yang tinggi, selamat didunia sampai di akhirat nanti, mendapat pertolongan dan syafa’at di hari yaumul hisab dan mendapat surga yang tinggi, amien. Wallaahu a’lam bish shawab, billaahi taufik wal hidayah. Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakatuh.
Gadis Itu Tewas Saat Menari
Sang ibu dengan terisak menceritakan, bahwa putrinya semasa hidupnya menggandrungi musik dan nyanyian. Ia terobsesi dengan musik, terlebih usianya yang baru menginjak remaja (ABG) sulit bagi sang ibu untuk menasehatinya. Ia senang menonton lagu-lagu favorit yang sedang hit dalam video klips, menyukai penyanyi-penyanyi tersebut dengan penuh cinta. Hidupnya hanya di isi dengan nyanyian dan musik.
Suatu hari gadis belasan tahun itu datang dalam sebuah pesta, karena memang ia diundang oleh kawannya. Dalam sebuah pesta tentu saja didalamnya ada nyannyian dan musik. Maka ketika lagu kesayangannya dinyanyikan ia tidak dapat menahan dirinya.Mulailah ia menari (berjoget) dan bernyanyi dengan riangnya. Dalam keadaan yang sangat bersemangat itu tiba-tiba ia terjatuh dan tubuhnya membentur meja di depannya. Ia tak sadarkan diri, orang-orang di sekitarnya berusaha menolongnya dan mereka mendapati gadis itu telah tiada. Dan, tubuhnya kaku (benar-benar kaku dan keras)tidak dapat digerakkan. Dengan posisi tangan meliuk di atas kepala (sebagaimana layaknya orang berjoget).
Setelah mendengar penjelasan sang ibu, Fulanah berusaha memandikan mayat gadis malang itu ia pun berusaha memposisikan jasad sang gadis sebagaimana layaknya mayat yang akan dikafankan. Tapi, subhanallah jasad itu benar-benar kaku seperti batu, ia tidak dapat menekukkan tangan sang mayat, akhirnya ia pasrah membungkus mayat dalam keadaan sebagaimana adanya.
Jika akhir hidup manusia yang menggemari para penyanyi seperti diatas mendapatkan hukuman seperti itu, bisakah kita membayangkan bagaimana keadaan para penyanyi (artis) itu sendiri bila mereka tidak segera bertaubat kepada Allah ?
Tidakkah kita mengambil ibrah ini wahai hamba Allah?? Tidak menjadi jaminan usia yang muda tidak akan diburu ajal? Tidakkah kita takut ketika kita melakukan maksiat tiba-tiba Allah mencabut nyawa kita dengan mendadak? Berapa banyak generasi salaf takut akan kondisi diatas, mati dalam keadaan suul khatimah (akhir yang buruk).Ada diantara mereka yang senantiasa berdoa agar Allah mewafatkan mereka ketika mereka sedang sujud sehingga Allah pun mengabulkan doanya. Semoga Allah menjadikan kita senatiasa istiqamah dalam ketaatan dan mengakhiri hidup kita dengan husnul khatimah.amin.
Pemuda yang Sabar
Pada saat Dr.Khalid membesuknya di rumah sakit, ia melihat pemuda itu tak berdaya diatas ranjangnya. Dr.Khalaid datang untuk menghiburnya. Namun Subhanallah, apa yang ia dapatkan justru sebaliknya, wajah pemuda it cerah jauh dari mendung kedukaan. Pada wajah itu jelas sekali terpancar cahaya dan kilauan iman.
”Alhamdulillah, saya dalam keadaan sehat-sehat saja. Saya berdoa kepada Allah Subhanahu wa Taa’ala semoga Anda lekas sembuh.” kata Dr.Khalid membuka pembicaraan. Di luar dugaan pemuda itu menjawab,”Terimakasih untuk doamu. Sesunggunya saudaraku, mungkin saat ini Allah tengah menghukumku karena lalai dalam menghafal Al-Qur’an. Allah menguji saya, agar saya segera menuntaskan hafalan saya. Sungguh ini adalah nikmat yang tiada terkira.”
Dr.Kahlid terpana mendengar jawaban menakjubkan itu. Bagaimna mungkin cobaan begitu berat yang tengah dialami pemuda itu dianggap sebagai suatu nikmat? Benar-benar ini adalah suatu pelajaran baru yang amat berharga bagi dirinya sehingga ia merasa tak berharga dihadapan pemuda itu.
Dr.kahlid teringat akan sabda Rasulullah Shallallahu A’laihi Wassallam : ” Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin. Seluruh perkaranya mengandung kebaikan. Hal ini hanya ada pada seorang mukmin. Ketika ia dikaruniai kesengangan ia bersyukur, maka hal iti baik baginya. Dan ketika ia ditimpa kesedihan, ia menghadapinya dengan sabar dan tabah, maka hal itu baik baginya.” (Riwayat Muslim)
Jujur saja Dr.Kahalid teramat mengagumi ketabahan pemuda itu. Beberapa pekan kemudian ia membesuk sahabatnya itu, sepupu sang pemuda berkata,”Coba gerakkan kakimu, coba angkat kakimu ke atas.” Pemuda itu menjawab,”Sungguh saya amat malu kepada Allah untuk terburu-buru sembuh. Jika kesembuhan itu yang terbaik bagi Allah, aku bersyukur. Namun, apabila Allah tidak memberikan kesembuhan padaku hanya agar aku tidak melangkah ke tempat-tempat maksiat aku pun bersyukur. Allah Maha Tahu yang terbaik untukku.
Allahu Akbar, betapa kalimat itu sangat menggetarkan. Setelah peristiwa itu Dr.khalid menempuh program magisternya ke luar kota. Beberapa bulan setelah itu ia kembali dan yang pertama diingatnya adalah pemuda sahabatnya itu. Dalam benaknya ia berpikir,”Paling saat ini ia sedang terbaring lemah di atas kasurnya, jika ia kemana-mana pastilah ia digotong.”
Ternyata menurut teman-temannya pemuda itu sudah pindah ke ruang penyiapan untuk mendapatkan pengobatan alami. Pada saat Dr.Khalid menemuinya, ia tengah duduk di kursi roda. Dr.Khalid senang sekali melihatnya hingga berkali-kali ia mengucapkan syukur.
Pemuda itu dengan spontan menyampaikan kabar gembira yang tak terduga ”Alhamdulillah saya telah menyelesaikan bacaan Al-Qur’an.” katanya penuh semangat. ”Subhanallah” Dr.Khalid memekik kagum. Setiap kali membesuknya ia selalu mendapat hikmah yang semakin mempertebal keimanannya.
Tidak lama berselang, Dr.Khalid kembali pergi ke luar kota selama empat bulan. Dan selama itu pula ia tidak pernah bertemu dengan pemuda sahabatnya yang sangat tabah itu. Hingga saat ia kembali, ia menerima kenyataan yang amat sulit diterima oleh akal manusia. Namun, bagi Dzat yang Maha Tinggi, bukanlah hal yang mustahil terjadi. Jangankan hanya sakit, tulang-belulang yang telah hancur pun bisa dihidupkan kembali menjadi manusia yang utuh.
Pada waktu Dr.Khalid sedang shalat di mushalla rumah sakit itu. Tiba-tiba ia mendengar sapaan seseorang, ”Abu Muhammad!” Reflek dia menoleh dan pandangan di hadapannya membuatnya terpana. Ia tak mapu mengucap sepatah kata pun. Benar, Wallahi (Demi Allah -red) yang berdiri di hadapannya adalah pemuda sahabatnya yang dulu lumpuh total. Namun di hadapannya kini ia dapat berjalan kembali dengan normal dan segar bugar. Allahu Akbar, sesungguhnya keimanan lah yang dapat memunculkan keajaiban.
Spontanitas, Dr. Khalid menangis. Pertama dia menangis karena terharu dan senang akan karunia Allah berupa kesembuhan untuk sahabatnya itu. Kedua ia menangis untuk dirinya sendiri yang selama ini lalai untuk mensyukuri nikmat-nikmatNya.
Ternyata, karunia untuk sahabatnya tidak hanya sebatas itu. Ia diterima sebagai delegasi Universitas Malik Su’ud Riyadh, kerajaan Saudi Arabia untuk melanjutkan studi magisternya. ”Dr. Khalid apa yang saya terima ini justru akan menjadi malapetaka bagi saya jika saya tidak mensyukurinya.” Paparnya kepada Dr.Khalid.
Setelah tujuh tahun, pemuda itu mengunjungi Dr. Khalid kembali dalam rangka mengantar kakeknya yang terkena penyakit hati. Dan Subhanallah, ia telah menjadi seorang mayor! Dr.Khalid kembali meneteskan airmatanya. Ia berdoa kepada Allah agar pemuda itu selalu dalam kebaikan dan selalu istiqomah di dalam iman dan islam. Sungguh Allah Maha Mendengar dan Mengabulkan permohonan setiap hambaNya.
Posted in: Kisah

Sabtu, Desember 22, 2012
Abu 'Abdillah







