MAAFKAN DIA YANG DULU


Lelaki itupun akhirnya mengembara, membawa setumpuk dosa yang kini membuatnya berduka nestapa. Teramat dalam kesedihan terasa, betapa kuat keinginan untuk mengakhirinya dengan taubat. Ia lalu bertanya kepada orang-orang perihal ‘alim yang dapat menuntunnya kembali kepada jalan yang benar. Lalu oleh mereka, ditunjukkanlah kepadanya seorang ‘abid (ahli ibadah) di ujung kota.

“Masihkah ada peluang untukku” tanya lelaki itu penuh harap, “tercurah rahmat Allah kendati telah 99 jiwa terenggut oleh tanganku?”. Sayang, sang ‘abid tergesa-gesa menjawab tanpa dasar fahaman yang benar. “Tidak.” tangkis ‘abid. Mendengar jawaban yang tak sesuai harapnya, seketika lelaki itu mumbunuhnya. Genaplah sudah 100 nyawa yang telah ia bunuh.

Namun hatinya terus mendesak, ada luapan di dada yang tak mampu ditahannya. Asa untuk tetap meraih kasih Allah terus menuntunnya hingga bertemu dengan seorang ‘alim (ahli ilmu). Sekali lagi ia bertanya dengan soalan yang sama. Iyakah mungkin dirinya yang telah membersamai sebukit dosa itu bisa mendapat rahmat Allah.

“Ya. Siapa yang mampu menghalangimu dari taubatNya?” jawaban ‘alim melegakan sesak jiwanya. “Pergilah ke daerah ini dan ini. Karena sesungguhnya di sana ada orang-orang yang senantiasa beribadah kepada Allah, maka beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka. Dan jangan kamu kembali ke negerimu, karena negerimu itu adalah negeri yang jahat.”

Sesegera mungkin ia beranjak melaksanakan pesan ‘alim. Sebakda pamit memohon doa, ia melangkahkan kaki dan terus bergegas menuju negeri harapan. Namun takdir Allah mendahuluinya, belum jua kaki menapaki tujuan, maut telah menjemputnya di tengah perjalanan. Turun dua malaikat berselisih atasnya. Malaikat rahmat mengatakan: “Dia sudah datang dalam keadaan bertaubat, menghadap kepada Allah dengan sepenuh hatinya.” Sementara malaikat azab berkata: “Sesungguhnya dia belum pernah mengerjakan satu amalan kebaikan sama sekali.” Demikian perdebatan keduanya hingga Allah memutuskan rahmat untuknya, tersebab jarak yang ditempuh lebih dekat kepada negeri tujuan.

Kisah yang bersama diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim ini mengajarkan sederet ilmu kepada kita. Bahwa lelaki pembunuh itu, sebagaimana kata Rasulullah terkasih, shallallahu ‘alaihi wasallam, meski berbukit dosa dan belum jua mengamal kebajikan, Allah memberkahinya. Allah mencintainya. Kendati ia hidup dengan teramat gelapnya masa lalu. Ah, sungguh luas rahmat Allah bagi hamba-hambaNya yang bertaubat.

Namun, saat ini betapa seringnya kita tidak adil pada orang lain. Menilainya buruk serta merendahkannya hanya karena masa lalunya yang kelam. Tidak jarang bahkan kebaikannya yang kini dia lakukan terpandang sebelah mata oleh kita, hanya dan oleh hanya karena dirinya dahulu bukanlah orang baik. Hijrah yang telah ia tempuh belum cukup membuat kita berhenti untuk mencibir, mencaci, dan menjauhinya.

Tidakkah cukup bagi kita memetik hikmah dari selembar kehidupan lelaki pembunuh itu, bahwa tidaklah pantas bagi kita untuk menilai orang lain dari masa lalunya. Sebab siapapun orangnya, ia kaya atau yang berkecukupan, terdidik tinggi ataupun tidak, dari lingkungan yang sholeh apalagi yang jauh dari kebenaran, pasti pernah melakukan kesalahan di masa silam.

Betapapun besar aib yang pernah diperbuatnya, tidaklah menjadi alasan untuk kita menolak uluran tangannya sebakda hijrahnya. Berilah kesempatan dan jangan mengingatkannya kembali seperti apa kelamnya ia dahulu. Cukupkanlah diri kita dengan kerasnya usaha yang ditempuhnya kini untuk keluar dari gelap jahiliyahnya, menjadi tanda bahwa ia adalah “orang pilihan”. Ingatlah, hidayah tidaklah Allah berikan kecuali kepada hamba yang dicintaiNya.

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhoan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-Ankabut: 69)

Karena itu, berhentilah menilai seseorang dari episode lalu dari kehidupannya. Bukankah dahulu, sebagian para sahabat adalah Ahli Maksiat? Peminum khamr hingga pelaku kesyirikan? Namun kini mereka adalah generasi terbaik yang pernah ada sepanjang sejarah peradaban manusia, bahkan dalam sejarah perjalanan Islam. Rasul terkasih memuji mereka dalam sabdanya, “Sebaik-baik umatku adalah pada masaku (para sahabat –pen).” (HR. Bukhari)

Bukankah, Khalid bin Walid yang dahulu memerangi Allah dan Rasul-Nya, lalu dengan strategi cerdiknya memukul mundur tentara kaum Muslimin di perang uhud, akhirnya pun terpilih menjadi “Pedang Allah yang terhunus.” Begitu pula dengan Umar bin Khatthab, sahabat yang sebelum hidayah menyapanya pernah sekali hendak membunuh Rasulullah. Kini ia berbaring setia mendampingi Rasulullah di alam kubur.

Itulah mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, ”Sungguh setiap amalan itu tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari). Sebab yang menjadi patokan ialah kesudahan seseorang di akhir hayatnya, bukan bagaimana ia dahulu.

Karenanya kawan, sekiranya kita mengenal seseorang setelah hijrahnya, maka teruslah membersamainya, menjadi sahabat baru untuknya. Dan bila ada seseorang yang kita kenal sebelum hijrahnya, maka maafkanlah dia dengan masa lalunya, bantu dia untuk menutup aib-aibnya.

MELAWAN KEMUSTAHILAN



Keajaiban itu;
Ketika rambut Zakariya telah beruban
Pundaknya pun kini teramat payah ditegakkan
Dan istri yang tak mampu hamil serta melahirkan
Tetiba kabar gembira datang dan lahirlah yahya; di usianya yg senja

Keajaiban itu;
Kala tubuh Yunus tersungkur lemah
Dihimpit dahsyat dalam perut ikan
Membawanya menembus tiap lapis samudera; di puncak kegelapan
Tetiba ia dimuntahkan segera
Tanpa berkurang sedikit pun dari raganya
Dan kala ia kembali, sekampung ramai telah beriman kepadanya

Keajaiban itu;
Tatkala jilatan api berkobar memenuhi satu lembah
Menanti raga Ibrahim yg segera dilemparkan padanya
Atas titah Penguasa seluruh isi semesta
Tetiba api kehilangan panas baranya
Dan tak sehelaipun dari khalilullah itu; kecuali selamat

Keajaiban itu;
Ketika Musa terdesak di ujung jalan
Di hadapannya terhampar luas laut membentang
Berbalik, Firaun durjana mengejar dengan tentara banyaknya
Dengan sekali sentuhan tongkat, disertai kepasrahan sepenuh diri
Tetiba laut itu membelah
Keselamatan bagi Musa dan yg beriman
Kebinasaan bagi yg angkuh menolak kebenaran

Maka keajaiban itu;
Adalah keniscayaan
Adalah kepastian

Karenanya kawan,
Munajatkan pinta hingga tinggi melangit

Bila semangat redup; sebab menatap panjang jalan dan ujungnya belum ketemu
Mata kabur; sebab tersapu debu yang menempah asa dan mimpi
Sedih senduh; sebab payah lemah telah berpeluh tapi belum jua berjumpa sinar harapan
Cobalah bersungkur pada sujud panjang
Berbisik merayu pada bumi yg menghampar
Dan biarlah angin yg membawanya tinggi menembus lapis lapis langit

Larutlah dalam munajatmu;
Selembut Zakariya dalam meminta
Seberserah Yunus kala tak berdaya
Setegar Ibrahim meski dinanti bahaya
Sekuat Musa dalam perjuangannya

Jemputlah keajaiban dengan doa;
dan jangan berputus asa
Yang terbaik untukmu telah disiapkan oleh Yang Maha Baik

Berdoalah;
Sebab doa adalah melawan kemustahilan.


Serambi Madinah, 05/05/2017
Aku yg percaya dengan kekuatan doa, Muhtadin Akbar

DIAM TIDAK SELAMANYA EMAS



Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Sebagian ulama berkata, “Seandainya kalian yang membelikan kertas untuk para malaikat yang mencatat amal kalian, niscaya kalian akan lebih banyak diam daripada berbicara.”

Bagian dari kebaikan seseorang adalah selalu memikirkan perkataannya sebelum ia mengucapkannya. Jika baik maka dia keluarkan, jika tidak maka akan ditahannya kemudian diam.

Namun, diam tidak selamanya baik. Diam tidak selamanya emas. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah:

"Diam TANPA membaca, TANPA berdzikir dan TANPA pula berdoa maka itu bukanlah ibadah, bahkan perbuatan tersebut akan membuka pintu was-was sedangkan menyibukkan diri dengan mengingat Allah maka itu lebih afdhal daripada berdiam diri."

Jadikanlah diam kita benar-benar emas.


Serambi Madinah, 20/1/2016
Memaknai episode demi episode kehidupan dengan diam, memetik hikmah dan akhirnya tersadar betapa hina dina diri di hadapan sang Khalik. Muhtadin Akbar

ANDAI SEMUA BISA BICARA

Andai hati ini bisa bicara
Kan dia sampaikan semua kepahitan yang dialaminya padamu
Cobalah tengok tubuhmu yang selama ini kau banggakan
Kulitmu yang kau rawat sedemikian rupa
Wajahmu yang tiap detik kau perhatikan dengan detailnya
Segala makanan bergizi kau jaga demi bobot idealmu
Lalu, kapan kau pernah coba untuk memerhatikan hatimu?
Kapan kau beri ia nutrisi agar tetap hidup bersamamu?
Berapa kali kau sucikan ia dengan istighfar dan taubat?
Masihkah kau belum sadar maksiat telah membuatnya hitam gelam
Sayang belum saatnya ia tuk berbicara

Andai Al Qur'an ini bisa bicara
Kan dia ceritakan betapa pedihnya ia kau lupakan
Meski kau simpan di rak buku teratas agar tak ada yang menindisnya
Tapi bukan itu yang diinginkannya, bukan itu tujuan ia diturunkan
Sering kau mengatakan dirinya ia pedoman hidupmu
Pegangan setiap langkah kakimu
Namun, mengapa begitu sulit kau untuk membacanya?
Dengan beribu "afwan" kau katakan "maaf lagi sibuk"
Tapi, dari kaca rak buku itu ia saksikan
Bahwa dirimu yang sibuk masih bisa membaca koran
Masih sempat pula kau duduk depan TV melepas sejenak lelah
Engkaupun masih bisa bersenda gurau bersama anak istrimu
Lalu...??? Mengapa begitu sulit kau siapkan waktu untuknya?
Meski hanya selembar dalam sehari
Namun sekali lagi sayang belum saatnya ia tuk berbicara

Andai menara masjid itu bisa berbicara
Kan dia teriakkan memanggil dirimu yang pura-pura tuli
Melewatinya tiap hari di jalan namun sedikitpun tak ada niat untuk singgah
Engkau bahkan hidup bersampingan dengannya
Mendengarnya setiap shubuh adzan dikumandangkan darinya
Tapi masih saja kau tertipu dengan dirimu sendiri
Namun lagi-lagi sayang belum saatnya ia tuk berbicara
Meski ia begitu rindu dengan kehadiranmu

Andai saja hartamu bisa berbicara
Kan dia sampaikan betapa siksanya ia atas pelitnya dirimu
Kau tumpuk sekian lama
Dan tak ada rasa puas sedikitpun untuk mencukupkannya
Kala tiba saatnya ia harus dikeluarkan, ditahannya olehmu
Tahukah engkau betapa ia menyayangimu?
Ia ingin membawamu bersamanya ke syurga kelak
Namun mengapa tak kau belanjakan ia dijalan-Nya
Mengapa tak kau coba wujudkan keinginannya itu?
Sayang memang belum saatnya ia tuk berbicara

Andai sajadah itu bisa berbicara
Kan ia sampaikan betapa rindunya ia dengan sujudmu
Sekalipun tak diinginkannya kau cuci lantas kau tata rapi dilemari
Kau simpan ia dan nanti tahun depan kau ambil kembali
Bukan,,, bukan itu yang diinginkannya
Yang ia mau bisa menjadi saksi atas malam-malammu
Menjadi saksi air mata bukti takutmu kepada Allah
Menjadi saksi bahwa memang kau orang shaleh
Namun sayang selimut dan bantal empukmu lebih kau cintai dibanding dirinya
Sungguh ingin sekali dirinya berontak
Namun belum saatnya ia tuk berbicara

Andai bumi yang kau pijak itu bisa berbicara
Kan ia sampaikan permohonannya kepadamu
Untuk tidak memijaknya kecuali hanya untuk kebaikan
Tapi memang tak mampu ia menolak
Dan masih saja kau pijak ia meski menuju kemaksiatan

Andai semua itu bisa berbicara saat ini
Kan kau dengar teriakan dan kesedihannya atas dirimu
Namun, jika tak mampu kau dengar suaranya dan memang tak akan mampu
Maka ketahuilah
Esok di hari akhir kelak
Saat dirimu bertemu dengan Allah yang Maha Tinggi
Datanglah mereka satu per satu
Berbicara dan mengeluarkan semua kekecawaannya
Dan jadilah engkau termenung mendengar dan menyesal

(يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا)

"Pada hari itu bumi mengeluarkan berita-beritanya." (QS. Az Zalzalah: 4)

Maka jadikanlah ia sebagai saksi yang akan meringankanmu
Menjadi saksi atas kebaikan-kebaikanmu
Sebab tak mungkin ia berdusta

#semoga bermanfaat
Saudaramu yang merindu di perantauan, Muhtadin Akbar

JANGAN MENILAI MASA LALUNYA


Jangan pernah merendahkan seseorang karena masa lalunya, sebab siapapun itu pasti pernah melakukan kesalahan di masa silam.

Betapapun besar aib yang pernah diperbuatnya, tidaklah menjadi alasan untuk kita menolak uluran tangannya saat ini.

Berilah kesempatan dan jangan mengingatkannya kembali seperti apa kelamnya ia dahulu. Cukuplah kerasnya usaha yang dilakukannya untuk keluar dari gelap jahiliyahnya, menjadi tanda bahwa ia adalah "orang pilihan". Karena hidayah tidaklah Allah berikan kecuali kepada orang yang dicintainya.

Berhenti menilai seseorang dari masa lalunya. Bukankah dulu sebagian sahabat adalah ahli maksiat, peminum khamr bahkan pelaku kesyirikan? Namun kini mereka adalah generasi terbaik yang pernah ada sepanjang sejarah peradaban.

Bukankah, khalid bin walid yang dahulu memerangi agama Allah akhirnya pun menjadi "pedang Allah yang terhunus".

Umar bin Khatthab pernah sekali hendak membunuh Rasulullah, kini ia berbaring setia mendampinginya di alam kubur.

Itulah mengapa Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya amalan itu bergantung pada akhirnya."

Sebab yang menjadi patokan kesudahan seseorang di akhir hayatnya, bukan bagaimana ia dahulu.

#berani_berhijrah.


Serambi Madinah, 17/02/2016
Untaian Nasihat untuk mereka yang berhijrah. Spesial untuk adikku al-mahbub, Andika, selamat ber-run back to Allah, abaikan semua kata orang yang menghinamu.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons