
“kita kan masih muda…” setidaknya itulah yang keluar dari kedua bibir pemuda supir taksi ketika ditegur oleh salah seorang ustadz yang menumpangi taksinya untuk mematikan musik yang diputarnya keras-keras. Kemudian seorang ustadz yang juga ada dalam taksi tersebut kemudian memintanya untuk mengurangi volume suaranya, namun juga tidak diindahkannya. Yah begitulah kehidupan pemuda kita sekarang. Terlena akan tipu daya dunia yang semakin menjauhkannya dari koridor keislaman.
Tak diragukan lagi bahwa musik adalah satu dari sekian fatamorgana kesenangan yang ditawarkan musuh-musuh Allah untuk menjauhkan kita dari ad-dien ini, dan matapun jadi saksi bisu akan malangnya kehidupan pemuda islam sekarang ini yang kian larut dalam kemaksiatan musik dan sulit untuk lepas dari belenggunya sekalipun telah dipaparkan kebenaran di depannya.
Dalil pengharaman Musik
Penting untuk kita ketahui semua bahwa tidak hanya satu dari hadits Rasulullah yang melarang alat musik dan nyanyian. Bentuk pengharamannyapun tidak hanya meliputi memainkan dan mendengarkan, juga termasuk dalam memperjual-belikan, merekamnya, mengundang yang lain untuk memainkannya, atau dalam bentuk apapun.
Satu dari sekian hadits Rasulullah yaitu, Dari Abdurrahman bin Ghanm Al-Asy’ari, dia berkata: “Abu ‘Amir atau Abu Malik Al-Asy’ari telah menceritakan kepadaku, demi Allah dia tidak berdusta kepadaku, dia telah mendengar Nabi bersabda, “Benar-benar akan ada beberapa kelompok orang dari umatku akan menghalalkan kemaluan (yakni zina), sutera, khamr, dan alat-alat musik…” (HR. Bukhari)
Dalam hadits yang lain, Rasulullah bersabda: “Dua suara yang dilaknat di dunia dan akhirat. Nyanyian di saat gembira dan jeritan ketika musibah.” (HR. Bukhari)
Maka telah jelas dihadapan kita akan haramnya musik yang tidak terbantahkan lagi.
Musik di mata para sahabat Rasulullah dan ulama setelahnya
Banyak riwayat dari para sahabat, generasi terbaik dalam kehiduoan umat ini, mengenai pengharamn musik. Ibnu mas’ud pernah menjelaskan ketika membaca firman Allah: “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan…” (QS. Luqman [31] : 6) maka beliau berkata: “Itu (perkataan yang tidak berguna) adalah nyanyian, demi Allah Yang tidak ada sesembahan kecuali Dia, (3 kali).” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan lainnya dengan sanad yang shahih) Beliau juga menambahkan “Nyanyian akan menumbuhkan kemunafikan sebagaimana air menumbuhkan tumbuhan.”
Ibnu umar pernah melewati sekelompok orang yang ber-ihram, di antara mereka ada seorang lelaki yang bernyanyi, maka beliau mengatakan: “Ingatlah, semoga Allah tidak mendengarkan kamu.” Ibnu Abbas juga pernah berkata, “Rebana haram, al-ma’azif (alat musik jenis apapun) haram, al-kuubah (beduk, gendang, drum, dan semacamnya) haram, dan seruling haram.” (HR. Al-Baihaqi)
Tidak hanya satu dari ulama-ulama kita yang menjelaskan akan keharaman musik. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: “Sesungguhnya imam empat bersepakat tentang keharaman al-ma’azif, yaitu alat-alat hiburan (musik).” Begitu pula dengan Ibnu Qoyyim dan Sa’id bin Musayyib yang bersaksi akan kebencian mereka pada nyanyian dan alat musik. Termasuk para ulama-ulama lainnya seperti Umar bin Abdul Aziz, Adh-Dhahhak, Fudhail bin ‘Iyadh, Yazid bin Walid, dan lainnya.
Hikmah dibalik pengharamannya
Setiap dari perintah dan larangan Allah tentu mengandung sejuta kebaikan buat hamba-Nya, termasuk di dalamnya musik. Larangan dalam bermusik tentu mempunyai hikmah bagi kita, antaranya:
1. Melalaikan dari Dzikir dan Ketaatan kepada Allah. Salafush Shalih berpendapat bahwa alat-alat musik itu akan melalaikan hamba dari dzikir dan taat kepada Allah, serta kewajiban-kewajiban agama. Allah berfirman, “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan meperoleh adzab yang menghinakan.” (QS. Luqman [31]: 6)
Maksud dari “perkataan yang tidak berguna” dari ayat di atas adalah nyanyian sesuai riwayat dari sahabat yang mulia, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bi Abbas, dll
2. Akan menumbuhkan kemunafikan. Abdullah bin Mas’ud pernah berkata bahwa nyanyian akan menumbuhkan kemunafikan dalam hati.
Lantas apakah yang harus kita lakukan? Maka salah satu sifat dari orang-orang yang beriman adalah tidak berpaling dan menolak seruan menuju Al-Kitab dan As-Sunnah seperti orang munafik, tidak pula membantahnya sebagaimana Iblis menolak perintah Allah untuk sujud kepada Adam, dan tidak menolaknya dengan alasan apapun. Rasulullah adalah sebaik-baik teladan, dan sebaik-sebaik pedoman ialah Al-Qur’an. Serta generasi terbaik sepanjang zaman ialah generasi Sahabat Rasulullah.
Kemudian menjadi sebuah kewajibanlah bagi orang yang berilmu untuk menjelaskan masalah ini, sehingga orang yang beriman yang menginginkan keselamatan akan selamat dengan keterangan yang gamblang dari setiap untaian kata kita dan orang yang celaka akan binasa setelah mendapatkan keterangan yang nyata. Akhi… saat ini bukan lagi saantnya untuk kita sibuk dalam urusan keshalehan pribadi kita. Umat menunggu perubahan antum…


Sabtu, April 23, 2011
Abu 'Abdillah
Posted in: 


