Music??? Is it Haram???


“kita kan masih muda…” setidaknya itulah yang keluar dari kedua bibir pemuda supir taksi ketika ditegur oleh salah seorang ustadz yang menumpangi taksinya untuk mematikan musik yang diputarnya keras-keras. Kemudian seorang ustadz yang juga ada dalam taksi tersebut kemudian memintanya untuk mengurangi volume suaranya, namun juga tidak diindahkannya. Yah begitulah kehidupan pemuda kita sekarang. Terlena akan tipu daya dunia yang semakin menjauhkannya dari koridor keislaman.

Tak diragukan lagi bahwa musik adalah satu dari sekian fatamorgana kesenangan yang ditawarkan musuh-musuh Allah untuk menjauhkan kita dari ad-dien ini, dan matapun jadi saksi bisu akan malangnya kehidupan pemuda islam sekarang ini yang kian larut dalam kemaksiatan musik dan sulit untuk lepas dari belenggunya sekalipun telah dipaparkan kebenaran di depannya.

Dalil pengharaman Musik
Penting untuk kita ketahui semua bahwa tidak hanya satu dari hadits Rasulullah yang melarang alat musik dan nyanyian. Bentuk pengharamannyapun tidak hanya meliputi memainkan dan mendengarkan, juga termasuk dalam memperjual-belikan, merekamnya, mengundang yang lain untuk memainkannya, atau dalam bentuk apapun.

Satu dari sekian hadits Rasulullah yaitu, Dari Abdurrahman bin Ghanm Al-Asy’ari, dia berkata: “Abu ‘Amir atau Abu Malik Al-Asy’ari telah menceritakan kepadaku, demi Allah dia tidak berdusta kepadaku, dia telah mendengar Nabi bersabda, “Benar-benar akan ada beberapa kelompok orang dari umatku akan menghalalkan kemaluan (yakni zina), sutera, khamr, dan alat-alat musik…” (HR. Bukhari)

Dalam hadits yang lain, Rasulullah bersabda: “Dua suara yang dilaknat di dunia dan akhirat. Nyanyian di saat gembira dan jeritan ketika musibah.” (HR. Bukhari)
Maka telah jelas dihadapan kita akan haramnya musik yang tidak terbantahkan lagi.

Musik di mata para sahabat Rasulullah dan ulama setelahnya
Banyak riwayat dari para sahabat, generasi terbaik dalam kehiduoan umat ini, mengenai pengharamn musik. Ibnu mas’ud pernah menjelaskan ketika membaca firman Allah: “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan…” (QS. Luqman [31] : 6) maka beliau berkata: “Itu (perkataan yang tidak berguna) adalah nyanyian, demi Allah Yang tidak ada sesembahan kecuali Dia, (3 kali).” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan lainnya dengan sanad yang shahih) Beliau juga menambahkan “Nyanyian akan menumbuhkan kemunafikan sebagaimana air menumbuhkan tumbuhan.”

Ibnu umar pernah melewati sekelompok orang yang ber-ihram, di antara mereka ada seorang lelaki yang bernyanyi, maka beliau mengatakan: “Ingatlah, semoga Allah tidak mendengarkan kamu.” Ibnu Abbas juga pernah berkata, “Rebana haram, al-ma’azif (alat musik jenis apapun) haram, al-kuubah (beduk, gendang, drum, dan semacamnya) haram, dan seruling haram.” (HR. Al-Baihaqi)

Tidak hanya satu dari ulama-ulama kita yang menjelaskan akan keharaman musik. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: “Sesungguhnya imam empat bersepakat tentang keharaman al-ma’azif, yaitu alat-alat hiburan (musik).” Begitu pula dengan Ibnu Qoyyim dan Sa’id bin Musayyib yang bersaksi akan kebencian mereka pada nyanyian dan alat musik. Termasuk para ulama-ulama lainnya seperti Umar bin Abdul Aziz, Adh-Dhahhak, Fudhail bin ‘Iyadh, Yazid bin Walid, dan lainnya.

Hikmah dibalik pengharamannya
Setiap dari perintah dan larangan Allah tentu mengandung sejuta kebaikan buat hamba-Nya, termasuk di dalamnya musik. Larangan dalam bermusik tentu mempunyai hikmah bagi kita, antaranya:
1. Melalaikan dari Dzikir dan Ketaatan kepada Allah. Salafush Shalih berpendapat bahwa alat-alat musik itu akan melalaikan hamba dari dzikir dan taat kepada Allah, serta kewajiban-kewajiban agama. Allah berfirman, “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan meperoleh adzab yang menghinakan.” (QS. Luqman [31]: 6)
Maksud dari “perkataan yang tidak berguna” dari ayat di atas adalah nyanyian sesuai riwayat dari sahabat yang mulia, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bi Abbas, dll
2. Akan menumbuhkan kemunafikan. Abdullah bin Mas’ud pernah berkata bahwa nyanyian akan menumbuhkan kemunafikan dalam hati.

Lantas apakah yang harus kita lakukan? Maka salah satu sifat dari orang-orang yang beriman adalah tidak berpaling dan menolak seruan menuju Al-Kitab dan As-Sunnah seperti orang munafik, tidak pula membantahnya sebagaimana Iblis menolak perintah Allah untuk sujud kepada Adam, dan tidak menolaknya dengan alasan apapun. Rasulullah adalah sebaik-baik teladan, dan sebaik-sebaik pedoman ialah Al-Qur’an. Serta generasi terbaik sepanjang zaman ialah generasi Sahabat Rasulullah.

Kemudian menjadi sebuah kewajibanlah bagi orang yang berilmu untuk menjelaskan masalah ini, sehingga orang yang beriman yang menginginkan keselamatan akan selamat dengan keterangan yang gamblang dari setiap untaian kata kita dan orang yang celaka akan binasa setelah mendapatkan keterangan yang nyata. Akhi… saat ini bukan lagi saantnya untuk kita sibuk dalam urusan keshalehan pribadi kita. Umat menunggu perubahan antum…

Jalan menuju kebahagiaan


Hidup bahagia adalah impian bagi setiap manusia. Telah menjadi cita-cita setiap insan yang terlahir di dunia ini untuk mencari kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan. Bahkan berapapun harga yang harus dikeluarkan, sebesar apapun pengorbanannya, mereka rela untuk bisa mencapai tangga syurga dunia.

Tidak ada yang salah, sebab bagitulah tabiat manusia. Hidup enak tanpa beban hidup. Namun sayangnya, sebagian dari kita salah dalam menafsirkan kebahagiaan hidup itu. Hal yang penting dan harus untuk kita tanamkan dalam benak kita bahwa hidup bahagia tidak berarti kaya akan materi atau ketenaran yang luar biasa. Sebab bahagia itu letaknya di hati bukan pada materi. Seseorang dikatakan bahagia ketika hati ini telah ridho menerima setiap yang ditakdirkan untuk kita. Bahagia berarti hati telah tenang dan menggantungkan semuanya pada Allah yang Maha Pemberi Rezeki. Bukankah Allah telah memuji hamba-hambanya yang beriman,

”Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surge-Ku.”

Iman dan Amal Shaleh
Syarat pertama yang harus dipenuhi oleh setiap jiwa yang merindukan hidup bahagia ialah keimanan yang sempurna dan amal yang shaleh.
”Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. An-Nahl [16]: 97)

Dari ayat ini Allah telah menegaskan, bahwa siapa saja yang beriman kemudian mengerjakan amal shale, baik ia laki-laki maupun wanita, maka sungguh apa yang telah ia kerjakan tersebut tidak akan disia-siakan oleh Allah. Maka beramallah maka Insya Allah hidup akan bahagia bahkan lebih dari itu.

Berdzikir
Ibadah yang satu ini telah kita bahas pada artikel sebelumnya. Namun hal yang ingin kami tegaskan ialah dzikir tidak hanya letaknya di bibir tapi ia akan menenangkan hati bagi setiap orang yang mengamalkannya. Allah telah berfirman dalam kitabnya yang mulia,
”Orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar Ra’d [13]: 28)


Menundukkan pandangan
Sebuah prinsip hidup yang sangat mudah dan manjur untuk menjadikan hidup kita jadi lebih bahagia adalah melihat segala sesuatunya di bawah dari apa yang telah Allah karuniakan untuk kita. Jika kita merasa kita adalah manusia yang sangat miskin, maka yakinlah di tempat lain masih ada yang jauh lebih miskin dari kita. Lihat dan perhatikanlah. Jika kita merasa gagal dalam sebuah pelajaran, maka ketahuilah bahwa ilmuwan dulu harus menempuh kegagalan hingga ribuan kali hanya untuk menemukan bohlam lampu. Jika kita merasa ini dan itu, maka lihatlah di sekeliling kita, maka pasti kita akan menemukan seseorang yang mungkin lebih kurang beruntung dibanding kita, lalu pantaskah kita untuk kufur (tidak mensyukuri) apa yang telah Allah berikan.

Jangan pernah membandingkan diri kita dengan yang di atas kita dalam hal dunia. Kenapa? Sebab ketahuilah kawanku sekiranya dunia ini lebih berharga dari satu sayap lalat maka pasti Allah tidak akan pernah memberikan minum kepada mereka yang kafir yang tidak beriman kepada Allah. So Take It Easy…

Yang lalu, biarlah berlalu
Ketahuilah wahai kawanku, bahwa tidak ada gunanya lagi kita membuka masa lalu. Hari ini ialah hari milik kita. untuk apa kita hidup dilorong-lorong kelam masa lalu, untuk apa lagi menungkit masa lalu, mengenangnya dan bersedih atas semua musibah yang telah terjadi.

Masa lalu bagi seorang yang telah mengikrarkan keimanannya sudah tidak pantas lagi untuk dibaca kembali. Sudah sepantasnya catatan suram itu digulung, dibungkus rapi, dikubur dalam-dalam hingga tidak ada lagi celah untuk cahaya masuk.

Wahai kawanku, mengenang kembali masa lalu hanya membuang-buang waktu kita, hanya menghancurkan usaha yang telah kita rintis selama ini, hanya meleburkan potensi kita selama ini untuk bangkit. Bukankah Allah telah berfirman,
”Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan…” (QS. Al Baqarah [2]: 141)

Maafkan
Dunia adalah sebuah panggung sandiwara. Akan ada masalah dan kesulitan yang siap menghinggapi para pelakonnya. Namun jika hati telah ridha dalam menerima semua itu, maka kata maaf menjadi kata yang paling pantas diucapkan untuk setiap orang yang berbuat kesalahan kepada kita. Kenapa tidak? Allah telah menyanjung bahkan menyandingkan mereka yang pemaaf dengan hamba-hambanya yang dermawan.
”Orang-orang yang menafkahkan, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
(QS. Ali Imran [3]: 134)

So… apalagi yang menahan kita untuk memaafkan kasalahan-kesalahan saudara-saudara kita kepada kita? Sungguh tidak ada lagi yang dapat menghalangi kita kecuali kesombongan. Padamkan cepat perasaan itu sebelum ia memakan dirimu dan menjauhkanmu dari orang-orang yang seharusnya mencintaimu.

Pikirkan dan Syukuri
”…Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, maka niscaya kalian tidak dapat menghitungnya…”
(QS. Ibrahim [14]: 34)

Kawanku… seharusnya kita malu ketika membaca penggalan ayat di atas. Masih pantaskah kita kufur kepada Allah, berburuk sangka pada takdir Allah, sementara begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan ”GRATIS” kepada kita. Masihkah pantas lidah ini berat untuk mengucapkan syukur sementara udara yang kita hirup setiap detiknya, makanan yang masuk, air yang menghilangkan dahaga, kekuatan fisik, air susu sejak kita bayi, dan begitu banyak nikmat lainnya yang tak seorangpun di dunia, sekalipun ia ilmuwan yang sangat pintar, tak mampu menghitung berapa jumlah nikmat-nikmat itu. Dan semunya Allah berikan tanpa dibayar sepeserpun…

So… jika kita menginginkan hidup bahagia, gampang… ikut saja tips di atas, dijamin hidup bahagia Insya Allah…

Ketika Shalat Terasa Berat


Urgensi dan pentingnya shalat telah sedemikian jelas bagi setiap Muslim. Meski begitu, kita belum juga merasakan makna-makna mendalam ini, dan kita pun tetap menganggap shalat sebagai sesuatu yang berat. Kita memang layak mengalami hal tersebut, dan alasan tersebut bisa diterima. Sebab Allah Subhaanahu wa Ta'ala telah berfirman, artinya:
"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk." (QS. Al Baqarah: 45).
Yah, kita belum melaksanakan shalat secara khusyuk, sehingga shalat pun terasa berat, sulit, dan menjadi beban. Karenanya, kekhusyukan menjadi tema utama dalam permasalahan shalat. Tanpa kekhusyukan, Anda akan merasakan shalat sebagai beban berat yang tidak berpengaruh, dan hanya merupakan gerakan-gerakan mekanistik saja.

Sebab dan Akibat Shalat Tak Khusyuk
Salah satu hal yang merintangi seseorang menuju kekhusyukan dalam shalat adalah banyaknya tolehan dan gerakan badan, begitu pun sikap lalai dalam shalat. Anda bisa melihat, ada orang yang melakukan hal-hal aneh dalam shalat. Satu contoh, orang yang mengerjakan shalat dengan sedemikian cepat seolah sebuah senam aerobik, atau shalat di samping televisi yang tengah menyala, atau shalat namun matanya berputar mengamati ornamen-ornamen masjid dan orang-orang yang ada di dalamnya. Ada juga yang ketika shalat sengaja mengangkat suara agar anaknya diam. Bahkan ada juga yang gerakannya lebih cepat dari patukan ayam jantan, di mana ia melakukan sujud namun ujung kepalanya hampir tidak menyentuh lantai.
Ini merupakan contoh-contoh yang tidak bisa diteladani. Apakah Anda mengira Allah Subhaanahu wa Ta'ala akan mengabulkan shalat-shalat semacam ini?

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhârî, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada seorang laki-laki yang mengerjakan shalat dengan cepat dan tanpa thuma'ninah,
"Pergilah untuk mengerjakan shalat sebab engkau belum mengerjakannya."

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang perbuatan menoleh-noleh ketika shalat, maka beliau pun bersabda,
"Itu merupakan curian yang dilakukan setan terhadap shalat seorang hamba." (HR. Al Bukhârî).

Sungguh, sejelek-jelek manusia adalah orang yang berusaha mencuri bagian shalatnya. Ditanyakan, "Bagaimanakah hal itu bisa terjadi, ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Ia tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya." (HR. Ahmad).

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah akan menyambut saorang hamba dalam shalatnya sepanjang ia tidak berpaling. Maka jika hamba itu memalingkan muka, Allah pun berpaling darinya." (HR. Abû Dâwûd dan An-Nasâ'î).
Demi Allah, tidakkah kita merasa malu? Apakah Allah Subhaanahu wa Ta'ala melihat Anda, tetapi Anda justru melihat ke arah yang lain?

Jadikan Shalat Sebagai Istirahat Anda
Inilah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersama shalat. Perhatikanlah tatkala beliau mengatakan,

"Wahai Bilâl, dirikanlah shalat (qomatlah)! Istirahatkanlah kami dengannya." (HR. Abû Dâwûd, dishahihkan oleh Al Albânî).

Bandingkan dengan kondisi kita saat ini. Bisa jadi kita justru mengatakan, "Istirahatkanlah kami dari shalat, wahai Bilâl."

Demi Allah, yang mampu mengecap rasa ini hanyalah orang-orang yang khusyuk. Adapun orang-orang yang selain mereka justru akan merasa letih. Perhatikan bagaimana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengatakan, "Dan pucuk kebahagiaanku dijadikan terletak dalam shalat." (HR. Ahmad).

Shalat adalah kebahagiaan beliau dan keinginannya. Pandangan beliau tidak terpenuhi apa-apa selain shalat, sementara pandangan kita telah terjejali banyak hal; isteri, rumah tangga, pekerjaan, harta benda, televisi, dan sebagainya. Pernahkah barang sekali kita merasakan pucuk kebahagiaan kita terlatak pada dua rakaat yang kita kerjakan di tengah gelapnya malam, di mana kita menegakkan kaki di hadapan Allah Subhaanahu wa Ta'ala dengan penuh khusyuk dan menghibah?

Para sahabat mengatakan, "Apabila Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ditimpa suatu persoalan atau mengharapkan sesuatu hal, beliau bergegas melaksanakan shalat." (HR. Ahmad).
Itulah, sungguh aneh keadaan kita! Jika kita ditimpa persoalan, kita segera berlari mencari orang lain. Bukan shalat!

Antara Mabuk dan Lalai dalam Shalat
Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman, artinya:
”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan." (QS. An-Nisâ': 43).

Subhânallâh! Ada banyak orang yang tidak sedang mabuk namun keadaan mereka ketika shalat tidak berbeda dengan orang-orang mabuk. Mereka sama sekali tidak mengerti apa yang mereka ucapkan ketika shalat. Tanyakan pada diri kita masing-masing, berapakah shalat yang kita lakukan dalam kondisi lebih jelek dari orang-orang yang tengah mabuk? Sukakah Anda menjadi orang yang lalai, sementara Anda berdiri di hadapan Allah ??

Teladan dari Salaf
Abû Thalhah pernah shalat di kebunnya. Kemudian di tengah-tengah shalat beliau melihat seekor burung terbang keluar dari kebun. Kedua mata beliau pun terpaku melihat burung itu, sampai-sampai lupa, berapa rakaat telah beliau jalani. Akhirnya, karena kelalaian ini, beliau pergi menghadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sembari menangis dan berkata, "Wahai Rasulullah, saya telah tersibukkan oleh seekor burung ketika shalat di kebun, sehingga saya lupa telah berapa rakaat melakukan shalat..." Beliau pun melanjutkan, "Sekarang, birlah kebun itu menjadi sedekah di jalan Allah. Gunakanlah kebun itu untuk apa saja seperti yang Anda inginkan, barangkali dengan ini, Allah akan mengampuni saya."

Sungguh, seorang mukmin sejati akan melihat dosanya sebagai sebuah gunung yang besar yang siap menimpanya. Seharusnya kita menangis sejadi-jadinya atas keadaan kita selama ini. Ratusan hari, bahkan bertahun-tahun, kita shalat dalam keadaan lalai, namun kita selalu menghibur diri dengan berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pun pernah lupa jumlah rakaat shalatnya."

Suatu kali Hâtim ibn al 'Ishâm—rahimahullâh—pernah ditanya tentang shalatnya. Ia pun menjawab, "Jika waktu shalat telah tiba, aku berwudhu dengan sempurna, dan menghampiri tempat di mana aku akan mengerjakan shalat. Aku pun lantas duduk di sana sampai seluruh tubuhku terkonsentrasi. Kemudian aku pun memulai shalat dengan menjadikan Ka'bah seolah berada di hadapanku. Jembatan Ash-Shirath terlatak di bawah kakiku. Surga di samping kananku, dan neraka di sebelah kiriku, serta Malaikat Maut berada tepat di belakangku. Aku pun menganggap shalat ini sebagai shalatku yang terakhir.

Kemudian aku mulai mengerjakannya dalam nuansa antara raja' (harap) dan khauf (cemas). Aku bertakbir sepenuh mungkin, dan membaca lantunan ayat Al Qur'an dengan tartil, kemudian aku rukuk dengan tawadhu dan bersujud dengan penuh khusyuk.

Selanjutnya aku duduk di atas kaki kiri dengan menjulurkan telapaknya dan menegakkan kaki kanan di atas patokan ibu jari. Aku pun mengakhiri shalat tersebut dengan rasa ikhlas. Tetapi aku tidak tahu, apakah shalat itu dikabulkan ataukah tidak."

Perhatikan pula 'Alî bin Abî Thâlib Radhiyallahu Anhu. Selepas wudhu, beliau biasanya gemetar. Ketika ditanya sebabnya, beliau mengatakan, "Sekarang aku sedang memikul amanah yang pernah disodorkan kepada langit dan bumi serta gunung, tapi mereka semua menolaknya. Namun aku kemudian maju dan bersedia menerima amanah tersebut."

Carilah Hati Anda!
Imam Abû Hâmid Al Ghazâlî—rahimahullâh—berkata, "Carilah hatimu di tiga tempat: Pertama, ketika membaca Al Qur'an. Kedua, ketika shalat. Ketiga, ketika mengingat kematian. Jika di tiga tempat tersebut engkau belum menemukan hatimu, maka mohonlah kepada Allah untuk memberimu hati, sebab engkau sedang tidak memilikinya."Wallâhul Hâdî ilâ Aqwamith Thorîq.
Sumber: (Al Fikrah No.12 Th. VIIIi/08 Jumadal Ula 1428H)

Pria Penuh Pesona, Dambaan Surga


Muslim Muda…Inginku mengajak Anda memperkenalkan seorang laki-laki yang didamba surga. Dialah laki-laki yang ditinggalkan orang tuanya semenjak balita. Dialah lelaki padang pasir yang memiliki keistimewaan dan kesempurnaan yang sulit kutorehkan dengan kata-kata. Namun begitu, kuusahakan untaian kata-kataku ini mewakili ucapan-ucapan mereka yang pernah melihatnya, bersamanya dalam suka dan duka, mendengar tutur katanya sekaligus menyaksikan sosoknya yang begitu berbekas dalam jiwa.

Duh, tak sabar lagi pena ini menari untuk kawan dan memang untuk kawanlah kupersembahkan tentangnya..

Binar Indah Matanya
Lebar dan hitam kedua matanya nan berkelopak panjang. Bulu matanya amat letik menawan. Alisnya melengkung rapi bak bulan sabit dan bersambung.

Tampan Wajahnya nan Rupawan
Sekiranya lelaki ini hidup saat ini maka para wanita akan tergila-gila dengan elok rupanya. Mereka akan terpesona. Bagaimana tidak, kawan? Wajahnya begitu tampan, cerah nian seolah-olah di mukanya lah lintasan peredaran mentari. Manis pula dipandang. Ketika ia bergembira maka bercahayalah rona wajahnya nan mempesona. Rekan-rekannya mengibaratkan wajah lelaki itu dengan potongan rembulan saat purnama menjelang yang mengikis gelapnya malam.

Subhanallah, sungguh elok rupanya bak terbitnya mentari di ufuk timur. Ketika lelaki itu marah, mukanya akan memerah seakan-akan ada biji buah delima.

Duhai kawanku, kerabatku, saudaraku, saudariku …

aku tidaklah mengada-ada bertutur karena begitulah rekan-rekannya berucap.

Salah satu rekannya berkata,”Jika aku melihatnya seakan-akan aku melihat matahari yang sedang terbit.”

Kawannya yang lain bertutur,”Apabila dia bergembira, wajahnya bercahaya sehingga terlihat seperti potongan rembulan.”

Wanita muda yang menjadi salah satu belahan jiwanya pernah berkata, ”Jika aku melihat keringat yang ada (menetes) di wajahnya, ia (begitu) bersinar bagai kilat yang melintas.”

Pernah suatu ketika ada orang yang melihatnya di suatu malam yang cerah kemudian orang tersebut berkata sambil tertegun, ”Aku memandangnya, kemudian kupandang rembulan, dia memakai baju merah, ternyata dia lebih indah dari rembulan.”

Subhanallah kawan ... tidakkah engkau jatuh hati?


Keringatnya pun Harum Semerbak
Memang demikian adanya. Keringatnya yang membasahi tubuhnya begitu wangi mengalahkan harumnya wewangian. Orang-orang akan mengetahui bahwa dia melewati suatu jalan karena harum tubuhnya yang tersiar.

Seorang temannya berkata, ”(Butiran-butiran) keringatnya merupakan minyak wangi yang paling harum"

Rekan wanitanya berucap pula, ”Keringatnya lebih harum dari minyak wangi"

Rekan yang lain bertutur, ”Aku pernah menggapai tangannya kemudian kuletakkan diwajahku, ternyata tangannya lebih sejuk dari embun dan aromanya lebih wangi dari misik.”


Mereka Begitu Cinta dengan Sosoknya
Kawanku yang kucinta.

Orang-orang yang bergaul dengannya begitu mencintainya sampai pada batas hayam (tergila-gila). Mereka mencintainya karena kesempurnaannya yang menjadi idaman dan sosoknya yang menenteramkan jiwa bagi yang memandang. Mereka mati-matian untuk mengerumuninya dan mengagungkannya.

Lihatlah kawan, mereka mampu menceritakan secara detail tentang lelaki itu. Tentang putih kulitnya, renggang gigi depannya, wajahnya yang seputih pedang yang tajam, tulang persendiannya yang besar, indah nan serasi betisnya, lembut nan halus bulu dadanya dan hal-hal lainnya yang menggambarkan secara utuh sosok lelaki itu. Itulah salah satu tanda cinta mereka yaitu mengetahui segalanya tentang figur yang dicinta.


Nyawapun Mereka Pertaruhkan untuk Lelaki Itu

Tidakkah engkau tahu bahwa nyawa pun mereka taruhkan demi lelaki itu? Marilah sejenak bersamaku melihat buktinya.

Ada dua anak kecil yang sangat mencintai lelaki itu. Ketika keduanya mendengar kabar kepastian bahwa lelaki itu dicela maka keduanya bertekad membunuh si pencela. Iya kawan, membunuh si pencela.
Anak kecil pertama berkata dengan penuh ketegasan dan jiwa kesatria, ”. . . Demi Allah jika aku bertemu dengannya (si pencela), niscaya aku dan dia (si pencela) tidak akan berpisah sampai salah satu di antara kami terbunuh.”

Anak kedua pun berkata demikian. Kemudian ketika keduanya bertemu dengan si pencela lelaki itu, segera pedang-pedang terhunus dan larut dalam pertarungan, mereka pun berhasil membunuh si pencela.

Subhanallah, alangkah besarnya kekuatan cinta yang tertancap dalam sanubari kedua anak itu. Cinta mampu menghunus tajamnya pedang hingga mengalirkan darah di kancah peperangan.

Tahukah Kawan Siapakah Lelaki Itu?
Dialah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang begitu sempurna perawakannya, yang begitu cinta kepada kita sebagai umatnya, yang tak ingin umatnya terjerumus dalam kubangan neraka, yang telah mengajarkan kita agama Tuhannya, yang dinantikan surga, yang menjadi teladan seluruh umat hingga akhir zaman, yang, yang, yang, yang, ….

Duhai kawan di manakah cinta kita teruntuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dibanding pesona cinta beliau kepada kita?

Di manakah cinta kita teruntuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dibanding gelora cinta para sahabat teruntuk beliau?

Cobalah kita tengok gelora cinta dua anak kecil dari kaum anshar yang kututurkan di atas. Keduanya bertaruh nyawa untuk membunuh Abu Jahl yang telah mencaci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kekuatan cintanya mampu mengeluarkan pedang dari sarungnya hingga berhenti setelah darah tertumpah.
Bagaimana dengan kita????
Jangan biarkan cinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertepuk sebelah tangan, kawan.
Cintanya itu dibuktikan dengan selalu mengikuti petunjuknya. Buktikanlah ...


********

Catatan penulis:

Para sahabat yang kukutip ucapannya di atas yang menceritakan gambaran fisik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Ali bin Abi Thalib, Jabir bin Samurah, ar-Rabi binti Mu’adz, Ummul Mukminin ‘Aisyah, Ka’ab bin Malik, sahabat Anas, dll.

Penulis: Fachrian Almer Akira dari remajaislam.com
Sumber: http://www.rumahrohis.com/2011/03/pria-penuh-pesonadambaan-surga.html

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons