ANDAI SEMUA BISA BICARA

Andai hati ini bisa bicara
Kan dia sampaikan semua kepahitan yang dialaminya padamu
Cobalah tengok tubuhmu yang selama ini kau banggakan
Kulitmu yang kau rawat sedemikian rupa
Wajahmu yang tiap detik kau perhatikan dengan detailnya
Segala makanan bergizi kau jaga demi bobot idealmu
Lalu, kapan kau pernah coba untuk memerhatikan hatimu?
Kapan kau beri ia nutrisi agar tetap hidup bersamamu?
Berapa kali kau sucikan ia dengan istighfar dan taubat?
Masihkah kau belum sadar maksiat telah membuatnya hitam gelam
Sayang belum saatnya ia tuk berbicara

Andai Al Qur'an ini bisa bicara
Kan dia ceritakan betapa pedihnya ia kau lupakan
Meski kau simpan di rak buku teratas agar tak ada yang menindisnya
Tapi bukan itu yang diinginkannya, bukan itu tujuan ia diturunkan
Sering kau mengatakan dirinya ia pedoman hidupmu
Pegangan setiap langkah kakimu
Namun, mengapa begitu sulit kau untuk membacanya?
Dengan beribu "afwan" kau katakan "maaf lagi sibuk"
Tapi, dari kaca rak buku itu ia saksikan
Bahwa dirimu yang sibuk masih bisa membaca koran
Masih sempat pula kau duduk depan TV melepas sejenak lelah
Engkaupun masih bisa bersenda gurau bersama anak istrimu
Lalu...??? Mengapa begitu sulit kau siapkan waktu untuknya?
Meski hanya selembar dalam sehari
Namun sekali lagi sayang belum saatnya ia tuk berbicara

Andai menara masjid itu bisa berbicara
Kan dia teriakkan memanggil dirimu yang pura-pura tuli
Melewatinya tiap hari di jalan namun sedikitpun tak ada niat untuk singgah
Engkau bahkan hidup bersampingan dengannya
Mendengarnya setiap shubuh adzan dikumandangkan darinya
Tapi masih saja kau tertipu dengan dirimu sendiri
Namun lagi-lagi sayang belum saatnya ia tuk berbicara
Meski ia begitu rindu dengan kehadiranmu

Andai saja hartamu bisa berbicara
Kan dia sampaikan betapa siksanya ia atas pelitnya dirimu
Kau tumpuk sekian lama
Dan tak ada rasa puas sedikitpun untuk mencukupkannya
Kala tiba saatnya ia harus dikeluarkan, ditahannya olehmu
Tahukah engkau betapa ia menyayangimu?
Ia ingin membawamu bersamanya ke syurga kelak
Namun mengapa tak kau belanjakan ia dijalan-Nya
Mengapa tak kau coba wujudkan keinginannya itu?
Sayang memang belum saatnya ia tuk berbicara

Andai sajadah itu bisa berbicara
Kan ia sampaikan betapa rindunya ia dengan sujudmu
Sekalipun tak diinginkannya kau cuci lantas kau tata rapi dilemari
Kau simpan ia dan nanti tahun depan kau ambil kembali
Bukan,,, bukan itu yang diinginkannya
Yang ia mau bisa menjadi saksi atas malam-malammu
Menjadi saksi air mata bukti takutmu kepada Allah
Menjadi saksi bahwa memang kau orang shaleh
Namun sayang selimut dan bantal empukmu lebih kau cintai dibanding dirinya
Sungguh ingin sekali dirinya berontak
Namun belum saatnya ia tuk berbicara

Andai bumi yang kau pijak itu bisa berbicara
Kan ia sampaikan permohonannya kepadamu
Untuk tidak memijaknya kecuali hanya untuk kebaikan
Tapi memang tak mampu ia menolak
Dan masih saja kau pijak ia meski menuju kemaksiatan

Andai semua itu bisa berbicara saat ini
Kan kau dengar teriakan dan kesedihannya atas dirimu
Namun, jika tak mampu kau dengar suaranya dan memang tak akan mampu
Maka ketahuilah
Esok di hari akhir kelak
Saat dirimu bertemu dengan Allah yang Maha Tinggi
Datanglah mereka satu per satu
Berbicara dan mengeluarkan semua kekecawaannya
Dan jadilah engkau termenung mendengar dan menyesal

(يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا)

"Pada hari itu bumi mengeluarkan berita-beritanya." (QS. Az Zalzalah: 4)

Maka jadikanlah ia sebagai saksi yang akan meringankanmu
Menjadi saksi atas kebaikan-kebaikanmu
Sebab tak mungkin ia berdusta

#semoga bermanfaat
Saudaramu yang merindu di perantauan, Muhtadin Akbar

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons