Sesaat setelah makhluk jenius itu lahir, engkau hadir dengan ‘protes’ yang sulit untuk ku mengerti. Padahal mungkin engkau lupa bersama makhluk jenius itulah perjumpaan kita bermula. Bahkan mungkin engkau pun lupa, bahwa dirimu yang begitu istimewa adalah bagian dari makhluk jenius tersebut. Entahlah, yang pasti engkau tetap seperti yang dahulu ku kenal. Si alis tebal dengan kesabaran tak bertepi. “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-zumar: 10)
Baiklah, aku dari tempat ku kini berdiri, menggenggam tanganmu, mengajakmu sejenak menengok kawan lama yang sudah terlupakan. Olehku mungkin atau olehmu. Kala perjumpaan yang tidak direncanakan, walau akhirnya ku tahu skenario Allah begitu indah untuk dijalani, bibir keluh, tersipu malu, diam melihat rayuan cinta di balik sosok mu yang menyimpan sejuta kebaikan, andai saja ku tahu kepada dermaga mana kan kau labuhkan pelayaranmu, kan ku sampaikan padanya kabar gembira akan kehadiranmu, sahabat.
Sudah lama kaki ini melangkah beriringan. Namun belum cukup mengenal sosokmu yang misterius. Bukan karena diam, namun kebaikan yang terlalu banyak begitu sulit untuk ku ungkapkan satu-satu. Satu hal yang ku tahu, engkau dengan kasih sayangmu yang tulus membawa warna baru di atas biru yang mulai memudar. “Orang-orang yang memiliki sikap kasih sayang akan mendapatkan kasih sayang dari Allah Yang Maha Penyayang, (maka) berbuat kasih sayanglah kalian kepada yang ada di muka bumi (sehingga Allah) yang di langit akan menyayangi kalian.” (HR. Abu Dawud disahihkan oleh al-Albani)
Seorang kawan bercerita, ketika ku memintamu meringkas panggilan untukku, kau menolak. Katamu itu tidak bermakna. Bagiku apalah arti sebuah nama, ternyata engkau benar, doamu di awal merekahkan senyuman untuk lembar persahabatan yang baru saja terisi. Nasihat pertama dari bibirmu yang mungil untukku. Aku baru sadar betapa kerdilnya aku dahulu. “Agama adalah nasihat.” (Muttafaqun ‘alaih)
Cerita itupun berlanjut ketika amanah, yang sejujurnya tidak pernah ku pinta dan belum sanggup untuk ku pikul, engkau hadir, menenangkanku dari ke-galau-an, mengajak untuk menghilangkan duri yang menghalangi. Kala itu, dengan “vega merah” mu setia mengantarku menelusuri setiap jejak kebaikan. "Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah amat keras siksa-Nya." (QS. Al Maa’idah: 2)
Masih ingatkah engkau, ketika pertanyaan tentang diriku mulai merasuk. Akan kelalaianku, kebohonganku, petualanganku di belahan dunia yang lain, semua yang mulai mengusik hatimu. Saat dada mulai sesak, aku tidak meminta apa-apa. Kepercayaanpun mungkin tidak. Air mata di atas sajadah ini biarlah berlalu,mengalir mencari hulunya. Maaf aku hanya anak adam yang tak sempurna. "Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. At Tahrim: 8)
Aku mungkin tidak mampu menghapus debu di sela-sela dedaunan yang mulai merimbun. Aku pun tidak mampu mengalirkan air dari bawah ke atas dengan kedua tanganku. Hanya seberkas sinar dari relung hati yang kian redup karena lemahku kini ku punya. Andai kau mau meneraginya untukku.
Ya… kini mulai lembaran baru, ketika kawan bercerita betapa seringnya engkau dahulu menatap perbedaan. Padahal bukan perbedaan yang membuat kita jauh, karena demikianlah Allah mempertemukan dua hati dalam taman indah dengan sejuta rumpun bunga yang berbeda jenis dan warnanya. “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa di sisi Allah.” (QS al-Hujurat [49]:13).
Ketahuilah, persahabatan ini bukanlah karena wajah atau warna kulit, bukan pula harta atau banyaknya bawahan. Ketahuilah, persahabatan ini karena cintamu pada Allah dan aku pun demikian. Ketahuilah, karena hati yang mulai kau bangun dengan keimananlah persahabatan ini bermula. Semoga janji di kemudian hari kan kita raih bersama. “Bahwasanya Allah berfirman pada hari kiamat “Dimanakah orang-orang yang saling mengasihi dengan keagunganKu, maka pada hari ini aku menaungi mereka di bawah naunganku di mana pada hari ini tidak ada naungan kecuali naunganKu” (HR. Muslim)
Kini telah terlampau jauh kapal berlayar. Saat langit kian mendung menutup biru di ujung surya. Ketika itu engkau mulai bertanya. Mungkinkah semuanya dapat kembali. Mungkinkah benang yang kusut dapat dirajut. Tenanglah, bersamaku mari melukis pelangi. Itu janjiku.
Serambi Madinah, 9 Sya’ban 1434 H
Menanti kabar tentangmu. Untuk sahabatku, semoga muqobalahnya berbuah keberkahan, cita-cita yang tercapai, ilmu yang bermanfaat. Hingga kelak engkau telah sampai pada negeri impian, jangan lupakan aku di setiap lirih doamu.


Senin, Juni 17, 2013
Abu 'Abdillah

Posted in: 
0 komentar:
Posting Komentar