Makhluk Jenius. Begitulah gambaran yang terlintas dibenakku ketika ditanya tentang mereka. Bukan karena senyawa baru yang berhasil disintesisnya. Atau perangkat canggih yang baru selesai dirangkai. Bukan pula karena goresan tintanya yang mulai banyak dilirik sejuta pasang mata. Namun, karena satu senyuman seribu kehangatan sejuta kenangan. Dahulu hingga kini.
Sesaat ketika jeda sejenak. Melihat kejeniusan mereka bertingkah. Entah dari mana memulai namun akhirnya mengalir bersama mengejar pelangi di sudut bumi. Episode keindahan itu. Bersama menjemput kenangan sebab kejeniusan yang menghilangkan segala ke-galau-an. Sedikit dari sekian banyak yang mungkin sempat terekam olehku. Andai saja waktu dapat disimpan dalam saku.
Sering pekerjaan menumpuk, agenda antri menunggu, program sudah harus dilaksanakan, padahal waktu ‘enggan’ untuk menunggu membuat mereka pusing tidak karuan. Sering, di antara mereka atau seluruhnya menggaruk kepala ‘mengacak-acak’ rambut yang sudah tersisir rapi sebelumnya. Sering, ketika semuanya sudah memuncak keluhan itupun keluar. Menghilang tanpa jejak dari dirinya yang dahulu ku kenal. Tapi itu tidak lama! Setelahnya mereka kembali dengan tertunduk, tersipu malu, bukan padaku tapi pada Allah tentunya. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 13)
Karena ulahnya aku memahami, “Dunia begitu hina untuk membuat kita mengeluh. Sebab di sini Allah masih memberikan nikmatnya.” Kejeniusan mereka pertama.
Bekerja dalam satu team memang sedikit-banyak menyita perasaan. Kadang kala pemahaman berada di simpang jalan, berbelok dan tidak searah. Kadang kala pandangan tidak saling menatap. Kadang kala mereka berontak dan akhirnya menghilang sekali lagi dari dirinya yang dahulu ku kenal. Tapi lagi-lagi itu tidak lama! Setelahnya mereka kembali dengan tertunduk tersipu malu, bukan padaku, tapi pada Allah semata, “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10)
Kejeniusannya kedua mengajarkanku rumus baku, “Kebersamaan dan ukhuwah adalah yang utama, karenanya perbedaan bukan membuat kita berpecah, justru ia yang membuat kita semakin dekat. Sebab pelangi itu indah justru karena perbedaan warna-warnanya.”
Mengajak pada kebenaran memang tidak mudah. Ratusan orang di luar sana melirik pekerjaan mulia ini dengan tatapan sinis dan tidak menyenangkan. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang mencibir. Bagaimana dengan makhluk jenius ini? Merekapun tidak lolos dari cibiran tersebut. Usahanya yang semakin mendapat tantangan sering menekan hatinya yang kian rapuh. Semakin tertekan hingga pada akhirnya mereka menghilang untuk kesekian kalinya dari diri mereka yang dahulu ku kenal. Tapi kembali itu tidak lama! Setelahnya mereka kembali dengan tertunduk, tersipu malu, bukan karenaku, tapi karena Allah yang Maha Rahman, “Berpegang teguhlah kepadanya dan suruhlah kaummu berpegang kepadanya dengan sebaik-baiknya. Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang fasik.” (QS. Al-A’raaf: 145)
“Mencari kemudahan dalam dakwah ialah sebuah ke-mustahil-an. Semuanya membutuhkan kesabaran, sebab Allah tidak menyuruh hambaNya untuk ikhlas melainkan ikut kesungguhan bersamanya.” Kejeniusannya yang ketiga mengenalkanku pada dunia yang sebenarnya. “Jannah itu mahal, akhi!” tambahnya.
Rehat sejenak dari aktivitas yang kian memadat membuatku mengambil sebuah keputusan. Banyak dari lembaran episode mereka lalui tanpa kehadiranku. Ku kira mereka melemah, namun ternyata mereka justru semakin kuat. Menapak sejarah membangun peradaban. Menggoreskan nama dengan tinta emas dan aku tidak berada di sana. Kini bukan lagi mereka, aku kembali dengan tertunduk, tersipu malu, pada Allah juga pada mereka, “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. An-Nahl: 18)
Kata mereka, “Tidak ada waktu bersantai. Bagi seorang mukmin tempat beristirahat adalah saat ketika kaki telah menapak di syurga.” Sambutannya menampakkan kejeniusannya yang keempat. Sebelum semuanya usai, mereka kembali datang dan berkata, “Kali ini Allah mengistirahtkan kita sejenak, bukan untuk terlambat tapi untuk menyusun kembali hati yang sudah terkoyak. Tenang, kapal belum beranjak dari dermaga.” Telah lengkap lima kejeniusan ini.
Serambi Madinah, 4 Sya’ban 1434 H
Kala mentari sembunyi di balik peraduannya. Untuk ikhwah FK2PI, teruslah berjuang membangun peradaban. Kelak kan terukir dalam sejarah sebuah perjuangan, semangat, dan ukhuwah yang tak lekang oleh waktu.


Rabu, Juni 12, 2013
Abu 'Abdillah

Posted in: 
0 komentar:
Posting Komentar