Hitam Manis

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa di sisi Allah.” (QS al-Hujurat [49]:13)

Kawan, Allah telah memenuhi bumi ini dengan manusia bersuku-suku, bentuk rupa dan warna kulit mereka berbeda antara satu dan yang lainnya. Tentu ada tujuan mulia dari penciptaan ini, yang pasti bukan untuk berbangga-bangga dan saling merendahkan, sebab setiap desah nafas yang keluar dari rongga hidung, Allah peruntukkan hanya pada kebaikan, andai saja semua manusia mau memikirkannya.

So… tidak perlu galau dengan bentuk rupa kita, toh kita tidak pernah memintanya sewaktu di rahim ibu dahulu. Pun tidak perlu gusar mendengar caci dan hinaan dari orang yang “mungkin” secara fisik lebih sempurna dibanding kita, sebab dengan keadaannya yang seperti itu belum menjamin ia lebih baik dari hati kita yang ikhlas dan sabar menanti rahmat Allah. Tersenyumlah, sebab berkas sinar di wajahmu enggan meredup.“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. az-Zumar: 10)


Bergembiralah dengan janji Allah. Lisan hambaNya yang paling mulia telah menyampaikan kabar gembira untukmu, “Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa paras dan harta benda kamu, tetapi Allah hanya memandang kepada niat hati dan amalan-amalan kamu.” (HR. Muslim). Sebab Allah tidak memuliakan hambanya lewat bentuk fisiknya, untuk apa bersedih kawan?

“(Dialah Allah) yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2). Hidup sejatinya adalah ujian. Namun Allah dengan Maha Pengasihnya menegaskan hanya ‘yang terbaik’ amalannya yang mendapatkan kebahagiaan hakiki. Hanya ‘yang terbaik’ amalannya yang mampu melihat keindahan semu dunia dan zuhud padanya. Hanya ‘yang terbaik’ amalannya yang mampu membawa panji kebenaran dalam setiap langkah kakinya. Dan hanya ‘yang terbaik’ amalannya yang mampu melihat potensi di setiap kekurangan dirinya. Kawan, bersyukurlah.

Masih ingatkah dengan bilal bin rabah? Sahabat berkulit hitam yang di mata orang-orang quraisy ia hanya budak hitam yang tidak berharga. Siapa sangka ialah yang pertama kali mengumandangkan adzan di bumi ini. Ialah muadzin Rasulullah bersuara emas. Atau ingatkah dengan betis Abdullah bin Mas’ud yang kecil, kala orang-orang sontak menertawakannya, Rasulullah justru memujinya dengan berita pahala yang lebih berat dari gunung uhud. Hingga usamah bin zaid yang riwayatnya berkulit hitam dan berhidung ‘pesek’ pun lebih utama di mata Rasulullah dari sebagian sahabat. Ialah yang terkenal sahabat “kesayangan, putra kesayangan.”

Kawan, di mana kita bisa menyimpan keluhan dan kesedihan di lembar-lembar kehidupan mereka. Bersyukurlah. Teruslah berkarya sebab Allah mencari amalan yang terbaik bukan rupa yang terbaik. Sebab hingga kini aku belum pernah mendengar panggilan “putih manis” yang ada “hitam manis.”



Serambi Madinah, 21 Sya’ban 1434 H
Untuk Si Hitam Manis, tersenyumlah! Bias-bias cahaya itu masih bersinar, mengapa tidak kau tiupkan air agar terpancar olehnya pelangi yang indah?

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons