Untuk setiap nafas yang terengah
Untuk setiap langkah yang berat tertatih
Untuk setiap goresan luka tak sekadar darah
Untuk setiap jiwa yang pasrah
Untuk setiap kata yang terangkai di lidah
Sadarlah… Pilihan ini adalah awal yang terindah
Mungkin berat…
Sakit…
Pahit…
Tapi… Tidakkah kau tahu itu hanya sesaat?
Lalu untuk apa kau berjalan di derasnya cucuran hujan?
Merenungi setiap duri yang menantang
Melihat yang lain tenang berpangku tangan
Tertidur lelap di kelalaian tak berujung
Sementara diri jatuh bangun dalam perjuangan
Lupakah engkau dengan sang pemilik suara merdu
Yang tersiksa di atas deraan padang pasir dan bongkahan batu
Lalu di mana kau simpan lembaran sang dermawan
Yang syahidnya ia temui di atas dipan
Atau pemilik hati lembut berhias iman
Yang melihat istananya saat tombak melukai badan
Siksaan adalah hidupnya
Cacian adalah makanannya
Terasing adalah pekerjaannya
Lelah, letih, luka adalah hal yang biasa
Tidakkah cukup bagimu atas pengorbanan mereka
Lalu untuk apa wahai pejuang?
Kelak cahaya ini kan bersinar
Ia kan menerangi setiap lembah
Karena ia tak butuh badan yang kekar
Tidak pula harta yang melimpah
Ia hanya butuh pejuang sejati
Pejuang yang melihat dengan kebijaksanaan
Pejuang yang berbicara lewat kelembutan
Pejuang yang berpijak dengan kekuatan
Pejuang yang berselimutkan kesahajaan
Pejuang yang berjalan di atas keistiqomahan
Pejuang yang bernafas dengan kesyukuran
Pejuang yang berkalungkan kewibawaan
Pejuang yang bermahkotakan kebaikan
Pejuang yang tidak memperdulikan banyak persangkaan
Pejuang yang bercitakan tegaknya panji kejayaan
Pejuang yang menanggalkan kesombongan
Sebab ia tak butuh nama
Hari ini… mungkin kau belum sadar
Tapi di sudut sana kan kau temukan
Hati yang tunduk pada ketataan
Bukan sekadar raga yang berjalan
*Di sudut mushollah mendengar irama rahmat Allah yang membasahi bumi, 10/12/12


Senin, Desember 10, 2012
Abu 'Abdillah

Posted in: 
0 komentar:
Posting Komentar