
Hidup bahagia adalah impian bagi setiap manusia. Telah menjadi cita-cita setiap insan yang terlahir di dunia ini untuk mencari kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan. Bahkan berapapun harga yang harus dikeluarkan, sebesar apapun pengorbanannya, mereka rela untuk bisa mencapai tangga syurga dunia.
Tidak ada yang salah, sebab bagitulah tabiat manusia. Hidup enak tanpa beban hidup. Namun sayangnya, sebagian dari kita salah dalam menafsirkan kebahagiaan hidup itu. Hal yang penting dan harus untuk kita tanamkan dalam benak kita bahwa hidup bahagia tidak berarti kaya akan materi atau ketenaran yang luar biasa. Sebab bahagia itu letaknya di hati bukan pada materi. Seseorang dikatakan bahagia ketika hati ini telah ridho menerima setiap yang ditakdirkan untuk kita. Bahagia berarti hati telah tenang dan menggantungkan semuanya pada Allah yang Maha Pemberi Rezeki. Bukankah Allah telah memuji hamba-hambanya yang beriman,
”Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surge-Ku.”
Iman dan Amal Shaleh
Syarat pertama yang harus dipenuhi oleh setiap jiwa yang merindukan hidup bahagia ialah keimanan yang sempurna dan amal yang shaleh.
”Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. An-Nahl [16]: 97)
Dari ayat ini Allah telah menegaskan, bahwa siapa saja yang beriman kemudian mengerjakan amal shale, baik ia laki-laki maupun wanita, maka sungguh apa yang telah ia kerjakan tersebut tidak akan disia-siakan oleh Allah. Maka beramallah maka Insya Allah hidup akan bahagia bahkan lebih dari itu.
Berdzikir
Ibadah yang satu ini telah kita bahas pada artikel sebelumnya. Namun hal yang ingin kami tegaskan ialah dzikir tidak hanya letaknya di bibir tapi ia akan menenangkan hati bagi setiap orang yang mengamalkannya. Allah telah berfirman dalam kitabnya yang mulia,
”Orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar Ra’d [13]: 28)
Menundukkan pandangan
Sebuah prinsip hidup yang sangat mudah dan manjur untuk menjadikan hidup kita jadi lebih bahagia adalah melihat segala sesuatunya di bawah dari apa yang telah Allah karuniakan untuk kita. Jika kita merasa kita adalah manusia yang sangat miskin, maka yakinlah di tempat lain masih ada yang jauh lebih miskin dari kita. Lihat dan perhatikanlah. Jika kita merasa gagal dalam sebuah pelajaran, maka ketahuilah bahwa ilmuwan dulu harus menempuh kegagalan hingga ribuan kali hanya untuk menemukan bohlam lampu. Jika kita merasa ini dan itu, maka lihatlah di sekeliling kita, maka pasti kita akan menemukan seseorang yang mungkin lebih kurang beruntung dibanding kita, lalu pantaskah kita untuk kufur (tidak mensyukuri) apa yang telah Allah berikan.
Jangan pernah membandingkan diri kita dengan yang di atas kita dalam hal dunia. Kenapa? Sebab ketahuilah kawanku sekiranya dunia ini lebih berharga dari satu sayap lalat maka pasti Allah tidak akan pernah memberikan minum kepada mereka yang kafir yang tidak beriman kepada Allah. So Take It Easy…
Yang lalu, biarlah berlalu
Ketahuilah wahai kawanku, bahwa tidak ada gunanya lagi kita membuka masa lalu. Hari ini ialah hari milik kita. untuk apa kita hidup dilorong-lorong kelam masa lalu, untuk apa lagi menungkit masa lalu, mengenangnya dan bersedih atas semua musibah yang telah terjadi.
Masa lalu bagi seorang yang telah mengikrarkan keimanannya sudah tidak pantas lagi untuk dibaca kembali. Sudah sepantasnya catatan suram itu digulung, dibungkus rapi, dikubur dalam-dalam hingga tidak ada lagi celah untuk cahaya masuk.
Wahai kawanku, mengenang kembali masa lalu hanya membuang-buang waktu kita, hanya menghancurkan usaha yang telah kita rintis selama ini, hanya meleburkan potensi kita selama ini untuk bangkit. Bukankah Allah telah berfirman,
”Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan…” (QS. Al Baqarah [2]: 141)
Maafkan
Dunia adalah sebuah panggung sandiwara. Akan ada masalah dan kesulitan yang siap menghinggapi para pelakonnya. Namun jika hati telah ridha dalam menerima semua itu, maka kata maaf menjadi kata yang paling pantas diucapkan untuk setiap orang yang berbuat kesalahan kepada kita. Kenapa tidak? Allah telah menyanjung bahkan menyandingkan mereka yang pemaaf dengan hamba-hambanya yang dermawan.
”Orang-orang yang menafkahkan, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
(QS. Ali Imran [3]: 134)
So… apalagi yang menahan kita untuk memaafkan kasalahan-kesalahan saudara-saudara kita kepada kita? Sungguh tidak ada lagi yang dapat menghalangi kita kecuali kesombongan. Padamkan cepat perasaan itu sebelum ia memakan dirimu dan menjauhkanmu dari orang-orang yang seharusnya mencintaimu.
Pikirkan dan Syukuri
”…Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, maka niscaya kalian tidak dapat menghitungnya…”
(QS. Ibrahim [14]: 34)
Kawanku… seharusnya kita malu ketika membaca penggalan ayat di atas. Masih pantaskah kita kufur kepada Allah, berburuk sangka pada takdir Allah, sementara begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan ”GRATIS” kepada kita. Masihkah pantas lidah ini berat untuk mengucapkan syukur sementara udara yang kita hirup setiap detiknya, makanan yang masuk, air yang menghilangkan dahaga, kekuatan fisik, air susu sejak kita bayi, dan begitu banyak nikmat lainnya yang tak seorangpun di dunia, sekalipun ia ilmuwan yang sangat pintar, tak mampu menghitung berapa jumlah nikmat-nikmat itu. Dan semunya Allah berikan tanpa dibayar sepeserpun…
So… jika kita menginginkan hidup bahagia, gampang… ikut saja tips di atas, dijamin hidup bahagia Insya Allah…


Sabtu, April 23, 2011
Abu 'Abdillah
Posted in: 
0 komentar:
Posting Komentar